Oleh: mukidi | Januari 26, 2017

Menelusuri lembah Ke Kebun Kopi Mukidi

16325925_1717207778304826_1282025264_oSore tepatnya hari Selasa, rumah kopi mukidi yang terletak di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung Kedatangan anak-anak muda yang masih kuliah di Jogyakarta.

Mereka datang katanya hanya ingin ngopi, setelah dibuatkan sambil menikmati kopi terjadi diskusi banyak soal kopi. Mulai dari karakteristik kopi hingga konsep petani mandiri. Cerita cerita itu membuat beberapa mahasiswa yang datang semakin penasaran tentang kopi. Semakin ingin tahu lebih detail, mungkin ini penulis bisa bilang “secangkir kopi ada cerita banyak saudara penuh cinta” ha ha ha

Atau mungkin ini lah “cerita cinta kopi mukidi ” ha ha ha serentak canda tawa itu muncul dari mahasiswa yang diskusi dan ditemani secangkir kopi mukidi. Cerita kemandirian petani penulis mencoba menjelaskan mulai olah lahan sampai pemasaran. Konsep itu sebuah pola contoh, tidak hanya wacana semu imbuh penulis.

Beberapa mahasiswa semakin penasaran dan ingin banyak tahu tentang kebon kopi. Saya tunjukan poto curug dan tebing yang terpajang di tembok jadi hiasan di Rumah Kopi mukidi. Wo begitu indahnya itulah bukti kekaguman dari mahasiswa diwujudkan dalam ekspresi wajah dan ucapannya.

Mereka mengajak ke Kebon dan saya sanggupi untuk pagi hari, dan usai meeting ya begitu jawab saya. Mereka sepakat dan janjian pagi harinya untuk datang kembali dan berjalan menelusuri lembah kopi mukidi.

Pagi harinya tepatnya Rabu 25 Januari 2017, mereka setia menunggu sampai usai penulis diskusi di Rumah kopi Mukidi. Begitu antusiasnya mereka untuk melihat dan menelusuri lembah menuju kebon Kopi Mukidi, sampai sampai bawa bekal untuk sarapan pagi.

Usai sarapan melanjutkan perjalanan menuju kebon kopi mukidi yang dari lokasi produksi kurang lebih sekitar 3 Km dengan ketinggian kebon 1457 m dpl. Perjalanan dengan mobil sampai batas jalan aspal di atas dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Mobil parkir di persimpangan antara kwadungan Glapansari.

Dari persimpangan tersebut sambil bawa bibit kopi beberapa biji berjalan dan menikmati indahnya lembah pengunungan lereng Sumbing. Perjalanan sambil cerita tentang beberapa komoditas yang dilihat merupakan pelajaran dan mengenali aneka komoditas yang ditanami petani.

Tak terasa diskusi kecil itu mengantarkan sampai ke kebon kopi mukidi. Suasana kabut dan gerimis membuat dingin dan harus berteduh di gubuk di lokasi kebun kopi. Hujan tak kunjung reda, karena kwatir tidak akan reda sampai sore kami harus menentukan sikap menerobos hujan setelah semua barang elektronik sudah dipastikan dikemas dalam plastik.

Basah kuyup tak membuat beberapa mahasiswa itu kalah dan menyerah, mereka bersemangat untuk menuju tempat parkir mobil yang dari lokasi kebun sekitar 1 km. Sampai lokasi mobil ternyata harus dorong karena mobil selep.

Cerita cerita di dalam mobil semakin seru karena basah kuyup. Sampai rumah kopi mukidi ada yang berani mandi karena bawa baju ganti, dan yang tidak bawa baju ganti menunggu kaos yang dipakai kering.

Masih diskusi sampai sore di rumah kopi mukidi sebelum lanjutkan pulang Jogja, bahkan ada yang buat kopi sendiri. Itulah cerita cinta kopi mukidi ha ha ha ha

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: