Oleh: mukidi | September 6, 2011

Merana Arabika Dalam Sumbing Sindoro

Kopi Arabika merupakan kopi yang hidup didataran tinggi, termasuk di dalam hutan lindung Sumbing Sindoro ( SuSi ). Kopi Susi penulis menyebutnya, ditanam sekitar tahun 2001, namun karena kebijakan di Perhutani dirubah, sehingga kopi tersebut tidak dirawat dengan baik.

Kebijakan gebrus jalur kerjasama perhutani dan Pemda, pembukaan lahan lindung untuk tanaman palawija pada tahun 1997, jadi tanaman musim tembakau, dan dilain sisi justru orang-orang yang punya duit untuk bisa mengerjakan lahan tersebut. Disisi lain secara ekologi kerusakan lahan semakin parah, air juga sulit waktu itu.

Tahun 2001 meluncur program PHBM didalam hutan lindung, masyarakat tidak boleh mengerjakan lahan dengan tanaman semusim. Namun diperbolehkan dengan tanaman keras, alternatif pilihan adalah kopi arabika. Karena masyarakat kurang begitu respon dengan kopi, sehingga asal tanam namun selalu berdampingan dengan tembakau.

melihat perkembangan seperti itu, perhutani juga mengambil kebijakan untuk menghentikan total tanaman semusim di hutan lindung. Tahun 2004 kebijakan itu diambil, dan masyarakat sekitar hutan lindung SuSI tidak masuk dan meninggalkan begitu saja kopi yang sudah ditanam.

Luasan ribuan hektar kopi arabika ditinggalkan begitu saja, belum lama penulis melihat ke lokasi ada sebagian yang dirawat, dan kebanyakan tidak dirawat. Namun ketika kopi mulai panen, jadilah rebutan hasil panen kerena tanaman kopi tidak berstatus.

Dari hasil diskusi dengan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, yaitu sebuah lembaga yang mengelola pangkuan desa hutan dan sudah   berbadan hukum. “masyarakat ada yang mau merawat dan sebagian besar tidak mau merawat, seharusnya perlu pendampingan kontiyu dari semua pihak, agar masyarakat mau merawat kopi yang sudah ditanam,” jelasnya.

Ketika Asper perhutani diajak diskusi oleh penulis sangat respon untuk perawatan kopi yang didalam hutan lindung, asal jangan sampai menanam tanaman semusim, cuma merawat kopi saja. Artinya bisa disimpulkan bahwa perhutani membolehkan masyarakat untuk merawat kopi SUSI, tergantung masyarakat setempat.

Berbicara pasar sudah terbuka lebar, harga  lumayan, bahkan pantau penulis harga kopi gelondong arabika merah sampai 5000 rupiah per kilo, kalau petani dilahan lindung memiliki tanaman 500 batang dengan per batang menghasilkan 4 kg, sudah berapa ton per panen. Apakah mereka tidak berfikir ketika menanam kopi, padahal sekarang tinggal panen dan merawat kok ditinggalkan yaaaa…. ayooooo dampingi petani untuk mengelola kopi dengan benar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: