Oleh: mukidi | Oktober 8, 2008

Temanggung Kekeringan Air

oleh Mukidi

Krisis air bersih di Temanggung terjadi setiap tahun. Kenapa tidak ada solusi cerdas mangatasi masalah ini?

Kemarau yang panjang kapankah berganti/air hujan pelepas dahaga/aku haus kasihmu/aku rindu belaimu/dari dia yang kucintai……..

Sekalipun hanya potongan syair, tapi sungguh menggambarkan bagaimana keadaan kekeringan air warga Temanggung. Beberapa bulan terakhir ini, terhitung ada banyak desa dari sembilan kecamatan di Temanggung yang mengalami kekurangan pasokan air bersih. Kecamatan itu adalah Bejen, Candiroto, Jumo, Kandangan, Kaloran, Pringsurat, Tlogomulyo, Gemawang, dan Kranggan.

Memang, Pemkab Temanggung tidak tinggal diam. Berbekal anggaran 80 Juta, pemkab melakukan pengedropan air bersih ke desa-desa yang kekurangan air. Anggaran Rp 80 juta itu dialokasikan untuk sembilan kecamatan selama 3 bulan mulai Agustus, September, sampai Oktober. Masing-masing desa mendapat Rp 150.000 untuk sekali droping air bersih dan 2 liter perjiwa perhari dengan asumsi tiap kk 5 jiwa maka setiap kk akan mendapatkan air bersih 10 liter tiap hari. Menurut salah seorang staff Dinas trantib apa yang dilakukan Pemkab tidak lebih dari sekedar upaya membantu memenuhi kebutuhan air minum.

Desa Tanjungsari Kecamatan Bejen merupakan, merupakan salah satu desa yang mendapat alokasi air bersih untuk kebutuhan minum. Menurut Suprayitno, Kepala dusun Tanjungsari, warganya yang kekurangan air bersaih berjumlah 107 kepala keluarga. Kadus menuturkan sebenarnya di dusunnya, ada sumber mata air yang letaknya disebelah timur dusunnya. Pernah ada rencana air akan disalurkan ke dusun. Namun, karena kendala alat untuk mengangkat, sampai kini niat itu urung. Warga tidak sanggup membeli pompa karena harganya mencapai Rp 4.600.000 kadus pernah meminta bantuan pemerintah, tapi Pemda cuek bebek. Alih-alih diberi bantuan, warga justru disuruh mencari sumber mata air dari kali kreo yang jaraknya sekitar 4 KM. Di tahun 2002 lalu, kadus juga pernah mengajukan proposal Rp 6 juta kepada Pemkab, namun sampai sekarang pengajuan itu tidak pernah ditanggapi.

Sementari didesa Losari, 3 Km dari Kecamatan Tlogomulyo lebih parah lagi. Desa ini sudah sejak dulu terkenal kekurangan air bersih setiap musim kemarau datang. Kepala Desa Losari, Slamet mengatakan,”Di Dusun Mranggen misalnya, sumber mata airnya saat kemarau panjang selalu mati. Namun dusun ini masih agak beruntung sekarang, sebab untuk sekedar memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari masih bisa. Hanya saja untuk kebutuhan air, seperti mendirikan rumah , air hanya bisa didapat dari Kecamatan Tlogomulyo. Sebenarnya di Losari ada sumber mata air yang bisa dialirkan ke Mranggen. Namun, Lagi-lagi warga dituntut beban biaya untuk membeli pipa yang berjarak 2 Km.

Di Kecamatan Bulu, tepatnya di Desa Wonotirto, Dusun Tritis sering mengalami kekeringan tapi tidak pernah mendapat jatah air bersih.”warga harus berjalan sekitar 1 Km untuk kebutuhan minum dan mandi,” Kata Kades wonotirto siswadi. Ironisnya untuk bisa mendapatkan air dari sumber mata air itu, warga juga harus menggunakan pompa karena letaknya lebih rendah dari tritis.

Melihat permasalahan dilapangan rasanya menyelesaikan air bersih tidak sekedar droping. Kita lihat bagaimana kasus yang terjadi di Desa Tanjungsari yang harus membutuhkan pompa hidran untuk mendapatkan air, coba hitung saja berapa harga pompa hidran dan droping air bersih? satu kali droping membutuhkan anggaran Rp 150.000 kalau kita asumsikan seminggu 3 kali,maka dibutuhkan anggaran Rp 450.000 dalam satu bulan membutuhkan Rp 1.800.000 jadi untuk tiga bulan biaya yang dibutuhkan adalah Rp 5.400.000 artinya dana tersebut bisa untuk pembuatan pompa hidran dan tahun berikutnya sudah tidak harus droping air bersih dari kabupaten lagi.

ini sekedar gambaran dan mungkin bisa menjadi alternatif dalam menyelesaikan permasalahan , yang jelas untuk mengatasi tersebut perlu melibatkan peran aktif masyarakat dalam pengaturan dan penggunaan air bersih.

Kita patut bertanya, Kenapa Pemkab tidak realistis dalam memikirkan soal air ini? apakah dengan adanya kekeringan tiap tahun berarti harus ada proyek droping? kalau benar, apakah rakyat harus selalu jadi korban proyek? pejabat, kami haus kasihmu, aku butuh bukti kerjamu. Janganlah kami jadi tumbal ketidakseriusanmu menangani kekeringan ini.

Tulisan ini di muat media stanplat temanggung, edisi No. 03 September 2006

Iklan

Responses

  1. pikiran saya sederhana…
    kalau sudah ada dropping…dijamin kekeringan akan berkelanjutan….yakin deh…apalagi dengan mental biroktat kita saat ini……
    bukti ini saya dapatkan dengan mengamati kasus kekeringan di Gunung Kidul…
    bahkan kekeringan akan semakin meluas dan kebutuhan dropping air bersih juga akan terus menguras APBD daerah…..
    dropping bisa jadi bisnis yang menggiurkan bagi banyak orang….seperti di Gunung KIdul sekarag sudah ada puluhan mobil tangki ai swasta yang siap disewa oleh pemda maupun masyarakat yang mau menjadi pahlawan kesiangan bagi korban kekeringan yang kurang terdidik.
    sori ne’k rodo pedes mas….

    nuwun

  2. Sy org mranggen losari yg sdh mntp d bekasi hmpr 10 thn. Ttp sth sy tdk p’nh ada bntuan air brsh tuch dr pemkab. Mkny sy sk g bth klau plg kmpng. G ada air. Klau mandi musti k kali. Aduh rasanya sy ga sreg ngumbar aurat. Mendingan cpt2 hengkang deh…!

  3. pemerintah gak bisa diharapkan, mending masyarakat swadaya saja, seperti dessa kami bisa bikin masjid senilai 1 miliar dan prasarana air bersih hampir 100 juta non partisiapai pemerintah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: