Oleh: mukidi | April 10, 2009

MUI: Merokok Hukumnya Makruh

TEMANGGUNG – Plt Ketua MUI Temanggung KH Yakub Mubarok menginginkan masalah hukum merokok haram oleh MUI Pusat dikembalikan pendapatnya kepada sebagian ulama. “Selama ini hukum merokok adalah makruh. Kami maklum wacana-wacana yang berkembang, namun kami memiliki pendapat rokok hukumnya makruh,” katanya, kemarin.

Yakub yang lahir dan besar di Parakan sebagai sentra tembakau meminta dalam memandang suatu persoalan bukan hanya dari sisi fiqih saja. Pria yang menggantikan Drs H Hasyim Afandi sebagai Plt MUI Temanggung berharap melihat sesuatu dari berbagai sektor seperti ekonomi dan sosial.

“Saat ini berapa ribu, bahkan jutaan orang yang tergantung dengan proses adanya rokok. Mulai dari hulu hingga hilir. Mulai dari pabrik rokok hingga petani tembakau, petani cengkeh dan lain-lain. Kalau soal haram itu diterapkan, banyak yang terkena imbas haram tersebut,” jelasnya.

Menurut Yakub, kalau fatwa rokok haram sebagai upaya menghentikan orang merokok, perlu dipikirkan akibatnya. Karena persoalan haram bakal menimpa usaha bidang perokokan.

“MUI sampai sekarang belum menemukan alternatif penyelesaian. Oleh karena itu, untuk masa sekarang dari segi ekonomi sosial, rokok masih lebih manfaat bila dibandingkan dengan madharat,” urainya.

Ketua LSM Lingkungan Dian Temanggung, Mukidi terkejut dengan fatwa haram merokok MUI tersebut. “Memang saya tidak pernah merokok, padahal saya hidup di daerah yang menghasilkan tembakau. Pertanyaan saya, kalau merokok dicap haram, lalu bagaimana hukum menanam tembakau yang merupakan bahan baku rokok, apakah juga haram?” tanya dia.

Mukidi meminta MUI tidak hanya berfatwa, tetapi juga mau turun ke lapangan melihat kondisi petani Temanggung yang mayoritas menanam tembakau. “Kalau bapak-bapak berfatwa haram, berarti gedung-gedung pemerintah di Temanggung yang dibangun dari hasil pajak tembakau, juga haram. Dipikir lebih dalam dulu lah,” ujarnya.

Pengeluaran fatwa juga harus memperlihatkan keteladanan. “Jangan hanya jarkoni, bisa ngujar ora bisa ngelakoni. Maksud saya, apakah ketua MUI bisa menjamin seluruh pejabat dan anggota MUI tidak merokok? Karena fatwa, harus disertai dengan penerapan dan contoh teladan. Ketika masih ada anggota yang merokok, itu namanya pembohongan publik,” tegasnya.

Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia APTI Nurtanto Wisnu Brata menolerir jika rokok hukumnya makruh. Sebab, jika hukum rokok makruh tidak memiliki dampak besar dalam dunia perdagangan tembakau. “Berbeda dengan hukum rokok itu haram, berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan rokok. Termasuk bahan baku rokok, yakni tembakau,” paparnya.

Menurut Wisnu, selama ini belum ada pengaruh signifikan fatwa MUI tersebut terhadap budi daya tanaman tembakau di Temanggung. “Dengan pendapat MUI Temanggung kalau rokok hanya makruh membuat kami lega sehingga tidak ada lagi kekhawatiran soal itu. Pendapat itu juga membuat kami agak tenang,” tandasnya. (dem)

di posting dari Jawa Pos radar Yogya Selasa, 02 September 2008

Iklan

Responses

  1. rokok lebih berbahaya dari narkoba mas,kalau narkoba yang mati pemakainya,sedangkan rokok juga mematikan orang yang disekitar,,kerugian akibat penyakit rokok adalah 3x dari keuntungan,,mendingan lahan tembakau ditanami anaman keras dan bawahnya ditanami porang,,tembakau merusak lingkungan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: