Oleh: mukidi | Oktober 6, 2012

Kemarau,Kebakaran Hutan, dan Hujan

Kemarau lama bagi banyak orang tentunya membuat gelisah, tak kecuali bagi ku seorang anak petani. Aku ingin meneruskan tentang pertanian namun dengan tanaman beda dengan orang tua maupun wilayah setempatku. Lereng Sumbing Sindoro identik dengan Tembakau srintil, dari jaman dulu sudah terkenal dan harganya sangat mahal, sampai ratusan ribu per kilonya.

Konon tembakau satu kilo sudah bisa buat beli mas berapa gram, atau mungkin kalau satu keranjang bisa mendapatkan perhiasan mas hingga kg. Luas biasa cerita sesepuh jaman tembakau jaya, bahkan bangunan rumah permanen lereng Sumbing Sindoro hasil dari kejayaan tembakau. Kemarau memang diharapkan ketinggi panen tembakau untuk mendapatkan tingkat kekeringan baik, dan tentunya harganya akan tinggi.

Tahun 2012 mungkin cerita pahit bagi petani tembakau, kalau tahun sebelumnya harga tinggi, namun sekarang harga jatuh. Kenapa dan mengapa? itu yang aku tidak tahu. Hal ini harus dicari tahu, hingga ketemu. Bisa menemukan akar permasalahan itu jawaban orang yang pintar, namun aku sekedar wong ndeso jadi cuma mendengarkan cerita petani saja.

Biasanya untuk mengurangi melamun karena tembakau harganya jatuh petani beraktivitas ke lahan. Kemarau panjang bagi petani tegalan Lereng Sumbing Sindoro sudah jelas tidak bisa berbuat apa-apa, menanam tentunya tidak bisa karena belum hujan. Sebagian orang petani yang semangat tidak mau hanya merenungi harga tembakau jatuh, mulai membersihkan lahan untuk persiapan budidaya tanaman lain setelah datang hujan.

Kebakaran hutan bagi sebagian petani merupakan pertanda akan munculnya hujan, mungkin ini mitos namun juga ada benarnya. Orang pintar bahwa kebakaran ditimbulkan oleh gesekan rumput atau ranting yang terlalu kering, benar dan salahnya saya kurang tahu. Bisa juga atau orang bikin arang di hutan, hingga menyebabkan kebakaran. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa namun kebakaran hutan jelas merugikan semuanya?

Hujan itu sudah datang walaupun baru satu kali sejak pertengah juli 2012 di Lereng Sumbing, namun semua petani terlihat riang karena datangnya berkah untuk bisa menanam lagi. Menanam satu komuditas yang sama ini selalu dilakukan petani lereng Sumbing maupun Sindoro. Saya selalu berfikir bahwa generasi penerus petani harus membuat trobosan baru dengan jenis tanaman yang lain. Atau mungkin memadukan tanaman musiman bisa tembakau, cabai, atau lainnya dengan tanaman tahunan bisa kopi, durian monthong atau lainnya.

Sebagai generasi penerus petani yang hanya mempunyai secuil tanah, aku coba kopi arabika terpadu dengan tembakau. Walaupun tembakau bukan untuk saya karena ada yang menggarap lahan milik ku, tembakau untuk petani penggarap, hasil kopi untuk saya. Tanpa ada sewa tanah sedikit pun, bagiku bagaimana itu semua bisa berhasil. ada juga yang aku selingi dengan durian monthong, baik kopi maupun durian daunnya banyak yang kering karena kurang air. Namun sekarang hujan datang, jadi berkah untuk semuanya, bagi alam, manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Aku yakin bertani ketika di hitung, manajemen yang benar dan kuat sabar menunggu hasil pasti akan mengalahkan semuanya. Terakhir bagaimana petani tidak kalah, semua kebutuhan harus dipenuhi sendiri, hingga petani harus menguasai pasar pasti petani akan semakin jaya. Komuditas apapun petani harus kuasai pasar, salam petani dan majulah petani, dan petani apapun harus bersatu hidup petani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: