Oleh: mukidi | Mei 15, 2013

Kelompok Tani Mandiri

DSC_0000365Kemarin siang pulang dari kebun sambil diskusi dengan 2 petani dari Muncar Gemawang tentang kemandirian kelompok. Berbagai kelompok yang ada mulai dari kelompok tani, darwis, atau kelompok lainnya. Mereka mengeluh tentang macetnya kelompok, banyak dan mau kumpul disa’at ada pertemuan dan mendapatkan uang duduk, namun hari berikutnya, hingga bulan berikutnya tidak ada kegiatan lagi.

Lebih tragis lagi ketika kelompok atau sebagian kecil orang mau maju, ada perangkat desa yang bilang kemajon (melompati) wewenang jabatan perangkat desa menurut perangkat desa tersebut. Lucunya lagi kelompok tani yang sekarang ada harus ada surat keterangan dari pemerintah desa atau dinas terkait, karena ini akan berhubungan dengan dana bantuan.

Artinya dari awal pembentukan sebenarnya sudah salah, dalam berkelompok tidak ada tujuan untuk mendapatkan surat pengakuan atau bantuan ha ha ha, ini si jawaban penulis. Sehingga pola pikir awal ini sudah menjadi salah dan membuahkan asumsi kepada petani bahwa berkelompok untuk dapat bantuan, bukan untuk kemandirian dan menguatkan posisi tawar.

Diskusi kemandirian kelompok ini tidak selesai bahkan di rumah juga tambah peserta pemuda desa yang juga berminat dan bergelut dengan pertanian. Selalu berfikir bahwa petani miskin bahkan semua pejabat mulai dari terendah hingga pejabat eselon menganggap sama. Pola pikir ini yang penulis anggap akan melemahkan petani, dalam bahasa jawa ora ono sing ngalembono artinya tidak ada orang yang memuji petani sehingga petani jadi bangga. Namun penulis selalu bilang dan menyakinkan bahwa petani itu kaya, karena mempunyai aset walaupun kecil.

DSC_0000366Penulis selalu mengajak dengan petani yang hanya memiliki tanah kalau dibuat rata-rata cuma 2,5 ha, harus menganggap bahwa tanah itu aset petani. Ketika petani berfikir ini merupakan aset maka dia harus berfikir sebagai perusahaan artinya petani seorang pengusaha. Mungkin fikiran penulis dianggap aneh, tidak realistis namun ini salah satu strategi untuk membangkitkan kemandirian dan kemampuan yang ada pada seorang petani.

Kelompok tidak harus banyak dan harus mendapatkan bantuan, dengan semangat mandiri, menggunakan segala kemampuan yang ada pasti akan bisa. Sederhana semua petani mempunyai bahan baku untuk pupuk organik namun justru pupuk organik beli dari luar. ini salah satu kelemahan, bagi penulis petani diarahkan kenapa tidak bikin sendiri, karena teknologi bisa dipelajari kalau kita mau. Kalau kita bisa bikin pupuk dan kandungan sesuai dengan apa yang dibutuhkan tanaman, pasti akan bisa bersaing dengan pupuk pabrikan. Penulis bilang kepada beberapa petani yang kumpul dan diskusi  di rumah penulis sambil minum KOPI JOWO produksi penulis, ini yang namanya agrobisnis pertanian pupuk bisa dipakai sendiri. Kalau ada lebihnya bisa dijual, salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

Iklan

Responses

  1. Kang cari kisah-kisah nyata dilapangan para petani yang kaya (dengan lahan kecil tentunya bukan tanah yang berhektar-hektar) dan kupas rahasianya, biar jadi acuan bagi para petani minimal orang yang baca blog ini dan keluarganya petani.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: