Oleh: mukidi | Desember 30, 2016

Remaja Berwirausaha Mengembangkan Potensi Diri

Darah muda penuh dengan semangat, dan sa’atnya juga untuk mengembangkan diri dengan banyak potensi. Terkait dengan semangat muda itu kopi mukidi mengadakan kegiatan untuk memberikan pengalaman tentang kewirausahaan kepada remaja desa.

Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 12 Desember 2016, bertempat di rumah kopi mukidi, Jambon Gandurejo Bulu dengan tema membangun kemandirian diri. Kegiatan yang diikuti 16 orang itu yang masih duduk dibangku sekolah menengah baik SMA/SMK.

Mukidi selaku owner dari kopi mukidi memberikan paparan dengan konsep petani mandiri dan aktivitas yang telah dilakukannya. Tidak hanya itu penulis mengajak untuk menggali potensi desa dan potensi diri yang bisa dikembangkan, tentu harus mulai dari sedikit.

Usai paparan dari penulis terjadi diskusi, bahkan remaja itu membentuk sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri. Mereka membuat kesepakatan bikin agenda pertemuan rutin dengan berbagai kegiatan tentunya. Kegiatan yang digagas mulai dari mengolah hasil pertanian, pelatihan jurnalistik, pelatihan potografi dan lainnya.

Perlu sebuah dukungan dari banyak pihak tentunya ketika kegiatan remaja itu akan berjalan. Banyak dibutuhkan dari orang orang yang ingin terlibat sesuai denga keahlian masing masing.

Iklan
Oleh: mukidi | November 30, 2016

Glapansari Dan Kopal

Kopal kopi alpokat begitu karena kopi tumbuh dengan naungan pohon alpokat, sehingga mempunyai aroma alpokat begitu penjelasan salah satu anggota kelompok tani dari Desa Glapansari. Desa Glapansari masuk wilayah Kecamatan Parakan, sebuah kebanggaan kopi mukidi diundang Kepala Desa untuk memberikan motivasi kelompok terkait dengan kemandirian kelompok.

Tepatnya tanggal 29 Nopember 2016, bertempat di balai desa, penulis menjelaskan bagaimana petani agar meningkat hasilnya. Penulis mencoba menyampaikan konsep kemandirian bertani, mulai dari olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas jadi produk, dan pemasaran.

Keempat langkah itu harus dilakukan ketika ingin mendapatkan nilai lebih, tentunya tidak segampang yang dibayangkan. Semua melalui proses, kekuatan dalam menjalankan proses panjang itu yang akan berhasil meningkat kesejahteraannya. Usai paparan tentang konsep kemandirian terjadi diskusi panjang mulai menghitung peningkatan ketika kopi dijual gelondong sampai siap seduh. Cara menghitung dan muncul angka sebagai bentuk membangun mimpi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Sambil diskusi panjang juga praktek menggunakan mesin espresso, dan tak lupa terimakasih juga kepada Disperindagkop atas pinjaman mesinnya. Dari penggunaan mesin sehingga petani paham ternyata kopinya juga bisa sebanding kenikmatannya dengan kopi lainnya.

Ada pertanyaan dari peserta, Apakah kalau mau berusaha harus punya alat seperti itu? penulis mencoba menjelaskan mulai dari yang kecil, kopi mukidi mulai dari kecil dari 100.000 rupiah. Mulai dan konsisten dan berani promosi. Bentuk promosi yang sederhana adalah melalu media sosial dalam bentuk facebook, maupun lainnya.

Atau ketika bisa kerjasama dengan desa, atau kelompok yang ada di desa, ketika kelompok lain punya hajat bisa menggunakan kopi yang diproduksi kelompok. Mungkin juga bisa ketika ada acara rutin desa harus minum kopi yang diproduksi oleh kelompok. Itu salah satu bentuk promosi yang sederhana, jelas mukidi selaku owner kopi mukidi.

Paparan yang dimulai dari jam 12.15 wib dan berakhir sampai jam 15.45 wib mendapat respon baik. Itu terlihat tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan dan tandanya mereka mempunyai mimpi dan ingin membuktikan sebuah kemandirian dan berdampak kesejahteraan.

Kopi alpokat begitu kepala desa menyebutnya, dan bisa didapatkan disini saja, sambil menyebut Desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Tak lupa penulis juga mengucap terimakasih dan semoga bisa membangun kerjasama berkelanjutkan, dan salam petani mandiri, menata lingkungan dan ekonomi.

Oleh: mukidi | November 21, 2016

Kopi Ekonomi Produktif Dan Pernikahan Dini

Belum lama penulis kedatangan tamu dari UPT Badan Keluarga Pemberdayaan Perempuan Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung. Maksud kedatangannya tak lain untuk mengurangi pernikahan dini, dengan usaha produktif.

“kita punya program untuk mengurangi pernikahan dini, salah satu kegiatannya remaja usia dibawah 25 tahun. Bagaimana dia mempunyai kegiatan ekonomi berbasis lingkungan setempat seperti pertanian maupun peternakan. Kita sudah kaji ternyata untuk wilayah setempat kopi mempunyai peluang yang luar biasa. Ini menjadi pilihan kami sebagai bentuk kegiatan untuk usaha produktif,” kata Muhammad Asyiq,S.Ag selaku UPT BKBPP Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung.

Apa yang dikatakan pak Asyig mendapat jodoh, karena penulis selaku owner kopi mukidi mempunyai program sosial untuk Kelompok baik kelompok tani dan remaja, sekolah dan pesantren. e e e sambil guyonan ma’af pak Asyig tahu saya dari man? Dia menjawab dari Sarwadi Muncar.

Penulis juga perlu jelaskan bahwa Sarwadi adalah petani dari Muncar yang sudah mulai proses produksi kopi, mulai dari paska panen sampai jadi bubuk, dan memasarkannya. Diskusi berlanjut menentukan waktu saya berkenan membagikan pengalaman bagi remaja, dan disepakati hari minggu tanggal 20 November 2016.

Tepatnya jam 14.00 wib, kemarin 20 November 2016 kegiatan diskusi itu benar dilakukan. Saya sempat terkejut ternyata pesertanya remaja semua, dari tingkat pendidikan ada yang masih kuliah.

Saya sampaikanĀ  aktivitas saya tentang konsep petani mandiri, dan kopi Temanggung. Saya mencoba menghitungkan dengan kopi ketika dijual Gelondong, berasan sampai jadi minuman siap seduh. Peserta semua terkejut dengan nilai tambah yang luar biasa.

Angka itu adalah proses membangun mimpi, lalu bagaimana itu mendapatkan nilai itu tak lain kita harus berani mulai. Dalam diskusi juga banyak pertanyaan mulai bagaimana penulis hadapi tantangan dan strategi pasar. Penulis mencoba menjelaskan semuanya, usai diskusi dilanjutkan praktek sangrai kopi dan menyajikan kopi yang dipandu oleh Sarwadi dari Muncar Gemawang.

Sarwadi menjelaskan teknik sangrai kopi dengan alat buatan dari Temanggung. Mulai dari kapasitas alat sampai tingkat kematangan kopi. Ternyata Sarwadi juga sudah mahir dan hasil sangrainya luar biasa.

Rentetan acara usai setelah icip kopi dan berakhir dengan acara sesi poto bareng tiap kelompok. Selamat menikmati kopi Temanggung dan mengembangkan jadi wirausaha muda sebagai kegiatan mengurangi pernikahan dini. Syukur sebelum menikah sudah punya usaha semua , semangat dan kegiatan akan dilanjut untuk kunjungan ke kelompok tiap desa, nunggu kesepakatan jadwal, antara penulis, UPT BKBPP dan Kelompok Remaja.

 

Oleh: mukidi | November 5, 2016

Berbagi Kemandirian,Membangun Kekuatan Ekonomi.

Pagi hari tepatnya, rabu 3 November 2016, rombongan dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Kediri Jawa Timur sampai di Rumah Kopi Mukidi. Rombangan yang berjumlah 13 orang terdiri dari petani dan BKP3, setelah ditemui oleh owner kopi mukidi (penulis).

Pimpinan rombongan menyampaikan maksud dan tujuannya, untuk ngasuh kawruh terkait dengan perkopian atau apa yang dilakukan penulis. Serta memperkenalkan satu persatu dari peserta yang hadir.

Usai perkenalan penulis mencoba sampaikan bahwa usaha itu adalah karena konsep ideologis kemandirian yang sering disebut konsep petani mandiri. Penulis mencoba menjelaskan untuk meningkatkan kesejahteraan dilahan sempit bagaimana bisa meningkat pendapatannya.

Olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas jadi produk dan pemasaran. Penulis menjelaskan ketika itu dilakukan oleh petani maka nilai tambah akan meningkat sangat sinigfikan. Namun penulis menambah itu perlu sebuah konsistensi dan jangan takut godaan. Menurut penulis godaan yang paling hebat adalah godaan internal dan lingkungan terdekat.

Tidak cukup diskusi selanjutnya mencoba icip icip kopi dari olahan rumah kopi mukidi. Dari hasil diskusi dan icip kopi nampaknya menambah suana semakin semangat ketika muncul banyak pertanyaan. Penulis mencoba menghitung peningkatan pendapatan dari hasil jual kopi gelondong sampai siap seduh. Peningkatan pendapatan itu mencoba membangun mimpi kemandirian nilai ekonomi, kuncinya konsisten dan kuat diproses.

Semoga mimpi berbagi itu bisa memberikan motivasi bagi sedulur tani dari Kediri Jawa Timur. Serta ini bukan akhir untuk ketemu tapi awal untuk membangun kemandirian ekonomi, salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

 

Oleh: mukidi | Oktober 21, 2016

Perjalanan dan Berbagi

Beberapa minggu atau bulan yang lalu penulis berbagi cerita, di beberapa kota. Yogyakarta, Semarang dan di Wilayah Jawa Barat. Tentunya perjalanan berbagi pengalaman ini sebagai ajang untuk saling belajar.

poto diambil dari akmad irvan Riyadi

Memahami kekurangan diri itulah sebuah hal untuk mau belajar, sehingga akan menambah banyak pengalaman. Di Yogyakarta tepatnya di Kedai Kebun penulis datang ke sana atas undangan panitia yang di komando pak tri agus, diskusi terkait sebuah kemandirian petani.

Kemandirian atau penulis sebut Petani Mandiri, bagaimana petani dari hulu sampai ke hilir berperan. Penulis mencoba untuk mengimplementasi sebuah mimpi besar sekaligus memberi contoh. Mulai dari olah lahan hingga sampai produk dan pasar, Pola contoh ini tidak sekedar bicara.

Diskusi yang dihadiri dari berbagai kalangan mahasiswa dan pemilik cafe tersebut terjadi umban balik. Mulai bagaimana menyelamatkan tanah agar tidak tergerus erosi permukaan tanahnya hingga nikmatnya secangkir kopi.

Setelah dari Jogja meluncur ke Jawa barat tepatnya di Kuningan. Penulis sampai ke sana atas undangan dariĀ Okky.

Acara di Jawa barat ini lebih banyak dihadiri petani dan barista. Diskusi menarik sampai pada icip kopi dari semua peserta yang bawa kopi.

 

Oleh: mukidi | Agustus 14, 2016

Potensi Itu Di Desa

poto diambil dari focebook fitriyati irawati

Begitu mendengar tentang desa, maka banyak fikiran yang timbul, mulai dari terpencilnya hingga sampai dana desanya. Dari keterpencilnya itu tersembunyi sebuah potensi luar biasa. Tentunya potensi itu juga macam-macam tinggal dari sisi mana melihatnya.

Awal munculnya sebuah potensi itu karena banyaknya bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang sehingga keluar sebuah gagasan. Gagasan kecil ketika direalisasikan itu akan mengeluarkan ide besar yang pasti akan menghasilkan kekuatan bagi desa hingga muncul nilai ekonomi.

Namun kekuatan menjalankan hingga keluar nilai ekonomi itu perlu perjalannya banyak. Jalan panjang berliku mungkin itu sebuah ungkapan yang sering keluar dari banyak orang. Konsistensi mengelola sebuah potensi kecil itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Contoh kecil cerita hasil pertanian biar mempunyai nilai yang lebih itu satu pekerjaan yang harus diselesaikan. Banyak yang cerita orang aneh, tidak punya kerjaan dan lainnya. Karena masih banyak yang melihat bukan dari konsep awal, tapi melihat dari sisi ekonomi. Lalu Bagaimana untuk membuktikannya itulah jalan panjang berliku.

Cerita potensi dan gagasan kecil itu bisa disosialisasikan dengan siapa yang ketemu. Kemampuan untuk bercerita itu butuh sebuah keberanian. Intinya ada potensi yang tersimpan dan keberanian menyampaikan kepada pihak lain. Mungkin ini dulu ah cerita nya bisa disambung lagi, ini lagi ada tamu ha ha ha ha

Oleh: mukidi | Juli 15, 2016

Lebaran dengan Secangkir Kopi Temanggung

jepretan Emi fa

Tepatnya di Dusun Jambon Gandurejo Rumah kopi mukidi sebuah rumah kecil jauh dari keramaian perkotaan. Masuk wilayah Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung Jawa tengah. Lebaran banyak yang mudik, bahkan sa’at mereka akan kembali bekerja kembali harus mencari oleh oleh dari daerah setempat.

Kopi Temanggung merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Temanggung. Tidak sebatas produk unggulan saja,namun Kopi Temanggung sudah mendapat nama dikontes perkopian baik nasional maupun internasional. Begitu juga banyak masyarakat Temanggung yang telah mengolah kopi jadi produk yang dikemas. Bahkan menyulap rumahnya jadi kedai kopi ataupun warung kopi seperti rumah kopi mukidi.

Rumah kopi mukidi sa’at lebaran banyak dikunjungi tamu mulai H+1 ada yang sekedar ingin icip kopi dari arabika lereng Gunung Sumbing yang barusan terbang ke Amerika. Silih berganti tamu bagi penulis merupakan berkah dan berbagi cerita tentang kopi. Tak lupa penulis juga berbagi cerita tentang kemandirian petani.

Cerita -cerita kemandirian dan secangkir kopi kepada tamunya penulis selalu tularkan, sesuai dengan filosofinya “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”. Bahkan syawalan pun penulis masih kedatangan tamu untuk berbagi pengalaman olah kopi. Beberapa petani Glapansari dan anggota Himpunan Tani bagaimana petani biar bisa mandiri dan mampu bersaing. Penulis mencoba sudah sa’atnya membangun kekuatan dan kebersamaan.

Diskusi diskusi kecil itu sambil diselingi canda dan tawa, tak lupa secangkir Kopi Temanggung sebagai penghangat suana ha ha ha ha.

 

 

Oleh: mukidi | Juni 21, 2016

Membangun Jejaring dan Pasar Online

jempretan deden

Tepatnya minggu, 19 Juni 2016, jam 15.30 wib,rumah kopi mukidi menjadi tempat untuk bertemu dan berdiskusi tentang sebuah kemandirian pertanian. Menurut penulis yang sekaligus juga pengagas konsep petani mandiri, “bahwa petani itu bisa meningkat kesejahteraannya dengan lahan sempit, ketika menerapkan 4 tahap, “jelasnya.

“olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas di lahan mulai dari komoditas harian, bulanan dan tahunan, membuat sebuah produk dari komoditas tersebut dan memasarkannya,”paparnya.

Penulis temukan bahwa petani baru pada tahap 1 dan 2 yaitu olah lahan dan komoditas. Langkah selanjutnya petani harus bergabung untuk membuat kekuatan yang mandiri, dan baru dibentuk belum lama oleh penulis selaku inisiator dengan nama himpunan tani.

Penulis mencoba menjelaskan tentang tahapan itu dihadapan peserta yang hadir dalam diskusi. Adapun peserta dari Desa Wonotirto ada perangkat desa dan pengurus kelompok tani, begitu juga dari Desa Gandurejo. Hadir juga ada salah satu perangkat desa dari Desa Tegallurung Kecamatan Bulu.

Diskusi santai itu sambil melihat film dokumenter tentang, penulis dan kopi serta mimpinya untuk mewujudkan wisata kopi dan budaya. Paparan mulai dari bagaimana nanti bisa melibatkan semua pihak, mulai dari rumah penduduk setempat jadi homestay. Bahkan mencoba menjelaskan tentang organisasi dan kaderisasi, intinya semua itu terletak bagaimana memasarkan, dan promosi.

Materi kedua diisi oleh dobelden yang mencoba menjelaskan tentang pasar online. “Pasar online itu bisa pakai facebook atau media lainnya, bahkan bisa pakai pelapak online yang sudah disediakan oleh pihak lain,”jelasnya.

“terkait dengan produk bisa dari olahan hasil pertanian, seperti yang dilakukan oleh @kopimukidi yang dipunyai mukidi itu menjual olahan hasil perkebunan,”tambahnya.

Hadir juga tamu dari Jogja sekaligus penulis meminta untuk mengisi diskusi Irman Ariadi bersama temannya. Kang irman begitu panggilannya mencoba menjelaskan dan bikin ketawa “bahwa sekarang ini orang lebih percaya dengan mesin ketimbang manusia, contohnya mereka lebih percaya dengan map buatan manusia,”paparnya.

Diskusi menjelang buka puasa itu semakin asyik ketika terjadi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan dari peserta. Mulai dari membuat kemasan yang baik,bikin blog, dan lainnya. Nampaknya masyarakat desa dan perlu diajak untuk mengembangkan potensi yang ada diwilayah setempat. Tak lain salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi itulah jargon petani mandiri.

 

 

jepretan klimin jazz

Kunjungan beberapa petani dari Sarongge Cianjur Jawa Barat pada bulan lalu tepatnya, 26 sampai 29 Mei 2016. Kunjungan yang rencana 4 orang untuk melihat dari dekat tentang omah kopi mukidi dan tentang kopi dari budidaya sampai pada sangrai kopi.

Kunjungan itu menginap di rumah Bapak Maryadi penduduk Dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Malam Pertama kunjungan diskusi dengan beberapa petani mulai dari semai kopi. Baik semai dari biji maupun anakan kopi atau cabutan. Diskusi itu terdiri dari tuan rumah dan anaknya, 3 petani dari Dusun Kwadungan dan 3 petani dari Sarongge, serta penulis sendiri.

Diskusi kecil ini berlangsung kurang lebih 2 jam, berlangsung dengan banyak pertanyaan. Mulai dari kelebihan dan kekurangannya dengan 2 macam antara dari cabutan dan biji. Tentunya diskusi saling mengisi sesama petani semakin asyik, namun karena waktu semakin malam, penulis minta pamit untuk pulang ke omah kopi mukidi di Jambon Gandurejo.

Pagi hari acara melanjutkan ke kebon milik pak Maryadi yang merupakan tanaman kopi robusta didataran tinggi dipadukan dengan tanaman semusim. Robusta dataran tinggi memang hasilnya tidak bisa maksimal, pasti akan mempunyai cita rasa yang beda dan mutu yang beda juga. Dilahan ini melihat bagaimana perawatan kopi, penyakit kopi dan hama yang sering ditemukan.

Malam hari diskusi lagi tentang proses kopi usai panen. Penjelasan proses natural dan lainnya. Diskusi ini semakin banyak pesertanya, ada juga beberapa petani tua dan muda mengikutinya. DiskusiĀ  seperti biasa berlangsung kurang lebih 2 jam.

Kunjungan pagi hari usai makan ke lahan penulis yang ketinggiannya 1457 dpl, ini seru karena diskusi ini semakin menarik. Pertanyaan yang aneh muncul kenapa pilih lahan yang curam dan curang seperti ini, pertanyaan itu muncul dari pak mustofa salah satu petani dari Sarongge. Penulis mencoba menjelaskan ingin bikin sejarah, dan konservasi lahan. Sejarah itu tidak bisa dinilai dengan uang dan akan dikenang selama-lamanya jelas saya.

Kunjungan berikutnya ke kebon kopi punya pak Paidi yang mempunyai 2000 batang, dan lahan mas Wahyu Widodo. Lelah berkunjung ke kebon kebon kopi sehingga malamnya tidak ada diskusi yang ditentukan, tapi ada materi diskusi dengan petani lainnya.

Pagi harinya sebelum pulang belajar tentang sangrai kopi di omah kopi mukidi. Mulai mengenal biji kopi yang akan disangrai, alat sangrai, suhu masuk biji dan ketika kopi matang. Mereka mencatat dengan cermat dan kata pak sofian dan kang dudung karena harus menularkan yang didapat di Temanggung untuk di Sarongge. Akhirnya penulis ucapkan terimakasih kunjungan dan selamat berkarya di Sarongge semoga membawa manfaat untuk semuanya.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori