Oleh: mukidi | Februari 29, 2016

Menuju Tunggilis Sarongge

tunggilisPerjalanan menuju ke Sarongge dan Tunggilis ada cerita, tentunya sampai kesana tak luput dari pak Tosca santoso Awal cerita ketemu beliau Dia pernah berkunjung ke #umahkopimukidi. Dia mendampingi petani Sarongge yang menanam sayuran organik dan sekarang membagikan bibit tanaman kopi dengan programnya adopsi pohon.

Membagikan pohon kopi bagi yang minat untuk menanam sebagai upaya untuk penyelamatan lahan dari tingkat erosi begitu jelasnya. Tak lama pak Tosca begitu orang memanggilnya memesan alat roasting dari Mukidi dan mengundangnya untuk berbagi cara roasting di rumahnya Serpong Tangerang Selatan.

Perjalannya menuju ke Serpong dengan mas Dobelden tepatnya tanggal 11 Pebruari 2016 tujuan pertama rumah beliau pak Tosca. Pagi 12 Pebruari2016 sampai juga ke wilayah Serpong e e e ternyata salah turun ha ha ha ha, untung beliau mas Dobelden yang tukang IT langsung mainkan GPS ketemu juga lokasi tujuan, walaupun sempat ganti angkut 3 kali ha ha ha.

Hampir dekat dengan rumah pak Tosca e e e beliau kontak, akhirnya di jemput jadilah diskusi menarik sekilas berputar putar diangkot ha ha ha. Istirahat di Pak Tosca sampai menjelang sholat Jum’at dan usai Sholat jum’at mulai diskusi kecil dan sangrai kopi.

Kelas roasting kecil itu ada beberapa orang teman pak Tosca hadir juga. Saya mencoba menjelaskan tentang kapasitas alat roasting dan sistim kerjanya. Melangkah selanjutnya teknik penggunaan alat dan fungsinya. Sangrai kopi Temanggung dimulai, namun begitu sudah ada bunyi kopi pecah sebagai pertanda mulai matang kopi e e e tempat untuk biji kopi sangrai belum ada. Pepatah tidak ada rotan akar pun jadi, terpakai juga. Nampan plastik dipakai untuk wadah kopi sangrai, karena tidak bisa dibolak balik ada kopi semakin tua warnanya.

Akhirnya pindah ke lantai dan dikasih alas kertas untuk menyelamatkannya. Begitu kopi sudah dingin dicoba untuk dicupping dan dianalisa hasilnya. Mulai dari kopi yang diambil sempel dari kopi bunyi pecah, trus mengambil sempel ke dua dan berikutnya ke tiga sampai pada kopi yang keluar semua. Aneka aroma dan test semua beda itulah saya sebut karakter kopi sesuai dengan profil sangrainya.

Obrolan itu sampai sore, bahkan sampai kami bertiga masih ngobrol seputar kopi sampai jelang makan malam. Bahkan pak Tosca bilang besuk kita harus meluncur pagi jam 5, karena perjalan ke Tunggilis dan mampir ke Lokasi untuk penanaman pohon dengan menteri lingkungan hidup.

Dilokasi untuk penanaman pohon yang akan dikerjakan pada minggu pagi itu saya bisa bertemu dengan teman-teman pak Tosca. Usai dari lokasi langsung menuju Tunggilis dan diskusi dengan beberapa petani disana, tepatnya 14.00 wib petani mulai berdatangan ke tempat pertemuan.

Pak RT setempat membuka pertemuan dan dilanjut ke pak Tosca memberikan pengantar seputar tentang kehadiran saya di Tunggilis. Saya memulai memperkenalkan diri, dan bercerita awal tentang konsep petani mandiri sampai pada produk kopi.

Usai paparan konsep itu terjadilah cerita yang menarik, bahkan diskusi tentang iklim yang beda antara Temanggung dan Tunggilis. Saya mencoba menjelaskan bahwa petani dikita ini sudah pintar dan paham dengan peta wilayah. Dengan kepahaman wilayah maka dia lebih bisa akan berinovasi cara mengatasi tentang perubahan iklim.

Diskusi ditemani secangkir kopimukidi, jadi tambah asyik apalagi hujan menguyur Tunggilis waktu itu. Usai diskusi namun hujan tetap masih turun, kami harus melanjutkan perjalanan ke Sarongge. Sampailah di Sawung Sarongge, saya pernah mendengar cerita Sarongge dan melihat di TV e e e ternyata sekarang sampai disini begitu kesan pertama.

Tak sempat diskusi karena lelah kami langsung istirahat. Pagi hari kami bagi tugas Pak Tosca bersama tim ke lokasi untuk acara dengan menteri lingkungan hidup dan saya bersama tim menuju taman nasional Sarongge. Diskusi menarik sambil berjalan tak lain adalah tentang strowbery, karena itul pemandangan yang terlihat.

Sambil Sawung di taman nasional kami duduk sejenak dan diskusi tak lama takut hujan turun. Kami bersama rombongan pulang menuju Sawung Sarongge, e e e belum lama hujan turun sambil menikmati bakso Cianjur. Begitulah cerita tentang Sarongge…….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: