Oleh: mukidi | Desember 7, 2010

Tabungan Pendidikan Dengan Pohon

Menamam itu menabung, dan ini menjadi slogan salah satu instansi Pemerintah. Namun dalam kenyataannya, apakah slogan itu berjalan? mudah-mudahan berjalan, tapi kalau tidak berjalan kenapa?. Ada yang beranggapan slogan tinggal slogan, seolah olah tidak mempunyai tanggungjawab moral.

Slogan harus dimulai dengan tekad, dan itu melekat pada manusia dalam instansi apapun. Slogan menanam itu menabung, bahkan ada lagi kecil menanam dewasa memanen, harusnya program tersebut bisa masuk ke sekolah. Ketika program itu sudah masuk ke sekolah, salah satu untuk merubah prilaku siswa, jadi senang dengan dunia tanam menanam adalah pola contoh guru.

Digugu lan ditiru, hendaknya selalu mengingatkan kepada semua guru dalam kegiatan sekolah. Artinya kegiatan sekecil apapun dalam sekolah, apalagi kegiatan yang bertema lingkungan, berhasil atau tidaknya program guru sangat berpengaruh.

Lalu bagaimana kita sebagai orang tua dalam menyiasati slogan-slogan yang hanya kadang hanya gincu bibir saja. Apakah membiarkan saja seolah tak tahu, atau menerjemahkan dengan bahasa kita yang mudah dipahami oleh semua pihak.

Menanam itu menabung terlihatnya sepele, tak ada beban ketika kita mengucapkannya. Begitu melihat lahan kritis yang ada, bahkan isu lingkungan yang marak terjadi. banjir, erosi bahkan tak kalah menarik pemanasan global. Siapakah yang menyebabkan itu, tak lain saudara-saudara kita, menebang pohon tak beraturan.

Apakah kita mau dikatakan tidak bermoral, seperti saudara yang menebang tidak beraturan. Ataukah seperti perusahaan yang tiap hari membutuhkan kayu 40 truk, tapi kalau diajak menanam nanti dulu. Tentunya kita akan bilang tidak.

Ketika kita mau beraktivitas menanam, hal yang akan kita dapatkan adalah udara, air, tentunya tak kalah penting mengurangi pemanasan global. Lalu bagaimana hubungannya dengan judul tulisan diatas, sederhana bagaimana kita bisa merancang dengan menanam tapi untuk kegiatan sekolah bagi anak-anak kita.

Bahkan bagi generasi muda pun sebenarnya sangat bisa, merancang menanam itu kegiatan dihari tua. Atau bagi orang tua menata tanaman untuk kegiatan sekolah anaknya, menanam dirancang pas panen ketika anak masuk sekolah. Menanam sengon misalnya, jenis pohon ini bisa dipanen pada umur 5 – 6 tahun, ketika anak masih berumur 1 tahun bisa menanam 10 pohon untuk persedian anak masuk Taman kanak- kanak. Begitu juga ketika anak mau masuk sekolah dasar, bisa dirancang dengan menanam pohon.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai lahan, pola bagi hasil atau kerjasama dengan petani yang mempunyai lahan. Atau usaha bersama untuk perbaikan lahan kritis sekaligus menjadi tabungan pendidikan. Kerjasama lingkungan yang saling menguntungkan ini jarang orang berfikir kesana.

Mungkin pola kerjasama ini akan bisa meningkatkan kesejahteraan petani, dan pada akhirnya juga pendidikan anak petani. Tentunya bila petani dan anak petani berpendidikan akan berfikir dalam mengelola lahan menjadi lebih baik. Lahan akan menjadi lebih hijau dengan hamparan pohon yang mempunyai nilai ekonomi, konservasi sekaligus tabungan pendidikan dari lingkungan.

Mahalnya kebutuhan sekolah mulai dari buku, uang jajan hingga transportasi. Semuanya perlu penataan terutama bagi petani – petani tegalan maupun petani daerah penghasil kopi. Pengalaman yang terlihat dilapangan bahwa ketika panen hasil pertanian, kadang dalam seketika itu semua dihabiskan tanpa berfikir panjang untuk kebutuhan jangka panjang.

Menata dan merubah pola fikir, menanam untuk tabungan pendidikan perlu kerja keras bagi semua pihak. Mulai dari instansi yang bergerak dalam dunia perkebunan, kehutanan dan pertanian, hingga tak kalah pentingnya instansi pendidikan atau sekolah. Bagaimana sekolah mengarahkan anak didiknya untuk menabung dari 100 rupiah sehari, dalam waktu satu bulan sudah bisa untuk membeli bibit sengon atau jabon yang siap tanam.

Artinya dalam waktu satu tahun anak sudah bisa menanam 10 hingga 12 batang pohon yang dalam 5 tahun kedepan bagi anak kelas satu SD, sudah bisa persiapan untuk masuk SLTP. Kalau tidak dimulai sekarang, atau kalau tidak dibiasakan sejak usia dini untuk memperkenalkan dengan menanam kapan lagi bisa menabung pohon, dan akhirnya akan jadi tabungan pendidikan. Tak lain selamatkan lingkungan dengan menanam pohon sekaligus merupakan alternatif tabungan pendidikan.

artikel ini dimuat di tabloid lontar Bulan November 2010

Lontar Tabloid Pendidikan dan umum

Iklan

Responses

  1. betul kang… berarti aku juga sdh punya tabungan, yach.. minimal 200san pohon kopi dan suren walaupun begitu kok masih banyak yg belum mau ikutan menabung…?? kenapa ya… kami kelompok tani 5758 ” maju mapan ” maksukte bukan nomer buntut lho… nek wis maju njor mapan uripe/ekonominye bener to…
    gimana kalau sekali2 mendatangkan profesor / orang penting lainnya ke kelompok kita biar rodo semangat ki petanine dw

  2. Salam kenal.
    Istilah kecil menanam dewasa memanen atau slogan menabung itu menanam diharapkan tidak hanya sebatas kegiatan seremonial saja yang kebanyakan dilakukan intansi terkait, tapi lebih dari itu program yang disosialisasikan betul-betul harus ada tindak lanjutnya.
    Saya sangan setuju dengan tulisan si akang ini, kalau proram tersebut bisa masuk ke sekolah, pasti tambah mantappp dunia pendidikan. setidaknya bakal makin bertambah orang yang mencintai lingkungan hidup (regenerasi)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: