Oleh: mukidi | April 10, 2009

Preman, Amplop Berpolitik

Mengamati berjalannya pemilu sejak 1 bulan terakhir ini, hingga kemarin pas pencontrengan yang dilaksanakan tanggal 9 April 2009. Banyak hal yang didapat, mulai dari gaya kampanye para caleg, hingga para pemilih agar bisa merayu para caleg mengeluarkan dana untuk sosialisasi pengenalan dirinya.

Sungguh terkejut, ketika ada kampanye dari salah satu tim sukses yang mengancam pendukungnya. Kata teman saya, berpolitik itu sah saja membunuh temannya, dalam hati aku juga bertanya apakah benar ya? ternyata kata-kata teman saya itu ada benarnya. Terbukti ada juga para caleg yang minta dana caleg propinsi maupun pusat hanya untuk kampanye diri sendirinya.

Ancaman bagi yang tidak mendukung caleg A maka, salah satu pipa sumber air akan dirusak. Padahal jalur itu merupakan satu-satunya sumber air untuk desa, ada yang mau dan ada yang tidak mau. Bahkan lebih lucunya lagi si Caleg A memanggil warga desa yang diancam itu, anehnya juga si warga datang, mungkin karena takut.

Sungguh aneh tapi nyata dilapangan, dalam hatiku berkata, kalau berpolitik sudah seperti preman lalu bagaimana kalau jadi anggota dewan? mudah-mudahan tidak jadi orang-orang yang seperti itu.

Suatu ketika saya perna ngobrol dengan salah satu pengurus wilayah partai politik di Jawa Tengah. mengenai biaya politik, bahwa yang paling mahal adalah biaya politik mulai dari sosialisasi hingga atribut partai, kalau untuk sekedar pemilihan Bupati biaya politik mencapai 75o juta hingga 1 M itupun sudah dihitung paling murah.

Dalam hatiku berkata, apakah biaya politik dan money politik berbeda? tentunya berbeda. mudah mudahan berbeda ha ha ha. Dalam duduk usai sosialisasi kehutanan aku ngobrol dengan teman yang ahli hukum, aku tanya gimana sih politik uang itu? dia tidak menjawab. wah sulit untuk mendefinisikan, itu jawaban singkat artinya suruh mencari jawaban sendiri.

Benar-benar terkejut ketika 1 hari sebelum pelaksanaan pemilu, dalam obrolan di teras rumah ada yang ngomong saya dapat uang dari caleg itu Rp 20.000 lha kamu dapat tidak? begitulah obrolan itu aku dengar ketika pas lewat depan teras rumahnya. o o o yang caleg itu, mau ngasih Rp 30.000, akhirnya pokoknya terima saja siapa yang ngasih, nanti suaranya dibagi-bagi.

Melihat kondisi semacam itu, sungguh prihatin dan bertanya, “kenapa partai politik tidak mencerdaskan para konstituennya dalam kampanye?” nampak sekali bahwa komunikasi politik antara partai dan konstituennya tidak berjalan baik, terbukti masih ada caleg yang bagi duit, lalu ketika mereka pernah duduk jadi anggota dewan, kerjanya apa? padahal dana aspirasinya diambil lhoo.

Kalau calegnya tidak cerdas, pendukungnya bodoh lalu kalau jadi anggota dewan sudah tentu anggota dewan yang tidak cerdas. Wajar dong kalau caleg yang berduit dan dibagi-bagi duitnya untuk membeli suara bisa jadi anggota dewan. Lalu preman dan amplop ikut berpolitik, ha ha ha ha ketika mereka jadi anggota dewan ya jelas sekali calon koruptor untuk mengembalikan uangnya.

Dengan gaya preman kalau jadi jelas akan terbawah, gayanya sehingga muncul juga dewan yang preman. Saya hanya berdo’a semogo para preman dan amplop yang berpolitik tidak ada yang jadi, bahkan dipersilakan saja rumah sakit jiwa sudah menanti ha ha ha.

Mungkin itulah sehingga orang bilang politik itu kejam, politik dosa, karena para pemain politik juga ada yang kotor kaya preman dan amplop berpolitik. Semoga masih ada orang yang berpolitik dengan bersih, sehingga bisa mewujudkan negara yang bersih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: