Oleh: mukidi | Agustus 19, 2015

Tulisan ini ada di RBM (Ruang Belajar Masyarakat) Kabupaten Temanggung

PETANI MANDIRI MENATA LINGKUNGAN DAN EKONOMI

Mukidi (petani,yang menerapkan konsep kemandirian)

Hilangnya anak muda untuk bertani, bukan tanpa alasan mereka masih memandang bahwa petani itu miskin dan kumuh. Pemandangan itu mereka lihat tiap hari terhadap orang tua mereka.

Siapa yang salah? Ini pertanyaan yang harus dicari jawabannya, tidak menyalahkan siapa-siapa, mari bersama-sama intropeksi agar bisa mencari j11866431_1482148735412376_1974440502789381232_nawaban yang tepat. Sehingga mereka mau bertani dengan benar dengan hasil yang besar.

Sebagai anak petani penulis mencoba membuang anggapan bahwa petani itu miskin dan kumuh. Bahkan penulis mempunyai anggapan petani itu kaya, dan bersih. Tentunya sah – sah saja ketika bermimpi bukan.

Persoalan yang ditemukan penulis tentang kenapa tidak mau jadi petani ada beberapa, hilangnya semangat bertani, kepemilikan lahan, pengkaderan, bahkan pasar tak kalah penting. Dari beberapa persoalan tadi merupakan modal utama dan lebih penting dibandingkan dengan modal finansial.

Semangat Bertani

Semangat ini merupakan pikiran yang harus ada pada anak petani, namun apa yang terjadi. Menumbuhkan semangat bertani ini hilang, terbukti ketika penulis sering berdiskusi dengan anak SMK Pertanian ketika ditanya apakah mau jadi petani? Satu pun tidak ada yang menjawab, alasannya sederhana tidak punya lahan dan kotor.

Mari kita lihat kebelakang, bagaimana dengan orang tua kita ketika memberikan semangat kepada anaknya. Dia (baca orang tua kita) selalu bilang “ojo koyo aku rekoso, sesuk dadi pegawai wae yoo”. Kata-kata itu wajar biar tidak seperti orang tuanya, namun pendapat penulis ini merupakan hal yang menghilangkan petani-petani muda.

Penulis masih teringat ketika jaman sekolah dasar ditanya mau jadi apa, jawaban orang sukses. Namun pada kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP), penulis selalu melontarkan cita-cita dengan jadilah petani yang berdasi.

Bukan tanpa alasan cita-cita itu muncul, hampir ketika libur sekolah waktu itu penulis sering ke ladang dengan orang tua. Hal itu membuat penulis berfikir bagaimana bertani tapi beda dengan orang tua. Beda olah lahan, beda cara budidaya, sampai beda cari permodalan.

Bagi penulis seharusnya anak petani setelah sekolah dan kembali ke desa menekuni pertanian hasilnya akan lebih. Kenapa ? Secara keilmuan dia lebih dari bapaknya, bukan begitukah?.

Namun kenyataannya beda mereka bertani masih mengikuti jejak orang tuanya. Bahkan ketika mencari permodalan masih sama dengan sistim ngelimolasi, ini menjadi bumerang sehingga ada anggapan sekolah tidak berguna.

Mereka tidak mempunyai mimpi untuk merubah pola bertani dengan baik dan benar. Semangat mereka hilang, bagaimana menumbuhkannya harus ada bertemu dan ada sang motivator sekaligus pelaku tidak hanya berteori saja.

Pengkaderan

Generasi penerus petani ini sangat penting, jangan sampai negeri agraris ini kehilangan kader tani. Pengkaderan ini bisa dimulai dengan proses pembelajaran. Proses belajar bersama bisa masuk pendidikan formal melalui SMK Pertanian.

Pembelajaran non formal bisa mendirikan kursus kilat tentang pertanian, atau diskusi-diskusi kecil pada kelompok tani maupun di sekolah melalui kegiatan ekstrakulikulernya.

Pengkaderan ini penting namun yang lebih penting adalah guru yang membimbing harus pelaku. Artinya seorang yang mau membuat kader penerus petani memang pelaku pertanian. Dia harus paham tentang olah tanah, budidaya, olah hasil serta mampu dalam pasar pertanian.

Kenapa dalam membuat kader sering gagal? Ini yang harus dicari jawabannya. Sang motivator atau guru bukan pelaku, mereka hanya sekedar berteori. Padahal masyarakat selalu melihat bahwa teori sangat jauh dengan prakteknya.

Kelompok – kelompok yang ada juga melihat tentang bukti, mulai dari sumber mereka hidup. Kalau sang motivator itu hidup dari gaji yang sumbernya tidak dari bertani jelas ini akan menurunkan tingkat kepercayaannya dihadapan petani.

Sang motivator harus kuat secara finansial, ini rial sekali dan menjadi tolak ukur bagi masyarakat. Secerdas apapun, namun kekuatan finansialnya lemah masyarakat pedesaan pada umumnya memandang sebelah mata.

Motivator bagi petani dalam memciptakan kader harus mampu secara finansial, dan hasilnya tersebut dari bertani tidak menggantungkan gaji bulanan baru pertani akan percaya.

Selama ini kader – kader muda tani selalu diberi harapan oleh motivator pertanian dengan mencari bantuan. Inilah yang membuat gagal dalam menciptakan kader tani, mereka menghilangkan kemampuan internal kader.

Seharusnya sang motivator harus menumpuhkan kemampuan bagi kader tani untuk tumbuh mandiri sekecil apapun. Kemandirian dari mulai berfikir menggunakan segala kemampuan yang ada dan kebersamaan dalam kelompok.

Kepemilikan Lahan Sempit

Ini sering menjadi alasan tidak maunya bertani, dan menjadi anggapan bahwa lahan sempit sehingga petani itu miskin. Hal ini merupakan tantang bagi pemuda tani, bagaimana dengan lahan sempit namun bisa menghasilkan lebih.

Sempit lahan bagi petani mandiri membuat berfikir bagaimana mengolah lahan yang sesuai kaedah konservasi. Olah lahan sesuai kaedah konservasi ini akan mengurangi terkikisnya lahan subur oleh air hujan. Artinya ini juga mengurangi erosi permukaan tanah.

Bagi petani mandiri selalu berfikir bagaimana pada lahan sempit juga menghasilkan lebih banyak. Tentunya komoditas bertanian yang bervariatif dilahan. Komoditas pertanian yang menghasilkan tahunan, bulanan dan harian ini yang harus ada.

Komoditas yang menghasilkan tahunan jelas sekali ini tanaman keras. Tananam ini berfungsi untuk mengikat tanah ketika terjadi hujan. Sekaligus sebagai penyerap air hujan. Tanaman keras ini akan menghasilkan tiap tahun dan mempunyai nilai ekologinya.

Tanaman semusim merupakan penghasil bulanan, dan penguat teras bisa denga tanaman yang nantinya bisa menghasilkan harian. Inilah strategi menyelamatkan pendapatan petani, selama ini mereka lupa dengan lahan sempit dengan hasil maksimal.

Olah Hasil Pertanian

Petani mandiri harus mampu dan mau mengolah hasil pertanian jadi produk pertanian. Mungkin ini sangat sulit dan dibutuhkan keberanian sendiri. Namun ini harus dilakukan ketika ingin memberikan nilai tambah dari hasil pertanian.

Apa yang dilihat penulis masih banyak mereka menjual langsung produk mentah ke pasar. Padahal produk mentah itu bisa diolah jadi aneka cemilan yang bisa mempunyai nilai tambah 100 persen. Mungkin keahlian membuat produk olahan hasil pertanian belum mereka dapatkan, atau mereka tidak mau mengolahnya.

Petani mandiri harus memberi contoh mengolah hasil pertanian dari lahannya sendiri jadi sebuah produk. Inilah yang namanya pola contoh, tidak sekedar berwacana.

Pola contah adalah mengajak sekaligus berbuat, jangan sampai dikatakan jaskoni (biso ngajak ora iso ngelokoni). Kebanyakan masih melakukan jaskoni, sehingga sangat banyak petani yang tidak mau melakukan yang mengajak.

Pola contoh ini ketika membuahkan hasil, pasti tidak usah harus mengajak. Karena semua orang sekitar melihat bahwa yang dilakukan itu menghasilkan dari sisi finansial dan meningkatkan kesejahteraan keluarga pasti lainnya akan mengikutinya.

Kemampuan Memasarkan

Kemandirian petani tidak sekedar membuat produk jadi dengan kemasan yang menarik. Namun kemampuan memasarkan hasil pertanian merupakan ujung tombak dari olah produk pertanian. Ini seharus dilakukan oleh generasi petani yang lulusan SMA/SMK.

Pola pikir penulis sederhana, kenapa ini harus dilakukan oleh anak penerus petani. Karena anak-anak petani lulusan SMA/SMK jelas tidak mau ketika diajari untuk bertani dengan berbasis lahan. Bertani berbasis lahan selain hasilnya menunggu lama, juga ego gengsi masih menonjol karena anak muda.

Usaha pertanian non lahan salah satunya adalah wirausaha pertanian. Ini merupakah profesi yang harus ditekuni sehingga petani tidak hanya sebatas membuat produk, namun bisa menjualnya.

Mari kita lihat kelompok tani – kelompok tani yang ada, sejauh temuan penulis bahwa anggota selalu yang mempunyai lahan pertanian. Orang desa yang tidak punya lahan tidak diajak untuk berkelompok tani. Pertanyaan penulis sederhana, ketika mereka baru panen hasil pertanian siapakah yang akan memasar?.

Tentunya ketika terjadi lonjakan hasil panen yang harus dipasarkan membutuhkan orang yang tidak mempunyai lahan untuk memasarkan hasil panen. Bisa jadi anak – anak petani yang lulus SMK/SMA untuk memasarkannya.

Bila lulusan SMA/SMK sebagai tenaga pemasaran sangatlah mungkin secara ilmu menjual barang sudah mendapatkan pengalaman di sekolah. Tidak hanya itu dari sisi finansial anak sekarang lebih senang mendapat hasil yang cepat, artinya didunia pasar ada sirkulasi keuangan tiap hari.

Faktor ekonomi yang rutin ini akan menumbuhkan semangat kepada generasi penerus petani untuk mengeluti wirausaha pertanian. Keprihatinan dalam wirausaha pertanian lebih pendek ketimbang pada budidaya pertanian. Sebagai petani tua seharusnya mengarahkan untuk belajar tentang wirausaha pertanian.

Kekuatan Ekonomi Mandiri

Pasar ini ketika sudah berjalan bisa menjadi penghasilan harian, bahkan akan menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri. Kekuatan ekonomi mandiri intinya mengumpulkan modal dari kemampuan dari masing – masing petani.

Ekonomi mandiri ini bisa dirintis dengan mengumpulkan simpanan masing – masing petani. Kumpulan simpanan setiap petani bisa menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Kuncinya adalah pemahaman bersama tentang pentingnya membangun kekuatan ekonomi mandiri.

Belakang memang sudah banyak terbentuk koperasi, namun riil dilapangan masih banyak yang tidak mengakomodir kepetingan anggotanya. Mereka banyak pinjam uang tapi lemah dalam menyimpannya, sehingga tidak berjalannya koperasi. Sehingga berlaku kalau pinjam memakai jaminan berupa sertifikat ataupun BPKB.

Dalam ekonomi mandiri ditekankan semua anggota harus menabung sekaligus peminjam. Bentuk jaminan ketika anggota meminjam adalah besarnya tabungan, artinya pinjaman tidak boleh melebihi dari jumlah tabungan.

Ketika banyak anggota yang pinjam dan menabung maka sudah tentu akan semakin maju kekuatan ekomomi mandiri. Dalam hal jasa pinjaman jelas seuai kesepakatan anggota dan tidak memberatkan.

Kesimpulan

Konsep kemandirian petani sangatlah sederhana, bagaimana petani bisa mengolah lahannya dengan baik dan benar. Olah lahan disini tentunya yang sesuai dengan aturan yang benar. Membuat tanah semakin sehat tentunya akan bisa menambah kesuburan tanah.

Bagaimana berpola tanam pada lahan yang sempit namun bisa menghasilkan lebih. Tentunya aneka jenis tanaman mulai dari hasil tahunan, bulanan dan harian dipadukan.

Tidak berhenti disitu saja kemampuan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual dan bersaing di pasar harus dilakukannya. Kemampuan memasarkan produk olahan pertanian menjadi ujung akhir.

Serta membuat kekuatan ekonomi mandiri dari kumpulan beberapa petani harus diwujudkan. Kekuatan ekonomi mandiri ini akan bisa mengatasi atau bisa menjadi dana talangan ketika terjadi panen jelek serta dapat untuk menambah permodalah untuk wirausaha pertanian.

Proses tahapan ini harus dilalui dengan semangat dan pantang menyerah dengan penuh keyakinan. Ketekunan kuncinya akan bisa mewujudkan mimpi petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

Mukidi.

Petani asli putra Desa Wonotirto Bulu, Domisili Desa Gandurejo Bulu

Senang berkegiatan dengan petani

alamat blog: https://mukidi.wordpress.com

salah satu nominator liputan6 award SCTV tahun 2013 videonya bisa dilihat di http://video.liputan6.com/main/read/20/1134142/0/liputan6-pagi-02-05-2013-klip-6

alamat facebook: https://www.facebook.com/rizal.mukidi

alamat twitter : @mukidi5758

alamat email : mukidi5758@yahoo.com , mukidi5758@gmail.com

hp : 081 227 973 978, 087 834 080 977

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: