Oleh: mukidi | Desember 25, 2009

Belajar bertani, Petani Harus Belajar

Genap seminggu aku bermain ke Candiroto bertemu dengan Pak Suratman, memang dia bukan petani tulen. Dia PNS namun mendekati pesiun menggeluti dunia pertanian, “kalau saya perhatikan dari dulu sejak bertugas keliling di pedesaan saya perhatikan, sebenarnya pertanianlah yang bisa mencukupi kebutuhan hidup, makanya sekarang saya tekuni pertanian ketika pada hari libur,” jelas Suratman.

Apa yang dikatakan Ratman ternyata benar, di lahan pinggir sungai dan berkopi, nampak tempat pembuatan kompos. Komposter sederhana dengan buat lubang tanah ukuran panjang 3 meter, lebar 2 meter dengan kedalaman 1 meter, Dia isi dengan kotoran kamping, ayam dan hijauan daun. “hijauan daun itu aku minta masyarakat yang tidak dipergunakan,” tambahnya.

“Bagi saya yang penting belajar, dari siapa pun. Bagaimana kalau kita ingin maju, kelompok tidak jalan, selama ini kelompok hanya mencari pupuk saja. makanya saya harus memberi contoh, jangan ketergantungan dengan pupuk kimia, salah satunya saya bikin kompos,” papar Ratman.

Suratman yang tinggal di Winong Candiroto tidak hanya bertani kopi, namun juga bertani padi. Di sawahnya pinggir jalan puyang Candiroto terlihat baru menyiang padi, dibantu dengan tenaga kerjanya. “Tanah ini dulu saya beli, sekarang mau dibeli orang, tapi tidak mau dijual karena tanah harta yang tak ternilai harganya. Kuncinya petani itu sregep, jangan gampang tergiur oleh uang, terutama pembeli lahan dan mau belajar dari siapapun syukur kelompok punya perpustakaan” imbuhnya.

Itu obrolan dengan Pak Ratman, sungguh luar biasa kalau petani semuanya berfikir seperti Dia tentunya akan maju. Mau belajar apapun dari sumber manapun artinya tidak menunggu dari sumber dari dinas saja yang selama ini terkesan lambat dalam pelayanannya.

Terobosan baru memang perlu dikembangkan, sudah sa’atnya petani mempunyai media komunitasi sendiri. Bisa membangun jaringan dengan millist petani mungkin bagi petani yang sudah mampu berinternet, bahkan sampai menjual produknya langsung melalui internet.

Melihat kenyataan dilapangan petani masih menjual barang mentah saja, belum mengelolanya menjadi lebih mempunyai nilai jualnya. Kopi masih gelondongan, kayu juga belum ada yang berfikir diolah dengan kerajinan yang tentunya dengan sedikit kayu akan mempunyai nilai tambah yang lebih.

melihat semua itu siapa yang bertanggung jawab untuk memajukan petani kita. Tentunya kita semua yang mempunyai keperdulian kepada petani, dan petani pun juga jangan malas belajar, harus semangat memcari informasi seperti Pak Ratman. Semangat dan jangan putus asa petani, yakinlah kalau mau belajar dan mencoba lahan pertanian akan bisa meningkatkan kesejahteraan petani sendiri.

Iklan

Responses

  1. Pak mukidi ini tanggung jawab kita semua, dari pemerintah daerah , petani itu sendiri, kadang pemerintah hanya memberikan bantuan karena program dari pusat , namun tidak memberikan pendamping dan Akhirnya program hanya tinggal kenangan …bayak hal ini terjadi
    saya juga prihatin itu Lak ngoten too

  2. Sepakat, Pak Mukidi…
    Petani harus terus belajar supaya mandiri

  3. nice blog visit our blog please


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: