Oleh: mukidi | Juni 7, 2016

Belajar Bersama, Antar Petani Temanggung dan Sarongge

jepretan klimin jazz

Kunjungan beberapa petani dari Sarongge Cianjur Jawa Barat pada bulan lalu tepatnya, 26 sampai 29 Mei 2016. Kunjungan yang rencana 4 orang untuk melihat dari dekat tentang omah kopi mukidi dan tentang kopi dari budidaya sampai pada sangrai kopi.

Kunjungan itu menginap di rumah Bapak Maryadi penduduk Dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Malam Pertama kunjungan diskusi dengan beberapa petani mulai dari semai kopi. Baik semai dari biji maupun anakan kopi atau cabutan. Diskusi itu terdiri dari tuan rumah dan anaknya, 3 petani dari Dusun Kwadungan dan 3 petani dari Sarongge, serta penulis sendiri.

Diskusi kecil ini berlangsung kurang lebih 2 jam, berlangsung dengan banyak pertanyaan. Mulai dari kelebihan dan kekurangannya dengan 2 macam antara dari cabutan dan biji. Tentunya diskusi saling mengisi sesama petani semakin asyik, namun karena waktu semakin malam, penulis minta pamit untuk pulang ke omah kopi mukidi di Jambon Gandurejo.

Pagi hari acara melanjutkan ke kebon milik pak Maryadi yang merupakan tanaman kopi robusta didataran tinggi dipadukan dengan tanaman semusim. Robusta dataran tinggi memang hasilnya tidak bisa maksimal, pasti akan mempunyai cita rasa yang beda dan mutu yang beda juga. Dilahan ini melihat bagaimana perawatan kopi, penyakit kopi dan hama yang sering ditemukan.

Malam hari diskusi lagi tentang proses kopi usai panen. Penjelasan proses natural dan lainnya. Diskusi ini semakin banyak pesertanya, ada juga beberapa petani tua dan muda mengikutinya. DiskusiĀ  seperti biasa berlangsung kurang lebih 2 jam.

Kunjungan pagi hari usai makan ke lahan penulis yang ketinggiannya 1457 dpl, ini seru karena diskusi ini semakin menarik. Pertanyaan yang aneh muncul kenapa pilih lahan yang curam dan curang seperti ini, pertanyaan itu muncul dari pak mustofa salah satu petani dari Sarongge. Penulis mencoba menjelaskan ingin bikin sejarah, dan konservasi lahan. Sejarah itu tidak bisa dinilai dengan uang dan akan dikenang selama-lamanya jelas saya.

Kunjungan berikutnya ke kebon kopi punya pak Paidi yang mempunyai 2000 batang, dan lahan mas Wahyu Widodo. Lelah berkunjung ke kebon kebon kopi sehingga malamnya tidak ada diskusi yang ditentukan, tapi ada materi diskusi dengan petani lainnya.

Pagi harinya sebelum pulang belajar tentang sangrai kopi di omah kopi mukidi. Mulai mengenal biji kopi yang akan disangrai, alat sangrai, suhu masuk biji dan ketika kopi matang. Mereka mencatat dengan cermat dan kata pak sofian dan kang dudung karena harus menularkan yang didapat di Temanggung untuk di Sarongge. Akhirnya penulis ucapkan terimakasih kunjungan dan selamat berkarya di Sarongge semoga membawa manfaat untuk semuanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: