poto by Sugiyanto anggota MPIG KAJSS

poto by Sugiyanto anggota MPIG KAJSS

Undangan yang aku terima lewat whatsapp dari grup MPIG KAJASS, terkait pembinaan dari Bappeda Temanggung. Tepatnya Selasa, 19 September 2017, begitulah tertulisnya. O ya apa itu MPIG kepanjangannya Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Sindoro Sumbing.

Tepatnya jam 12.30 wib usai makan siang saya melunjur menuju lokasi yang sudah ditentukan untuk pertemuan di Balai Desa Kwadungan Gunung Kecamatan Kledung. Pilihan lokasi ini sangat tepat, letaknya ditengah, sekaligus arabika sangat banyak di wilayah Kecamatan Kledung.

WhatsApp Image 2017-09-20 at 15.48.03Perjalannya menuju lokasi penulis menikmati pemandangan yang asik, sedulur tani yang pulang jemur tembakau. Karena penulis tidak bawa kamera maupun hp android jadi tidak bisa jepret-jepret e e e, tapi sebagai warga Temanggung sudah hal yang wajar melihat tumpukan rigen di atas mobil L100.

Sampai lokasi kurang lebih 20 menit, ternyata dari Bappeda Temanggung sudah datang, dan anggota sebagiang pengurus MPIG Kopi Arabika. Sambil nunggu peserta lainnya diskusi kecil setelah jabat tangan jadi hal yang menarik.

Kurang lebih pertemuan dimulai 13.30 wib, Pertemuan dipandu langsung oleh Tuhar sebagai petani kopi yang sukses dari Tlahap Kledung Temanggung yang sekaligus sebagai ketua umum MPIG Kopi Arabika.

Tuhar tidak begitu lama bicaranya, langsung diberikan ke Gunadi selaku Bappeda Temanggung. Gunadi memberikan wejangan terkait program-program MPIG kopi arabika, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Beliau sampaikan pengalamannya ketika ada tamu dari Kementerian Kehakiman.

“produk kopi yang anggota MPIG produksi itu harus ditulis semua,” jelasnya. Dia sampaikan juga dalam waktu dekat Bappeda ada kunjungan kerja ke Situbondo dan akan mengajak beberapa petani dari anggota MPIG.

Apa yang disampaikan Gunadi selaku Bappeda Temanggung mendapat respon sangat bagus, dan Tuhar sendiri langsung menuju ke anggota yang harus berangkat. Sungguh hal yang luar biasa dan sifat yang legowo kali ini yang diberangkat bukan pengurus utama.

WhatsApp Image 2017-09-20 at 15.36.42

poto by Didiek anggota MPIG KAJSS

Dari diskusi yang berkembang bisa disimpulkan, penguatan lembaga yang bagus akan bisa hasilkan program yang bagus. Program jangka pendek dalam waktu 3 bulan adalah menghadapi hari kopi dunia, festival kopi Temanggung dan festival Kopi Jawa Tengah.

Untuk Program tahunan adalah samakan persepsi tentang standarisasi proses harus sampai pada petani. Pembuatan produk dalam bentuk raosted maupun bubuk. Mulai dengan awal iuran sebagai bentuk membangun kekuatan ekonomi bersama.

Kejar tayang untuk hari kopi dunia dengan tema “Nikmati Kopi Klas Dunia” yang akan di lakukan di Sigandul Tlahap Kledung Temanggung. Ini bukan isapan jempol tapi ini harus diwujudkan begitulah kiranya celetuk dari salah satu peserta diskusi.

Mimpi-mimpi besar itu mulai dari yang kecil, kuncinya konsisten. Itulah mimpi MPIG Kopi Arabika Java Sindoro Sumbing. Melangkah itu bentuk mewujudkan mimpi, dan tantangan itu pasti akan ada. Tak lain semangat kuncinya untuk mengapai mimpi kebersamaan lepaskan ego personal, satukan kekuatan bersama.

 

Iklan
Oleh: mukidi | September 13, 2017

Konservasi, Kopi, Hingga Jalan Termahal

WhatsApp Image 2017-09-12 at 17.45.11Kurang lebih setahun yang lalu saya dapat kunjungan sedulur dari Desa Ngargoretno Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Pak Kepala Desa dan stafnya serta pengurus gapoktannya.

waktu itu sampaikan gagasan ingin berkunjung ke Rumah Kopi Mukidi, melihat lebih detail tentang aktivitas yang dilakukan terkait dengan kopi. Tak begitu lama ternyata kunjungan benar ke rumah kopi Mukidi.

Sungguh salut saya melihat perkembangan dari gapoktan dan keperdulian desa untuk memajukan pemahaman tentang kopi dan sumberdaya alam yang ada disetempat. Hal yang luar biasa juga penulis dapat kesempatan yang ke 2 untuk  berkunjung ke Desa Ngargoretno Salaman, tepatnya Hari Selasa, 12 September 2017.

Penulis datang ke rumah ketua gapoktan desa setempat, kurang lebih jam 08.20 wib, nampak 2 orang sudah, Mas Soim itulah sosok ketua gapoktan. Dari rumah mas Soim bisa melihat pemandangan batu marmer. Dia cerita banyak tentang tanah hingga sampai dimiliki oleh pihak asing, ternyata saya baru tahu e e e mas Soim orangnya luar biasa, ramah dan gigih dalam memperjuangkan konservasi.

WhatsApp Image 2017-09-12 at 17.45.49Dari diskusi tentang konservasi ternyata sampai ke kopi. Kopi liar jadi pilihan produk andalan. Kopi liar ini jelas organik begitu jelasnya, dan tanpa perawatan ini yang kita tonjolkan. Terkait dengan kopi sehingga mas Soim mendatangkan penulis untuk membagikan tentang paska panen kopi sampai disangrai.

Pertemuan dengan kelompok tani untuk pelatihan pindah tempat, artinya penulis harus menuju lokasi beda, tentunya usai dijamu dengan makanan setempat ha ha ha ha. Jamu senyum dan keramahan sehingga semakin nikmat sarapan pagi itu di Ngargoretno Salaman.

Pelatihan kurang lebih mulai 09.30, penulis coba sampaikan gagasan tentang kemandirian petani, hingga analisa ekonomi yang mempunyai nilai tambah yang lebih atau angka yang bisa membangun mimpi. Penulis juga sampaikan dengan logat bahasa jawa Jeneng sik jenang kuwi nututi artinya nama dulu nanti hasil itu akan mengikuti.

Tak terasa waktu sampai istirahat usai, begitu semangat yang mengikuti dan begitu nikmat penulis tuangkan persoalan tentang kopi mulai dari natural, sampai proses basah.

WhatsApp Image 2017-09-12 at 17.45.46Istirahat makan siang dengan nasi megono menjadi pertanda kekompakan warga setempat. Saat makan siang juga penulis ada beberapa tamu datang lagi mulai dari pak Kadus yang barusan sampaikan kalau barusan ada acara. Trus Pak Agus dari Sleman, ternyata Pak Agus salah satu yang merintis untuk wisata museum marmer.

Materi usai makan siang sangrai kopi, penulis mencoba menjelaskan fungsi mesin sangrai. Setelah paham tentang fungsin mesin, mulai pemanasan mesin sangrai. Sampai pada suhu yang telah ditentukan baru kopi dimasukan ke mesin sangrai.

Penulis sangrai kopi sampai 4 kali, 2 kali robusta Temanggung, 1 kali arabika Temanggung dan 1 Kali robusta Ngargoretno. Sungguh menarik karena mereka antusias mengikuti pelatihan sampai usai.

Penutupan pelatihan sekitar 15.30 wib, mas Soim dan teman-teman mengajak untuk melihat wisata museum marmer. Penulis mengikutinya, banyak bebabatuan besar seperti batu cadas. Saya bertanya kepada Pak Kadus itu batu apa, itu batu marmer pak Mukidi, jelasnya kepada saya. Itu lo batu yang sudah digosok, coba kita lihat ke dekat.

WhatsApp Image 2017-09-12 at 17.45.35wooo begitu penulis mendekat, sungguh hal yang baru pertama kali penulis lihat, batu begitu halus, dan luar biasa anugrah Allah SWT. Pak Mukidi itu yang jalan termahal di dunia lho yang tadi kita injak, kata mas Soim.

Wela ternyata batu marmer ya, luar biasa dan salut ke warga Ngargoretno Salaman. Semoga sukses dan bisa membangun kemandirian. Usai dari museum batu marmer dilanjut diskusi di rumah mas Soim, tambah lagi peserta pak Kepala Desa.

Sungguh salut dengan kepala desa ini, begitu kuat untuk mewujudkan mimpi kemandirian desa. Langkah Kongkritnya sudah terlihat bagaimana dia bisa memberdayakan masyarakat hingga sampai didorong mewujudkan Bumdes bisa jalan. Sekali lagi salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi, secangkir kopi ada cerita, banyak saudara penuh cinta, he he he .

sudah ngopikah anda hari ini ? e ee e e hampir lupa terimakasih jepretannya mas soim

 

IMG20170601153100Nikmat itu macam-macam diskripsinya, apalagi kenikmatan di secangkir kopimu. Ada orang yang bilang bahwa nikmatnya kopi itu ketika tahu sebuah prosesnya, mulai dari kebun, pasca panen dan cara seduhnya. Bahkan ada yang lain, nikmatnya kopi harus tahu asal usulnya. Tentunya anggapan itu benar semuanya karena “secangkir kopi ada cerita banyak saudara penuh cinta” he he he he itulah slogan dari penulis.

Penulis kembangkan konsep kemandirian petani, tahapan demi tahapan konsep kemandirian petani antara lain: olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas di kebun, olah komoditas jadi sebuah produk dan pemasaran. Tentunya itu perlu sebuah proses panjang dan konsistensi, sehingga konsep itu bisa terwujud.

Aneka komoditas salah satunya adalah tanaman tahunan berupa kopi. Kopi yang penulis buat dari Temanggung Jawa Tengah. Temanggung sebuah Kabupaten yang terletak di lembah atau lereng Gunung Sumbing dan Sindoro. Kopi Temanggung Sendiri sudah memiliki IG atau indikasi geografis baik itu yang arabika maupun robusta.

Petani di Temanggung sudah banyak yang kembangkan bikin olahan kopi dengan aneka macam brand, salah satunya Kopi Mukidi. Penulis akan coba jelaskan tahapan di dunia kopi sebelum sampai ke cangkir di mejamu. Tahapan paling dasar yaitu didunia pembibitan atau persemaian.

Untuk persemaian ini atau pembibitan biasanya banyak dikembangkan dari biji, tentunya biji yang sudah dipilih paling bagus mutunya. Kopi kalau dari biji untuk bisa ditaman ke media tanam atau ke lahan kurang lebih sudah berumur 9 bulan, atau batang sudah berkayu.

Sebelum cabai umur siap tanam sebaikanya buat lubang tanam dulu, dengan ukuran 30cm X 30cm X 30cm atau bisa dengan ukuran 50cm X 50cm X 50cm. Biasanya lubang tanam dibuat pada bulan – bulan September karena kopi akan ditanam bulan Desember.

Setelah lubang tanam siap, baru kopi siap tanam. Pohon kopi yang dipolibag setelah ditanam akan mulai belajar buah sekitar umur 2,5 tahun sampai 3 tahun. Maka petani juga sabar menunggu panen perdana, butuh waktu dan kekuatan prihatin. Kekuatan dan kesebaran menunggu itu merupakan ujian terberat, setelah itu kopi akan bisa dipanen setiap tahun. Tentunya perlu pemeliharaan pohon, mulai dari pemangkasan bentuk dan pangkas tunas air.

Habis panen ada banyak proses, mulai dari natural, honey, semi wash dan full wash. Proses itu juga pilihan masing-masing pemroses dan pasti akan hasilkan cita rasa yang beda dari beda proses. Setelah proses dan melalu pengeringan kemudian di kupas untuk hasilkan jadi biji kopi. Biasanya dalam pengupasan ada biji yang pecah karena alat, itu juga perlu disortasi.

Setelah sortasi berikutnya tahap sangrai kopi. Sangrai kopi ini juga pilihan masing-masing mau profil muda,medium dan tua. Dari aneka profil juga akan beda karakternya. Usai sangrai tahap selanjutnya adalah icip kopi atau seduh kopi, dan bahasa yang sering dipakai cupping.

Begitu banyak proses kopi, sehingga kau akan semakin menikmati kopi di meja cangkirmu. Selamat menikmati dan salam petani mandiri, “secangkir kopi ada cerita,banyak saudara, dan penuh cinta” Kopi Mukidi. http://www.kopimukidi.com http://www.mukidi.co.id dan mukidi.wordpress.com

 

 

Oleh: mukidi | Agustus 4, 2017

Seminggu Cerita Cinta Tentang Kopi

Seminggu yang lalu, rumah kopi mukidi kedatangan tamu. Tepatnya 25 – 31 Juli 2017, tamu dari beberapa negara. Tujuan untuk mengenal tentang kopi mulai dari kebun, sampai siap saji.

20247861_10211406842021403_6431446086583757972_oTak lupa penulis selalu cerita tentang konsep yang diterapkan, yaitu petani mandiri. Konsep tidak sekedar wacana, tapi itu pola contoh. Olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas di lahan, olah komoditas jadi produk dan pemasaran.

Tahapan tahapan itu selalu diceritakan kepada siapapun, termasuk kepada tamu yang datang. Untuk capai semuanya butuh konsistensi, itulah kunci utamanya. Para tamu melihat ke kebun kopi dan bagaimana proses perawatan kopi.

20292753_10211417049836592_7555592313933154994_nPasca panen juga menjadi cerita yang menarik, karena banyak cara proses yang tentunya akan menghasilkan cita rasa yang beda. Tahap selanjutnya adalah sangrai kopi, namun karena listriknya padam, belajar sangrainya jadi manual. Mungkin sesuai pepatah tak ada rotan akarpun jadi ha ha ha.

Hari berikutnya ganti tamu, ingin tahu tentang kopi juga. Mulai dari kebun, namun sebelum ke kebun para tamu minum kopi dulu dengan aneka macam alat seduh. Mereka tertarik ingin tahu tentang kebun kopinya. Akhirnya berkunjung ke kebun juga, sampai ingin tahu detail tentang tanaman disekitar pohon kopi. Sehari full rombongan dari mancanegara ingin tahu tentang kopi Temanggung.

Hari berikutnya rumah kopi mukidi, dapat kunjungan dari peserta pelatihan dari Dinas Koperasi Propinsi Jawa Tengah. Peserta dari 4 Kabupaten, yang kebanyakan pelaku usaha di kopi. Penulis berbagi cerita ketika awal mulai merintis kopi, sangrai kopi dengan gerabah, hingga modifikasi alat sangrai kopi. Tentunya tak luput konsep kemandirian petani juga turut diceritakan.

Yang lebih seru lagi adalah penulis menjelaskan kepada peserta berikutnya, karena ini peserta yang memang ingin tahu detail tentang kopi sampai harus tinggal 3 hari di rumah kopi mukidi.

20264675_10211426184184945_5483674023642175466_nMalam hari datang langsung diskusi tentang kopi sampai bisnis kopi. Pagi harinya berkunjung ke kebun kopi yang dimiliki penulis. Penjelasannya tentang konsep petani mandiri langsung di lahan. Tentang konservasi dan lainnya, tentunya tentang petik kopi yang baik dan benar tak luput diprakteknya.

Proses pasca panen ini dicoba dengan menghitung cery merah yang dipetik. Dikupas dan dihitung penyusutannya, proses belajar yang santai ini sambil guyonan e e e e. proses penyusutan itu jadi dasar ketika ingin tahu detail ketika ingin mulai merintis sebuah bisnis kopi.

Kelas 3 hari ini begitu padat, sampai menghitung analisa biaya untuk secangkir kopimu, sebelum di sruput……. sampai sini dulu ceritanya http://www.kopimukidi.com http://www.mukidi.co.id

 

 

sumber :https://majalah.ottencoffee.co.id/5-tahap-penyusutan-biji-kopi-sebelum-tiba-di-cangkirmu/

cherries

Perbedaan bentuk antara singkong dengan keripik singkong, juga terjadi pada buah kopi dan bijinya yang siap minum.

BIJI kopi yang kamu lihat di kedai-kedai kopi bentuknya tidak sama dengan biji kopi yang baru saja dipanen. Perbedaan bentuk ini bukan tanpa sebab. Alasannya jelas: penyusutan kandungan air di dalam biji kopi.

Sebelum masuk cangkirmu, biji kopi harus dipastikan kering. Ini berguna untuk mencegah penjamuran yang pada akhirnya berujung pembusukan biji kopi.

Secara umum, penyusutan biji kopi melalui lima tahap. Saya sendiri melihat penyusutan biji kopi ini dari petani kopi di Dusun Jambon, Gandurejo, Temanggung, Jawa Tengah, bernama Mukidi. Menurut Mukidi, dalam 6 kg ceri kopi hanya dihasilkan 1 kg biji kopi. Artinya, penyusutannya jelas ada.

Ceri

Saat ceri kopi sudah ranum – warnanya kemerah-merahan – artinya sudah bisa dipanen. Ceri kopi ini merupakan buah pohon kopi arabika maupun robusta. Kandugan airnya jangan ditanya. Bayangkan saja seperti buah apel yang banyak airnya, tapi ketika dibikin keripik betapa renyahnya. Ceri kopi adalah tahap paling awal dari produksi minuman kopi. Pada tahap ini saya mencoba menimbang 13 gram ceri kopi.

Biji Kupas

Setelah panen, kulit ceri kopi dikupas – dipisahkan antara kulit dengan biji kopi yang ada di dalamnya. Biji kopi di dalam ceri kopi biasanya ada tiga jenis: biji dikotil (2 biji) yang matang, biji monokotil (1 biji) atau biasa disebut peaberry alias kopi lanang, dan biji yang busuk. Yang busuk dibuang saja ya, barangkali lebih berguna untuk campuran pupuk kompos. Setelah itu biji kupas dikeringkan beberapa hari. Tergantung cuaca. Setelah dikupas, biji kopi hanya seberat 6 gram. Di samping itu, kulit ceri hanya seberat 5 gram. 2 gram lainnya kemungkinan cairan getah dan air pada kopinya yang menempel pada tangan dan wadah.

IMG_20170320_074920

Biji Kulit Cangkang

Secara umum, biji kopi punya beberapa lapisan kulit. Kulit terluar adalah kulit ceri, kuli cangkang, dan kulit ari. Setelah biji kupas dikeringkan, maka ada pengupasan tahap kedua. Ini untuk memisahkan antara kulit cangkang dengan biji kopi yang biasanya berwarna agak kehijau-hijauan. Setelah itu, biji kopi hijau dikeringkan lagi.

Biji Hijau

Biji kopi yang berwarna hijau, artinya masih ada kandungan airnya. Biji hijau ini biasanya juga dijemur sama seperti penjemuran biji kupas. Berat massa dan ukuran dari biji kupas atau biji kulit cangkang juga relatif lebih kecil. Setelah penjemuran, biji hijau akan berubah warna seperti kuning emas. Jika warnanya sudah tidak hijau lagi, artinya sudah siap masuk ke mesin sangrai.

Biji Sangrai

Meski bukan tahap paling akhir, tapi setidaknya kandungan air ‘diperas’ habis saat masuk mesin sangrai. Dengan suhu derajat tertentu, biji kopi disangrai dengan tiga level: light, medium, dan dark roasted. Yang jelas, makin hitam hasil sangrai, artinya kandungan air makin tiada.

Catatan:

  • Penyusutan massa kopi juga karena faktor getah dan air yang menempel pada tangan atau wadah saat mengupas.
  • Penyusutan massa kopi juga dipengaruhi pada proses pengolahan. Apakah itu full washed, semi-washed, honey, atau kering natural.
  • Setelah disangrai, biji kopi masih mengalami proses penyusutan massa yaitu oksidasi atau pengeluaran gas CO2 yang terkandung dalam kopi.

 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri

sumber :https://majalah.ottencoffee.co.id/3-hal-yang-harus-dilakukan-penikmat-kopi-saat-di-temanggung/

gunung -sindoro

Ngopi di tempat baru selalu menyenangkan. Kalau kamu belum pernah ke Temanggung, cobalah ke sana, lalu ngopi senikmatnya.

TEMANGGUNG adalah salah satu kota produsen kopi terbesar di Indonesia. Letaknya yang bersebelahan dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, membuat letaknya secara geografis cocok dengan perkebunan kopi arabika maupun robusta.

Di kancah lokal, kopi Temanggung dikenal sebagai kopi yang identik dengan aroma tembakau karena memang perkebunan tembakau juga tidak sedikit di sana. Di kancah internasional, kopi Temanggung sudah pernah memenangi kompetisi di Swedia dan Amerika. Tapi bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah bagaimana daya tarik kopi Temanggung bagi setiap penikmatnya.

Kalau kamu sedang di Temanggung, ada tiga hal yang harus kamu lakukan.

Keliling Kedai Kopi

Ngopi di Temanggung tak ada habisnya. Tidak sedikit kedai kopi di pusat kota dan pinggirannya. Tentu ini bukan hal yang luar biasa. Di kota lain pun barangkali seperti itu. Namun, yang membedakan kedai kopi di Temanggung dengan tempat lain adalah kopi yang disajikan. Di sini mereka menyediakan kopi-kopi lokal perkebunan Temanggung. Mulai dari yang arabika, robusta, excelsa, hingga liberica. Dari yang elit sampai yang tradisional. Semuanya wajib dijajal, selama itu produk lokal.

Credit : tani-temanggung.blogspot.co.id

Kunjungi petani

Letak geografis Temanggung yang rata-rata dataran tinggi dan pegunungan, tentu menunjang pertumbuhan kopinya. Menjadi hal yang pasti juga, banyak petani kopi di sana. Saya sendiri pernah mendatangi petani kopi di Dusun Jambon, Desa Gandurejo, bernama Mukidi.

Asyiknya, mereka cukup terbuka terhadap orang baru yang ingin tahu soal kopi atau sekedar icip-icip kopi. Beberapa petani selain Mukidi, sudah memiliki rumah produksi sendiri juga. Yang jelas, jika bertandang ke rumah petani, kamu bisa belajar langsung soal perkebunan kopi. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang sudah punya merk kopinya sendiri.

Wisata Alam

Pertama kali saya ke Temanggung, sepanjang perjalanan terlihat rambu-rambu tempat wisata. Maklum, Temanggung yang identik dengan udara sejuk disasar orang dari dataran rendah sebagai tempat berwisata. Cobalah berwisata ke sana. Yang penting, jangan lupa ngopi juga di sana.


 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri
Foto utama dari blog.umy.ac.id/duwikrisyanto/2014/10/14/asal-mula-nama-temanggung
Oleh: mukidi | Januari 26, 2017

Menelusuri lembah Ke Kebun Kopi Mukidi

16325925_1717207778304826_1282025264_oSore tepatnya hari Selasa, rumah kopi mukidi yang terletak di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung Kedatangan anak-anak muda yang masih kuliah di Jogyakarta.

Mereka datang katanya hanya ingin ngopi, setelah dibuatkan sambil menikmati kopi terjadi diskusi banyak soal kopi. Mulai dari karakteristik kopi hingga konsep petani mandiri. Cerita cerita itu membuat beberapa mahasiswa yang datang semakin penasaran tentang kopi. Semakin ingin tahu lebih detail, mungkin ini penulis bisa bilang “secangkir kopi ada cerita banyak saudara penuh cinta” ha ha ha

Atau mungkin ini lah “cerita cinta kopi mukidi ” ha ha ha serentak canda tawa itu muncul dari mahasiswa yang diskusi dan ditemani secangkir kopi mukidi. Cerita kemandirian petani penulis mencoba menjelaskan mulai olah lahan sampai pemasaran. Konsep itu sebuah pola contoh, tidak hanya wacana semu imbuh penulis.

Beberapa mahasiswa semakin penasaran dan ingin banyak tahu tentang kebon kopi. Saya tunjukan poto curug dan tebing yang terpajang di tembok jadi hiasan di Rumah Kopi mukidi. Wo begitu indahnya itulah bukti kekaguman dari mahasiswa diwujudkan dalam ekspresi wajah dan ucapannya.

Mereka mengajak ke Kebon dan saya sanggupi untuk pagi hari, dan usai meeting ya begitu jawab saya. Mereka sepakat dan janjian pagi harinya untuk datang kembali dan berjalan menelusuri lembah kopi mukidi.

Pagi harinya tepatnya Rabu 25 Januari 2017, mereka setia menunggu sampai usai penulis diskusi di Rumah kopi Mukidi. Begitu antusiasnya mereka untuk melihat dan menelusuri lembah menuju kebon Kopi Mukidi, sampai sampai bawa bekal untuk sarapan pagi.

Usai sarapan melanjutkan perjalanan menuju kebon kopi mukidi yang dari lokasi produksi kurang lebih sekitar 3 Km dengan ketinggian kebon 1457 m dpl. Perjalanan dengan mobil sampai batas jalan aspal di atas dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Mobil parkir di persimpangan antara kwadungan Glapansari.

Dari persimpangan tersebut sambil bawa bibit kopi beberapa biji berjalan dan menikmati indahnya lembah pengunungan lereng Sumbing. Perjalanan sambil cerita tentang beberapa komoditas yang dilihat merupakan pelajaran dan mengenali aneka komoditas yang ditanami petani.

Tak terasa diskusi kecil itu mengantarkan sampai ke kebon kopi mukidi. Suasana kabut dan gerimis membuat dingin dan harus berteduh di gubuk di lokasi kebun kopi. Hujan tak kunjung reda, karena kwatir tidak akan reda sampai sore kami harus menentukan sikap menerobos hujan setelah semua barang elektronik sudah dipastikan dikemas dalam plastik.

Basah kuyup tak membuat beberapa mahasiswa itu kalah dan menyerah, mereka bersemangat untuk menuju tempat parkir mobil yang dari lokasi kebun sekitar 1 km. Sampai lokasi mobil ternyata harus dorong karena mobil selep.

Cerita cerita di dalam mobil semakin seru karena basah kuyup. Sampai rumah kopi mukidi ada yang berani mandi karena bawa baju ganti, dan yang tidak bawa baju ganti menunggu kaos yang dipakai kering.

Masih diskusi sampai sore di rumah kopi mukidi sebelum lanjutkan pulang Jogja, bahkan ada yang buat kopi sendiri. Itulah cerita cinta kopi mukidi ha ha ha ha

Oleh: mukidi | Desember 30, 2016

Ke Bandung Belajar

Perjalanan ke Bandung untuk menimba ilmu tentang kopi kepada teman teman yang sudah berpengalaman merupakan hal yang membahagiakan. Perjalan berangkat tanggal 15 Desember 2016, difasilitas Disperindagkop Temanggung.

Gunung puntang merupakan tujuan utama, melihat hasil olahan kopi yang menjadi juara kontes di Atlanta dari olahan Ayi Sutedja. Perjalanan dari Temanggung pagi bersama rombongan melalu Yogyakarta naik kereta terdiri dari pelaku usaha dan Disperindagkop.

Satu hari perjalanan di kereta terbayang bagaimana pak Ayi Sutedja sampai bisa jadi juara di Atlanta. Tentunya perjalanan itu akan terjawab setelah ketemu dengan pak Ayi. Sampai di Bandung sudah malam dan menuju hotel untuk menginap.

Usai makan pagi sudah ditunggu mobil untuk mengantar ke lokasi G. Puntang  pak ke Ayi Sutedja. Kelelahan itu terbayarkan ketika sudah sampai di lokasi pak Ayi begitu panggilan akrab dari Ayi Sutedja.

Pertemuan dengan pak Ayi di lokasi wisata G. puntang di lokasi penanaman terlebih dulu. Pak Ayi sengaja menemui dilokasi penanaman yang bekerjasama dengan Perhutani. Dia memperkenalkan jenis kopi yang kemarin buat kontes dan dapat juara namanya Tipikal. Namun dilokasi terdapat juga line es.

Sudah merasa cukup melihat kebun, langsung menuju lokasi paska panen yang terletak kurang lebih 2 km dari lokasi hutan. Rumah kecil yang tertata dengan rapi, dengan bangunan semi permanen begitu enak dipandang mata. Siapa yang melihat pasti akan tertariknya. Penulis melihat 3 bangunan, satu bangunan untuk menerima tamu, ada juga ruang proses kopi untuk fullwash dan satu lokasi untuk ruang sangrai.

Penulis juga melihat satu bangunan mungkin untuk tempat menginap. Pak Ayi Sutedja menjelaskan paska panen mulai dari natural, honey dan full wash. Semua proses dilakukan sendiri dan dia menjelaskan penuh makna.

Perjalanan ke dua adalah ke gunung tilu belajar dengan pak Aleh. Lokasi pak Aleh mulai dari pembibitan, lokasi produksi semua jadi satu. Pak Aleh memperlihatkan lokasi pembibitan, dan membuatkan beberapa cangkir espresso untuk teman dari Temanggung.

Pak  Aleh menjelaskan proses membangun jaringan dengan petani, dan eksportir. Pak Aleh sering diajak temu dengan pengusaha yang difasilitasi Pemerintah. Tidak tinggal diam usai pertemuan Dia sering menindaklanjuti agar terjadi kerjasama dengan para pengusaha.

Kunjungan yang membawa inspirasi ini semoga bermanfaat dan berkah.

Oleh: mukidi | Desember 30, 2016

Remaja Berwirausaha Mengembangkan Potensi Diri

Darah muda penuh dengan semangat, dan sa’atnya juga untuk mengembangkan diri dengan banyak potensi. Terkait dengan semangat muda itu kopi mukidi mengadakan kegiatan untuk memberikan pengalaman tentang kewirausahaan kepada remaja desa.

Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 12 Desember 2016, bertempat di rumah kopi mukidi, Jambon Gandurejo Bulu dengan tema membangun kemandirian diri. Kegiatan yang diikuti 16 orang itu yang masih duduk dibangku sekolah menengah baik SMA/SMK.

Mukidi selaku owner dari kopi mukidi memberikan paparan dengan konsep petani mandiri dan aktivitas yang telah dilakukannya. Tidak hanya itu penulis mengajak untuk menggali potensi desa dan potensi diri yang bisa dikembangkan, tentu harus mulai dari sedikit.

Usai paparan dari penulis terjadi diskusi, bahkan remaja itu membentuk sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri. Mereka membuat kesepakatan bikin agenda pertemuan rutin dengan berbagai kegiatan tentunya. Kegiatan yang digagas mulai dari mengolah hasil pertanian, pelatihan jurnalistik, pelatihan potografi dan lainnya.

Perlu sebuah dukungan dari banyak pihak tentunya ketika kegiatan remaja itu akan berjalan. Banyak dibutuhkan dari orang orang yang ingin terlibat sesuai denga keahlian masing masing.

Oleh: mukidi | November 30, 2016

Glapansari Dan Kopal

Kopal kopi alpokat begitu karena kopi tumbuh dengan naungan pohon alpokat, sehingga mempunyai aroma alpokat begitu penjelasan salah satu anggota kelompok tani dari Desa Glapansari. Desa Glapansari masuk wilayah Kecamatan Parakan, sebuah kebanggaan kopi mukidi diundang Kepala Desa untuk memberikan motivasi kelompok terkait dengan kemandirian kelompok.

Tepatnya tanggal 29 Nopember 2016, bertempat di balai desa, penulis menjelaskan bagaimana petani agar meningkat hasilnya. Penulis mencoba menyampaikan konsep kemandirian bertani, mulai dari olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas jadi produk, dan pemasaran.

Keempat langkah itu harus dilakukan ketika ingin mendapatkan nilai lebih, tentunya tidak segampang yang dibayangkan. Semua melalui proses, kekuatan dalam menjalankan proses panjang itu yang akan berhasil meningkat kesejahteraannya. Usai paparan tentang konsep kemandirian terjadi diskusi panjang mulai menghitung peningkatan ketika kopi dijual gelondong sampai siap seduh. Cara menghitung dan muncul angka sebagai bentuk membangun mimpi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Sambil diskusi panjang juga praktek menggunakan mesin espresso, dan tak lupa terimakasih juga kepada Disperindagkop atas pinjaman mesinnya. Dari penggunaan mesin sehingga petani paham ternyata kopinya juga bisa sebanding kenikmatannya dengan kopi lainnya.

Ada pertanyaan dari peserta, Apakah kalau mau berusaha harus punya alat seperti itu? penulis mencoba menjelaskan mulai dari yang kecil, kopi mukidi mulai dari kecil dari 100.000 rupiah. Mulai dan konsisten dan berani promosi. Bentuk promosi yang sederhana adalah melalu media sosial dalam bentuk facebook, maupun lainnya.

Atau ketika bisa kerjasama dengan desa, atau kelompok yang ada di desa, ketika kelompok lain punya hajat bisa menggunakan kopi yang diproduksi kelompok. Mungkin juga bisa ketika ada acara rutin desa harus minum kopi yang diproduksi oleh kelompok. Itu salah satu bentuk promosi yang sederhana, jelas mukidi selaku owner kopi mukidi.

Paparan yang dimulai dari jam 12.15 wib dan berakhir sampai jam 15.45 wib mendapat respon baik. Itu terlihat tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan dan tandanya mereka mempunyai mimpi dan ingin membuktikan sebuah kemandirian dan berdampak kesejahteraan.

Kopi alpokat begitu kepala desa menyebutnya, dan bisa didapatkan disini saja, sambil menyebut Desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Tak lupa penulis juga mengucap terimakasih dan semoga bisa membangun kerjasama berkelanjutkan, dan salam petani mandiri, menata lingkungan dan ekonomi.

Older Posts »

Kategori