Oleh: mukidi | November 18, 2009

Kelompok Tani “Margo Sari”

Tentunya namanya juga akan seharum kegiatannya, bukan hanya sekedar namanya, itulah yang ditunjukkan oleh Kelompok tani “Margo Sari” Desa Kembangsari Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung. “Awalnya kelompok yang anggotanya 40 orang  setahun yang lalu namun sekarang tinggal 25 orang. Mereka yang keluar dari kelompok karena hanya tujuannya hanya ingin mendapatkan pupuk dari pabrik, tidak memahami benar ketika berkelompok dan manfa’at kelompok,” jelas Muhdaim ketua kelompok.

“Dan bagi yang bertahan dengan kelompok sederhana alasannya dapat pupuk pabrik dan tidak tetap harus bertahan. Karena waktu dulu dan pengalaman dari banyak petani kopi yang ada bahwa jaman dulu ketika tidak ada pupuk pabrik, kopi hanya diberi pupuk kandang juga tumbuh subur,” tambahnya.

Kalau semua kelompok berfikiran seperti kelompok margo sari, tentunya akan maju dan berkembang padahal kelompok ini anggotanya sebagian besar tua semua. Terlihat ketika pertemuan selapanan atau bulanan yang dilakukan pada Hari senin pon siang tanggal 16 Novemper 2009, jam 10 pagi, hadir wajah petani tua dan ibu taninya.

Pertemuan rutin biasanya tiap malam senin pon, namun sekarang senin pon siang karena kita hadirkan PPL. Pertemuan yang undangan jam 10 pagi, dan saya sendiri Mukidi yang dari radio kayu datang lebih awal jam 09.30 dirumah ketua kelompok tani.

Tepat jam 10 saya dan ketua kelompok tani menuju tempat pertemuan tepatnya jam 10.07 sudah diruang diskusi. Terlihat sudah ada beberapa petani yang hadir, sambil ngobrol dan tanya siapa saja yang diundang, dari kecamatan nanti PPL, dari Desa Kepala Dusun dan Kepala Desa. Kalau PPL nanti diundang jam 11.00 wib dan Perangkat Desa jam 10.00 termasuk anda Pak.

Ketika petani datang langsung memberikan uang Rp 2.000 dan itu iuran untuk bisa dijadikan dana simpan pinjam. Tidak hanya iuran saja dalam mencari dana namun lewat royongan alias kerja bakti mecangkul dilahan kelompok dengan biaya lelah per orang Rp 5.000 dan semuanya masuk kas, kalau yang tidak berangkat kerja bakti didenda Rp 10.000.

Ternyata kelompok ini sudah maju dan pinter cari dana dalam hatiku berkata. Tepat jam 11.00 siang PPL datang dan tidak begitu lama pertemuan dimulai tanpa ada Kepala Desa dan Kepala Dusun tetap berjalan. Tepat jam 11.17 wib pertemuan di mulai, dibuka oleh wakil ketua terus sambutan ketua kelompok, yang intinya mohon dorongan dari semua pihak.

Langsung waktu penyuluhan untuk PPL, ma’af saya baru pertama kali datang kesini. Perlu kenalan dulu nama saya Retno, katanya tak kenal tak saya pak. Kelompok yang pertama perlu dibenahi adalah adminitrasi harus tertata dengan baik. Buku adminitrasi yang disiapkan buku tamu, notulensi, buku notulensi untuk mencatat hasil diskusi kelompok. Serta buku kas untuk mencatat keuangan kelompok.

Apakah sini sudah membuat RDKK pupuk untuk bulan ini, jawabnya belum. Mohon untuk dibuat dan diajukan, dan saya tidak melarang untuk mempergunakan pupuk pabrik tapi jangan banyak-banyak, perlu juga untuk menggunakan pupuk organik karena kedepan pupuk pabrik akan dicabut subsidinya. Nanti harganya per kilo bisa sampai Rp 6.000 ketika subsidi ditiadakan.

Mungkin ini dulu nanti kalau ada pertanyaan bisa ditanyakan. Akhirnya waktunya diberikan kepada Mukidi. Tanpa perkenalan terlebih dahulu, langsung posisi duduk pak wakil ketua yang ditengah digeser untuk biar posisi melingkar dan bisa melihat saya, semuanya jadi tertawa.

oke gelas ditengahkan karena kita akan uji telingan kita, nanti kalau saya berkata dan sesuai dengan apa yang dilakukan bapak dan ibu, harus berdiri. oke kita mulai siapa yang tadi datang tepat jam 10 e tidak ada yang berdiri. siapa yang masih bujang tidak ada yang berdiri juga, yang datang terlambat, ada yang berdiri satu orang ibu-ibu. langsung tak tanya kenapa terlambat bu, cari pakan ternak dulu pak.

oke ini sekedar penyegaran biar tidak kaku, perlu kenalkan nama saya mukidi dari radio kayu temanggung. Kantornya Kandangan, kenapa saya datang kesini. Kita punya program perbaikan lingkungan yaitu memberikan bantuan kayu keras yaitu sonokeling, mahoni, pinus, jati dan jabon. Dan nantinya dari perusahaan juga mengadakan pendampingan untuk penguatan kelembagaan kelompok tani itu yang dikembangkan.

Dan menarik apa yang dikatakan oleh Bu Retno, sudah sa’atnya kita kembali keorganik. Dalam bertani perlu tumpangsari karena akan meningkatkan pendapatan petani dengan keanekaragaman jenis tanaman. oke nanti kita bisa diskusi.

acara laporan keuang juga disampaikan sungguh menarik ternyata kelompok sudah mempunyai kas 2.821.000,- dan diskusi juga berlangsung mulai dari jabon dan lainnya. “kemarin saya diskusi dengan pak Daim, bahwa satu aren sebulan bisa hasilkan hampir 6 juta lhoooooo, makanya selamatkan aren. Pertemuan berakhir jam 13.30 wib dan sampai jam itu tidak hadir juga Kepala Desa dan Kepala Dusunnya, tanpa memberitahu juga, kok aneh ya diundang masyarakatnya kok tidak datang, kalau nanti dibalik gimana hayoooooo

Iklan

Responses

  1. waaah payah lurahe keset tenan….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: