Oleh: mukidi | Desember 15, 2008

Bandung Nonton Alas

Dalam bahasa jawa alas selalu indentik dengan hutan, dan yang namanya alas pasti hutan yang lebat pada waktu itu. Namun karena berbagai hal sehingga alas sudah berubah fungsi, yang banyak sehingga harus bisa menghidupi masyarakat sekitarnya, namun juga harus menjaga fungsi lingkungan.

Tentunya dalam pengelolaan ini diperlukan kerjasama yang baik antara pihak yang berwenang dan masyarakat sekitar hutan. Dirasa perlu menyadarkan masyarakat hutan maka Perhutani KPH Kedu Utara mengambil inisiatif untuk belajar langsung dengan mengajak para LMDH (lembaga masyarakat desa hutan), Tenaga pendamping dan pengambil kebijakan di KPH kedu utara.

Belajar dan melihat kondisi lapangan ini ke wilayah Perhutani Unit III, tepatnya di KPH Bandung utara dan Bandung selatan. Melihat pengelolaan hutan lindung yang dibawah tegakan dengan tanaman kopi arabica. Konon hutan lindung disana dikelola masyarakat dengan tanaman semusim, namun adanya surat dari gubernur bahwa didalam hutan lindung tidak boleh dengan pengelolaan tanah intensif, para pihak berdiskusi termasuk petani.

Akhirnya dalam diskusi diambil keputusan bersama, bahwa masyarakat diperbolehkan menggarap lahan dengan tetap menjaga fungsi hutan namun bisa meningkatkan penghasilan. Kopi akhirnya menjadi pilihan, dengan tanaman keras yang ada ecalitus. Masyarakat yang ada menunggu kopi bisa menghasilkan selama 3 tahun, artinya siap lapar diwaktu itu demi menjaga komitmen bersama dengan pihak terkait.

Namun ketika kopi sekarang jadi, RPH Panggalengan menjadi tempat pembelajaran bersama dari Perhutani yang ada di pulau jawa ini. Mulai dari kerjasamanya dan kelembagaannya. Kopi yang ada dengan kerjasama bagihasilnya 15% untuk perhutani, dan 85% untuk petani, dalam bentuk basah. Dan yang lebih menarik, sekarang disana ada kopi yang dikelola sendiri, alias adanya mesin pengering yang limbahnya juga bisa dijadikan kompos.

Study banding yang berlangsung tanggal 4 sampai 6 Oktober 2008, tentunya akan bermanfa’at kalau nantinya bisa diterapkan di KPH kedu utara. Tidak hanya itu ternyata ada juga yang kerjasama hijauan makanan ternak. Kuncinya dalam menjalankan kerjasama adalah iklas, bukan yang lainnya, sehingga bisa menjaga komitmen bersama.

Ayooooo KPH kedu utara harus bisa seperti Bandung selatan maupun Bandung utara, kan banyak potensi yang ada. e e e e kopi arabica kan yang dibawah tegakan di hutan lindung Sumbing Sindoro kok tidak dirawat, kenapa ya kok masyarakat tidak mau? padahal berapa ha saja itu, kapan sosialisasikan lagi tentu prospek kopi, biar masyarakat mau merawat. Tentunya semua itu perlu proses.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: