Oleh: mukidi | November 2, 2009

Pengabdi Lingkungan:

Jadjit Bustami

RT 01/RW 01, Dusun Arjasa, Desa Sucolor, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso,
Propinsi Jawa Timur

Hujan buatan made in Bondowoso

Jadjit Bustami adalah seorang guru sekaligus anggota LKMD dari Desa Suco Lor, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Propinsi Jawa Timur. Lingkungan sekitar tempat tinggalnya adalah bentangan Bukit Paseban dengan kemiringan 17%-70% di ketinggian 500-700 mdpl. Kondisi lahannya tandus dan gersang dengan tanah berbatu labil, sehingga setiap tahun di musim hujan selalu terjadi longsor. Namun demikian, pria berusia 56 tahun ini masih mempunyai harapan dan keyakinan mampu mengubah kondisi ini menjadi lahan hijau sehingga dapat mengubah status sosial-ekonomi masyarakat Suco Lor.

Motivasi itu telah mendorong Jadjit memulai menyingsingkan lengan baju di tahun 1980 dengan menanam jeruk di dua lokasi berbeda, masing-masing seluas 0,5 dan 0,6 hektar dengan biaya sendiri. Usaha ini gagal total karena tanamannya terserang penyakit CVPD.

Gagal menanam jeruk tidak membuat jera Jadjit, ia mencoba menanam pohon mangga dan petai masing-masing 6 batang di halaman SDN Suco Lor-1. Kali ini ia beruntung, pohon mangga dan petai yang ditanamnya tumbuh subur. Keberhasilan ini memicu semangatnya untuk memberikan pembelajaran kepada anak didiknya melalui kegiatan pembibitan pohon pada kegiatan ekstra kurikuler. Adapun penanamannya dilakukan bersama-sama dengan anak didik di sepanjang kiri dan kanan jalan menuju sekolah dengan tujuan agar di kemudian hari anak didiknya tidak kepanasan ketika pulang sekolah.

Perjuangan itu bukannya tanpa biaya, Jadjit harus menebusnya dengan merelakan seekor sapi piarannya untuk dijual guna membangun pipa saluran untuk mengalirkan air dari bukit ke SDN Suco Lor sepanjang 2 km. Bahkan sebagai Kepala Sekolah, ia sempat menolak untuk dimutasikan ke tempat lain demi obsesinya.

Sukses menggarap anak didiknya, Jadjit berusaha mempengaruhi dan menyadarkan masyarakat sekitarnya tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan mengajak untuk menanami lahan kritis dengan berbagai macam jenis pohon. Awalnya pengadaan bibit dilakukan dengan membeli dari para penyedia bibit, tetapi sejak tahun 2000 mulai dilakukan pembibitan secara mandiri dengan komoditi utama jati. Biayanya terkumpul dari iuran anggota sebesar Rp.400,- perbulan. Bagi yang mampu, anggota yang memerlukan bibit diwajibkan mengganti biaya, sebaliknya kepada anggota yang tidak mampu diberikan secara cuma-cuma. Dengan kesadaran, semangat dan kerja keras, akhirnya hasil pembibitan mampu memenuhi kebutuhan anggota kelompok dan kelebihannya dapat disalurkan kepada yang memerlukan.

Di tahun 2004, lahan yang berhasil dihijaukan tidak kurang dari 82 hektar dengan 30 ha jati, 8 ha sengon laut, 8 ha sengon laut buto, 4 ha mindi, 7 ha gamelina, 4 ha nangka, 9 ha kopi, 9 ha petai, dan 5 ha mangga. Luasan ini bertambah dengan 7 ha jati di tahun 2005 dan 9 ha manggis di tahun 2006. Tak berhenti sampai di situ, di tahun 2008 lahan penghijauan Jadjit dan kelompoknya bertambah 13 ha dengan 8000 mahoni, 9750 sebgib kaytm 4000 manggis, dan 4015 mindi. Sotal lahan yang berhasil dihijaukan seluas 111 hektar, dan lahan kritis yang semula tidak kurang dari 123 hektar tinggal 12 hektar lagi yang belum dihijaukan.

Manfaat yang paling dirasakan masyarakat Desa Suco Lor dari hasil penghijauan Bukit Paseban adalah munculnya mata air di sekitar bukit sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sebagai air minum, memasak, mencuci, mengairi sawah dan untuk peternakan. Pendapatan dari hasil panenanpun meningkat sehingga dapat dipasarkan ke Surabaya, Malang, Bandung dan Jakarta.

Di tahun 2008, Jadjit membuat terobosan baru di daerahnya. Dengan dana pribadi dan kelompok sebesar 36 juta, ia menciptakan “hujan buatan” untuk mengairi dan menyiram tanaman di musim kering. Dibantu masyarakat Jadjit membuat kolam berukuran 36m x 6m x 2,7m. Air dari mata air sekitar bukit ditampung di kolam itu dialirkan ke bawah dengan pipa, dan secara gravitasi disemburkan dengan alat “springkler” bantuan Dinas Pertanian setempat. Alhasil hujan buatan mampu mengairi 200 ha sawah di musim kemarau dan meningkatkan panen hingga 3 kali lipat dari padi, bawang merah, buncis, kentang, cabai dan tomat.

Menyimak semua itu, terbukti Jadjit telah membuat masyarakat semakin sadar untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian lingkungan, sekaligus mengangkat stasus sosial dan meningkatkan pendapatan. Jika demikian, maka sudah selayaknya kalau Jadjit menyandang belar pahlawan lingkungan, terlebih lagi masyarakat sekitarnya telah menganggap Jadjit sebagai “sang surya” yang menerangi Desa Suci Lor.

http://www.menlh.go.id/kalpataru/kalpa2008/jadjit_bustami.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: