Oleh: mukidi | Maret 21, 2010

Belajar sambil berjalan

Bertemu dengan banyak petani membuatku semakin banyak pengamalan. Petani ternyata juga banyak ilmu, namun petani tidak mau menulis. Kalau petani mau menulis tentunya akan bisa diturunkan ilmunya kepada anak-anaknya.

Ketika bertemu dengan remaja desa, sudah tidak minat untuk bertani, mereka berpendapat bahwa bertani itu malas, lahannya sempit. Terpikir dalam diriku, negara luar juga ada yang lahannya sempit tapi pertaniannya bisa maju, masalah apa yang ada pada putra dan petani kita.

Dalam diskusi di wilayah Desa Tlogopucang yang kebanyakan anggota kelompok taninya pemuda, mereka jarang bertemu untuk membahas masalah, saling belajar, atau mencoba jenis tanaman yang baru yang kemungkinan cocok untuk lahan disana. Ketika berangkat ke lahan saja juga sudah agak siang, inilah yang terjadi pada generasi penerus petani di desa kita.

Lalu siapa yang harus memberikan semangat, dan contoh pertanian yang baik, menghasilkan nilai tambah yang lebih. Disisi lain memang harus ada sektor industri pedesaan yang mengelola paska panen. lembaga pemerintah seharusnya menjadi ujung dalam memajukan petani-petani yang ada didesa, peran penyuluh lapangan juga berpengaruh terhadap kemajuan pertanian, lalu sudah berpengaruhkah perannya?

Tidak usah dijawab namun mari kita koreksi sendiri-sendiri, biar tidak ada kecurigaan. Tak lain pertanian tetap harus maju, dan betanipun juga harus belajar walaupun dengan berjalan.

Iklan

Responses

  1. Wow.. Seorang petani ya? Aku juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: