Oleh: mukidi | Maret 31, 2009

Potensi Alam Yang Terlupakan

mukidi-71Perjalanan pagi hari dari Wonotirto menuju alas (tegalan) kethekan sangat menyenangkan, sambil naik motor CB yang selalu menemani ku. Terlihat petani berjalan menuju lahan garapannya, ada yang bawa makanan untuk bekal makan siang. Ada yang terlihat membawa cangkul, untuk mengolah lahan.

Motor CB ku tidak bisa sampai ke lahan kethekan karena memang jalannya tidak bisa sampai ke lokasi. Tak ada lain mesti jalan kaki, usai parkir motor dipinggir lahan yang baru dicangkul, aku langsung menuju lokasi alas kethekan.

Dalam perjalan menuju lahan berpapasan dengan ibu yang telah usai mengendong pupuk kandung satu karung. Yang jelas ibu itu akan mengambil pupuk lagi, dan dibawah ke lahannya pribadi, atau mungkin juga kerja untuk lahan orang.

Usai melewati 2 sungai kecil yang airnya jernih, ada juga terdengar suara ayam alas membuat suasana jadi semakin nampak alami. Begitu sampai lahan kethekan wah sangat luar biasa, lahan yang berbatuan dan ada air terjunnya, dengan suara air yang gemericik.

Tebing yang berbatuan juga sering menjadi panjatan kera ekor panjang, orang desa sering menyebutnya kethek, karena banyaknya kethek mungkin orang terus menyebut alas kethekan. Sangat lama di kethekan karena itu lahan warisan dari pak dhe, dan nampak beberapa petani sedang menanam tembakau.

Aku mencoba mendekati petani dan diskusi ngalor-ngidul e e e ujung-ujungnya mereka ngomong tembakau sebagai komoditas unggulan bagi mereka. “wah kalau wong manggung tidak boleh tanam tembakau suruh tanam apa,” keluhnya.

e e e ternyata juga ada yang ngomong lha nek kethekan iki di gawe wisata alam apik mesti yoo (ada petani yang ngomong kalau lahan kethekan ini dibuat wisata alam mesti baik. Wah ternyata juga ada petani yang hebat, mau berfikir maju, bathinku.

Aku juga ngobrol tentang aktivitas saya, sering bikin bibit kopi dan yang lainnya. Dan dipersilakan yang mau untuk menanamnya, “lha aku mau kalau hanya disuruh nanam,” sahut petani. Semakin semangat juga aku ceritanya, sambil menceritakan rencana untuk menanami tanaman keras dilahan kethekan tersebut.

Tak begitu lama aku diajak pulang oleh kakakku, dan aku pamit dengan petani. Dalam berjalanan pulang aku selalu teringat kata petani tentang wisata. Wisata yang sederhana saja nampak aktivitas petani pada mengolah lahan untuk pertembakauan. Ataupun bisa melihat Gunung Sumbing dari dekat, dan bisa melihat kota parakan dan sekitarnya.

Kalau petani sudah ada yang berfikir tentang wisata, tinggal kapan kita semua mau mulai dan mengembangkan wisata desa. Tentunya kalau sebagian masyarakat sudah ada yang mempunyai greget, tidak ada pihak luar, dan pemerintah, tinggal memfasilitasi.

e kok malah jadi ngomonge pemerintah, nanti malah tidak menggagas wisata. o yaaaa bagi yang tertarik berwisata desa terutama wilayah Temanggung bisa ikut komentar, atau memberikan masukkan boleh kok.

Iklan

Responses

  1. Wah orang temanggung sibuk dengan KAMPANYE jadi lali NEK ONO WISATA SING APIK KANG
    coba buat selebaran terus di Sebarrrr, ben podo kenal gitu lohh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: