sumber :https://majalah.ottencoffee.co.id/5-tahap-penyusutan-biji-kopi-sebelum-tiba-di-cangkirmu/

cherries

Perbedaan bentuk antara singkong dengan keripik singkong, juga terjadi pada buah kopi dan bijinya yang siap minum.

BIJI kopi yang kamu lihat di kedai-kedai kopi bentuknya tidak sama dengan biji kopi yang baru saja dipanen. Perbedaan bentuk ini bukan tanpa sebab. Alasannya jelas: penyusutan kandungan air di dalam biji kopi.

Sebelum masuk cangkirmu, biji kopi harus dipastikan kering. Ini berguna untuk mencegah penjamuran yang pada akhirnya berujung pembusukan biji kopi.

Secara umum, penyusutan biji kopi melalui lima tahap. Saya sendiri melihat penyusutan biji kopi ini dari petani kopi di Dusun Jambon, Gandurejo, Temanggung, Jawa Tengah, bernama Mukidi. Menurut Mukidi, dalam 6 kg ceri kopi hanya dihasilkan 1 kg biji kopi. Artinya, penyusutannya jelas ada.

Ceri

Saat ceri kopi sudah ranum – warnanya kemerah-merahan – artinya sudah bisa dipanen. Ceri kopi ini merupakan buah pohon kopi arabika maupun robusta. Kandugan airnya jangan ditanya. Bayangkan saja seperti buah apel yang banyak airnya, tapi ketika dibikin keripik betapa renyahnya. Ceri kopi adalah tahap paling awal dari produksi minuman kopi. Pada tahap ini saya mencoba menimbang 13 gram ceri kopi.

Biji Kupas

Setelah panen, kulit ceri kopi dikupas – dipisahkan antara kulit dengan biji kopi yang ada di dalamnya. Biji kopi di dalam ceri kopi biasanya ada tiga jenis: biji dikotil (2 biji) yang matang, biji monokotil (1 biji) atau biasa disebut peaberry alias kopi lanang, dan biji yang busuk. Yang busuk dibuang saja ya, barangkali lebih berguna untuk campuran pupuk kompos. Setelah itu biji kupas dikeringkan beberapa hari. Tergantung cuaca. Setelah dikupas, biji kopi hanya seberat 6 gram. Di samping itu, kulit ceri hanya seberat 5 gram. 2 gram lainnya kemungkinan cairan getah dan air pada kopinya yang menempel pada tangan dan wadah.

IMG_20170320_074920

Biji Kulit Cangkang

Secara umum, biji kopi punya beberapa lapisan kulit. Kulit terluar adalah kulit ceri, kuli cangkang, dan kulit ari. Setelah biji kupas dikeringkan, maka ada pengupasan tahap kedua. Ini untuk memisahkan antara kulit cangkang dengan biji kopi yang biasanya berwarna agak kehijau-hijauan. Setelah itu, biji kopi hijau dikeringkan lagi.

Biji Hijau

Biji kopi yang berwarna hijau, artinya masih ada kandungan airnya. Biji hijau ini biasanya juga dijemur sama seperti penjemuran biji kupas. Berat massa dan ukuran dari biji kupas atau biji kulit cangkang juga relatif lebih kecil. Setelah penjemuran, biji hijau akan berubah warna seperti kuning emas. Jika warnanya sudah tidak hijau lagi, artinya sudah siap masuk ke mesin sangrai.

Biji Sangrai

Meski bukan tahap paling akhir, tapi setidaknya kandungan air ‘diperas’ habis saat masuk mesin sangrai. Dengan suhu derajat tertentu, biji kopi disangrai dengan tiga level: light, medium, dan dark roasted. Yang jelas, makin hitam hasil sangrai, artinya kandungan air makin tiada.

Catatan:

  • Penyusutan massa kopi juga karena faktor getah dan air yang menempel pada tangan atau wadah saat mengupas.
  • Penyusutan massa kopi juga dipengaruhi pada proses pengolahan. Apakah itu full washed, semi-washed, honey, atau kering natural.
  • Setelah disangrai, biji kopi masih mengalami proses penyusutan massa yaitu oksidasi atau pengeluaran gas CO2 yang terkandung dalam kopi.

 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri

sumber :https://majalah.ottencoffee.co.id/3-hal-yang-harus-dilakukan-penikmat-kopi-saat-di-temanggung/

gunung -sindoro

Ngopi di tempat baru selalu menyenangkan. Kalau kamu belum pernah ke Temanggung, cobalah ke sana, lalu ngopi senikmatnya.

TEMANGGUNG adalah salah satu kota produsen kopi terbesar di Indonesia. Letaknya yang bersebelahan dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, membuat letaknya secara geografis cocok dengan perkebunan kopi arabika maupun robusta.

Di kancah lokal, kopi Temanggung dikenal sebagai kopi yang identik dengan aroma tembakau karena memang perkebunan tembakau juga tidak sedikit di sana. Di kancah internasional, kopi Temanggung sudah pernah memenangi kompetisi di Swedia dan Amerika. Tapi bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah bagaimana daya tarik kopi Temanggung bagi setiap penikmatnya.

Kalau kamu sedang di Temanggung, ada tiga hal yang harus kamu lakukan.

Keliling Kedai Kopi

Ngopi di Temanggung tak ada habisnya. Tidak sedikit kedai kopi di pusat kota dan pinggirannya. Tentu ini bukan hal yang luar biasa. Di kota lain pun barangkali seperti itu. Namun, yang membedakan kedai kopi di Temanggung dengan tempat lain adalah kopi yang disajikan. Di sini mereka menyediakan kopi-kopi lokal perkebunan Temanggung. Mulai dari yang arabika, robusta, excelsa, hingga liberica. Dari yang elit sampai yang tradisional. Semuanya wajib dijajal, selama itu produk lokal.

Credit : tani-temanggung.blogspot.co.id

Kunjungi petani

Letak geografis Temanggung yang rata-rata dataran tinggi dan pegunungan, tentu menunjang pertumbuhan kopinya. Menjadi hal yang pasti juga, banyak petani kopi di sana. Saya sendiri pernah mendatangi petani kopi di Dusun Jambon, Desa Gandurejo, bernama Mukidi.

Asyiknya, mereka cukup terbuka terhadap orang baru yang ingin tahu soal kopi atau sekedar icip-icip kopi. Beberapa petani selain Mukidi, sudah memiliki rumah produksi sendiri juga. Yang jelas, jika bertandang ke rumah petani, kamu bisa belajar langsung soal perkebunan kopi. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang sudah punya merk kopinya sendiri.

Wisata Alam

Pertama kali saya ke Temanggung, sepanjang perjalanan terlihat rambu-rambu tempat wisata. Maklum, Temanggung yang identik dengan udara sejuk disasar orang dari dataran rendah sebagai tempat berwisata. Cobalah berwisata ke sana. Yang penting, jangan lupa ngopi juga di sana.


 

Penulis: Arya Adikristya, mahasiswa magang di Otten Magazine. Bisa minum kopi, bisa juga tidak minum kopi. Sapa ia melalui akun Twitter/Instagram @adikristya dan Facebook fb.me/AadikristyaN
Editor : Mustika T. Yuliandri
Foto utama dari blog.umy.ac.id/duwikrisyanto/2014/10/14/asal-mula-nama-temanggung
Oleh: mukidi | Januari 26, 2017

Menelusuri lembah Ke Kebun Kopi Mukidi

16325925_1717207778304826_1282025264_oSore tepatnya hari Selasa, rumah kopi mukidi yang terletak di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung Kedatangan anak-anak muda yang masih kuliah di Jogyakarta.

Mereka datang katanya hanya ingin ngopi, setelah dibuatkan sambil menikmati kopi terjadi diskusi banyak soal kopi. Mulai dari karakteristik kopi hingga konsep petani mandiri. Cerita cerita itu membuat beberapa mahasiswa yang datang semakin penasaran tentang kopi. Semakin ingin tahu lebih detail, mungkin ini penulis bisa bilang “secangkir kopi ada cerita banyak saudara penuh cinta” ha ha ha

Atau mungkin ini lah “cerita cinta kopi mukidi ” ha ha ha serentak canda tawa itu muncul dari mahasiswa yang diskusi dan ditemani secangkir kopi mukidi. Cerita kemandirian petani penulis mencoba menjelaskan mulai olah lahan sampai pemasaran. Konsep itu sebuah pola contoh, tidak hanya wacana semu imbuh penulis.

Beberapa mahasiswa semakin penasaran dan ingin banyak tahu tentang kebon kopi. Saya tunjukan poto curug dan tebing yang terpajang di tembok jadi hiasan di Rumah Kopi mukidi. Wo begitu indahnya itulah bukti kekaguman dari mahasiswa diwujudkan dalam ekspresi wajah dan ucapannya.

Mereka mengajak ke Kebon dan saya sanggupi untuk pagi hari, dan usai meeting ya begitu jawab saya. Mereka sepakat dan janjian pagi harinya untuk datang kembali dan berjalan menelusuri lembah kopi mukidi.

Pagi harinya tepatnya Rabu 25 Januari 2017, mereka setia menunggu sampai usai penulis diskusi di Rumah kopi Mukidi. Begitu antusiasnya mereka untuk melihat dan menelusuri lembah menuju kebon Kopi Mukidi, sampai sampai bawa bekal untuk sarapan pagi.

Usai sarapan melanjutkan perjalanan menuju kebon kopi mukidi yang dari lokasi produksi kurang lebih sekitar 3 Km dengan ketinggian kebon 1457 m dpl. Perjalanan dengan mobil sampai batas jalan aspal di atas dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Mobil parkir di persimpangan antara kwadungan Glapansari.

Dari persimpangan tersebut sambil bawa bibit kopi beberapa biji berjalan dan menikmati indahnya lembah pengunungan lereng Sumbing. Perjalanan sambil cerita tentang beberapa komoditas yang dilihat merupakan pelajaran dan mengenali aneka komoditas yang ditanami petani.

Tak terasa diskusi kecil itu mengantarkan sampai ke kebon kopi mukidi. Suasana kabut dan gerimis membuat dingin dan harus berteduh di gubuk di lokasi kebun kopi. Hujan tak kunjung reda, karena kwatir tidak akan reda sampai sore kami harus menentukan sikap menerobos hujan setelah semua barang elektronik sudah dipastikan dikemas dalam plastik.

Basah kuyup tak membuat beberapa mahasiswa itu kalah dan menyerah, mereka bersemangat untuk menuju tempat parkir mobil yang dari lokasi kebun sekitar 1 km. Sampai lokasi mobil ternyata harus dorong karena mobil selep.

Cerita cerita di dalam mobil semakin seru karena basah kuyup. Sampai rumah kopi mukidi ada yang berani mandi karena bawa baju ganti, dan yang tidak bawa baju ganti menunggu kaos yang dipakai kering.

Masih diskusi sampai sore di rumah kopi mukidi sebelum lanjutkan pulang Jogja, bahkan ada yang buat kopi sendiri. Itulah cerita cinta kopi mukidi ha ha ha ha

Oleh: mukidi | Desember 30, 2016

Ke Bandung Belajar

Perjalanan ke Bandung untuk menimba ilmu tentang kopi kepada teman teman yang sudah berpengalaman merupakan hal yang membahagiakan. Perjalan berangkat tanggal 15 Desember 2016, difasilitas Disperindagkop Temanggung.

Gunung puntang merupakan tujuan utama, melihat hasil olahan kopi yang menjadi juara kontes di Atlanta dari olahan Ayi Sutedja. Perjalanan dari Temanggung pagi bersama rombongan melalu Yogyakarta naik kereta terdiri dari pelaku usaha dan Disperindagkop.

Satu hari perjalanan di kereta terbayang bagaimana pak Ayi Sutedja sampai bisa jadi juara di Atlanta. Tentunya perjalanan itu akan terjawab setelah ketemu dengan pak Ayi. Sampai di Bandung sudah malam dan menuju hotel untuk menginap.

Usai makan pagi sudah ditunggu mobil untuk mengantar ke lokasi G. Puntang  pak ke Ayi Sutedja. Kelelahan itu terbayarkan ketika sudah sampai di lokasi pak Ayi begitu panggilan akrab dari Ayi Sutedja.

Pertemuan dengan pak Ayi di lokasi wisata G. puntang di lokasi penanaman terlebih dulu. Pak Ayi sengaja menemui dilokasi penanaman yang bekerjasama dengan Perhutani. Dia memperkenalkan jenis kopi yang kemarin buat kontes dan dapat juara namanya Tipikal. Namun dilokasi terdapat juga line es.

Sudah merasa cukup melihat kebun, langsung menuju lokasi paska panen yang terletak kurang lebih 2 km dari lokasi hutan. Rumah kecil yang tertata dengan rapi, dengan bangunan semi permanen begitu enak dipandang mata. Siapa yang melihat pasti akan tertariknya. Penulis melihat 3 bangunan, satu bangunan untuk menerima tamu, ada juga ruang proses kopi untuk fullwash dan satu lokasi untuk ruang sangrai.

Penulis juga melihat satu bangunan mungkin untuk tempat menginap. Pak Ayi Sutedja menjelaskan paska panen mulai dari natural, honey dan full wash. Semua proses dilakukan sendiri dan dia menjelaskan penuh makna.

Perjalanan ke dua adalah ke gunung tilu belajar dengan pak Aleh. Lokasi pak Aleh mulai dari pembibitan, lokasi produksi semua jadi satu. Pak Aleh memperlihatkan lokasi pembibitan, dan membuatkan beberapa cangkir espresso untuk teman dari Temanggung.

Pak  Aleh menjelaskan proses membangun jaringan dengan petani, dan eksportir. Pak Aleh sering diajak temu dengan pengusaha yang difasilitasi Pemerintah. Tidak tinggal diam usai pertemuan Dia sering menindaklanjuti agar terjadi kerjasama dengan para pengusaha.

Kunjungan yang membawa inspirasi ini semoga bermanfaat dan berkah.

Oleh: mukidi | Desember 30, 2016

Remaja Berwirausaha Mengembangkan Potensi Diri

Darah muda penuh dengan semangat, dan sa’atnya juga untuk mengembangkan diri dengan banyak potensi. Terkait dengan semangat muda itu kopi mukidi mengadakan kegiatan untuk memberikan pengalaman tentang kewirausahaan kepada remaja desa.

Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 12 Desember 2016, bertempat di rumah kopi mukidi, Jambon Gandurejo Bulu dengan tema membangun kemandirian diri. Kegiatan yang diikuti 16 orang itu yang masih duduk dibangku sekolah menengah baik SMA/SMK.

Mukidi selaku owner dari kopi mukidi memberikan paparan dengan konsep petani mandiri dan aktivitas yang telah dilakukannya. Tidak hanya itu penulis mengajak untuk menggali potensi desa dan potensi diri yang bisa dikembangkan, tentu harus mulai dari sedikit.

Usai paparan dari penulis terjadi diskusi, bahkan remaja itu membentuk sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri. Mereka membuat kesepakatan bikin agenda pertemuan rutin dengan berbagai kegiatan tentunya. Kegiatan yang digagas mulai dari mengolah hasil pertanian, pelatihan jurnalistik, pelatihan potografi dan lainnya.

Perlu sebuah dukungan dari banyak pihak tentunya ketika kegiatan remaja itu akan berjalan. Banyak dibutuhkan dari orang orang yang ingin terlibat sesuai denga keahlian masing masing.

Oleh: mukidi | November 30, 2016

Glapansari Dan Kopal

Kopal kopi alpokat begitu karena kopi tumbuh dengan naungan pohon alpokat, sehingga mempunyai aroma alpokat begitu penjelasan salah satu anggota kelompok tani dari Desa Glapansari. Desa Glapansari masuk wilayah Kecamatan Parakan, sebuah kebanggaan kopi mukidi diundang Kepala Desa untuk memberikan motivasi kelompok terkait dengan kemandirian kelompok.

Tepatnya tanggal 29 Nopember 2016, bertempat di balai desa, penulis menjelaskan bagaimana petani agar meningkat hasilnya. Penulis mencoba menyampaikan konsep kemandirian bertani, mulai dari olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas jadi produk, dan pemasaran.

Keempat langkah itu harus dilakukan ketika ingin mendapatkan nilai lebih, tentunya tidak segampang yang dibayangkan. Semua melalui proses, kekuatan dalam menjalankan proses panjang itu yang akan berhasil meningkat kesejahteraannya. Usai paparan tentang konsep kemandirian terjadi diskusi panjang mulai menghitung peningkatan ketika kopi dijual gelondong sampai siap seduh. Cara menghitung dan muncul angka sebagai bentuk membangun mimpi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Sambil diskusi panjang juga praktek menggunakan mesin espresso, dan tak lupa terimakasih juga kepada Disperindagkop atas pinjaman mesinnya. Dari penggunaan mesin sehingga petani paham ternyata kopinya juga bisa sebanding kenikmatannya dengan kopi lainnya.

Ada pertanyaan dari peserta, Apakah kalau mau berusaha harus punya alat seperti itu? penulis mencoba menjelaskan mulai dari yang kecil, kopi mukidi mulai dari kecil dari 100.000 rupiah. Mulai dan konsisten dan berani promosi. Bentuk promosi yang sederhana adalah melalu media sosial dalam bentuk facebook, maupun lainnya.

Atau ketika bisa kerjasama dengan desa, atau kelompok yang ada di desa, ketika kelompok lain punya hajat bisa menggunakan kopi yang diproduksi kelompok. Mungkin juga bisa ketika ada acara rutin desa harus minum kopi yang diproduksi oleh kelompok. Itu salah satu bentuk promosi yang sederhana, jelas mukidi selaku owner kopi mukidi.

Paparan yang dimulai dari jam 12.15 wib dan berakhir sampai jam 15.45 wib mendapat respon baik. Itu terlihat tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan dan tandanya mereka mempunyai mimpi dan ingin membuktikan sebuah kemandirian dan berdampak kesejahteraan.

Kopi alpokat begitu kepala desa menyebutnya, dan bisa didapatkan disini saja, sambil menyebut Desa Glapansari Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Tak lupa penulis juga mengucap terimakasih dan semoga bisa membangun kerjasama berkelanjutkan, dan salam petani mandiri, menata lingkungan dan ekonomi.

Oleh: mukidi | November 21, 2016

Kopi Ekonomi Produktif Dan Pernikahan Dini

Belum lama penulis kedatangan tamu dari UPT Badan Keluarga Pemberdayaan Perempuan Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung. Maksud kedatangannya tak lain untuk mengurangi pernikahan dini, dengan usaha produktif.

“kita punya program untuk mengurangi pernikahan dini, salah satu kegiatannya remaja usia dibawah 25 tahun. Bagaimana dia mempunyai kegiatan ekonomi berbasis lingkungan setempat seperti pertanian maupun peternakan. Kita sudah kaji ternyata untuk wilayah setempat kopi mempunyai peluang yang luar biasa. Ini menjadi pilihan kami sebagai bentuk kegiatan untuk usaha produktif,” kata Muhammad Asyiq,S.Ag selaku UPT BKBPP Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung.

Apa yang dikatakan pak Asyig mendapat jodoh, karena penulis selaku owner kopi mukidi mempunyai program sosial untuk Kelompok baik kelompok tani dan remaja, sekolah dan pesantren. e e e sambil guyonan ma’af pak Asyig tahu saya dari man? Dia menjawab dari Sarwadi Muncar.

Penulis juga perlu jelaskan bahwa Sarwadi adalah petani dari Muncar yang sudah mulai proses produksi kopi, mulai dari paska panen sampai jadi bubuk, dan memasarkannya. Diskusi berlanjut menentukan waktu saya berkenan membagikan pengalaman bagi remaja, dan disepakati hari minggu tanggal 20 November 2016.

Tepatnya jam 14.00 wib, kemarin 20 November 2016 kegiatan diskusi itu benar dilakukan. Saya sempat terkejut ternyata pesertanya remaja semua, dari tingkat pendidikan ada yang masih kuliah.

Saya sampaikan  aktivitas saya tentang konsep petani mandiri, dan kopi Temanggung. Saya mencoba menghitungkan dengan kopi ketika dijual Gelondong, berasan sampai jadi minuman siap seduh. Peserta semua terkejut dengan nilai tambah yang luar biasa.

Angka itu adalah proses membangun mimpi, lalu bagaimana itu mendapatkan nilai itu tak lain kita harus berani mulai. Dalam diskusi juga banyak pertanyaan mulai bagaimana penulis hadapi tantangan dan strategi pasar. Penulis mencoba menjelaskan semuanya, usai diskusi dilanjutkan praktek sangrai kopi dan menyajikan kopi yang dipandu oleh Sarwadi dari Muncar Gemawang.

Sarwadi menjelaskan teknik sangrai kopi dengan alat buatan dari Temanggung. Mulai dari kapasitas alat sampai tingkat kematangan kopi. Ternyata Sarwadi juga sudah mahir dan hasil sangrainya luar biasa.

Rentetan acara usai setelah icip kopi dan berakhir dengan acara sesi poto bareng tiap kelompok. Selamat menikmati kopi Temanggung dan mengembangkan jadi wirausaha muda sebagai kegiatan mengurangi pernikahan dini. Syukur sebelum menikah sudah punya usaha semua , semangat dan kegiatan akan dilanjut untuk kunjungan ke kelompok tiap desa, nunggu kesepakatan jadwal, antara penulis, UPT BKBPP dan Kelompok Remaja.

 

Oleh: mukidi | November 5, 2016

Berbagi Kemandirian,Membangun Kekuatan Ekonomi.

Pagi hari tepatnya, rabu 3 November 2016, rombongan dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Kediri Jawa Timur sampai di Rumah Kopi Mukidi. Rombangan yang berjumlah 13 orang terdiri dari petani dan BKP3, setelah ditemui oleh owner kopi mukidi (penulis).

Pimpinan rombongan menyampaikan maksud dan tujuannya, untuk ngasuh kawruh terkait dengan perkopian atau apa yang dilakukan penulis. Serta memperkenalkan satu persatu dari peserta yang hadir.

Usai perkenalan penulis mencoba sampaikan bahwa usaha itu adalah karena konsep ideologis kemandirian yang sering disebut konsep petani mandiri. Penulis mencoba menjelaskan untuk meningkatkan kesejahteraan dilahan sempit bagaimana bisa meningkat pendapatannya.

Olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas, olah komoditas jadi produk dan pemasaran. Penulis menjelaskan ketika itu dilakukan oleh petani maka nilai tambah akan meningkat sangat sinigfikan. Namun penulis menambah itu perlu sebuah konsistensi dan jangan takut godaan. Menurut penulis godaan yang paling hebat adalah godaan internal dan lingkungan terdekat.

Tidak cukup diskusi selanjutnya mencoba icip icip kopi dari olahan rumah kopi mukidi. Dari hasil diskusi dan icip kopi nampaknya menambah suana semakin semangat ketika muncul banyak pertanyaan. Penulis mencoba menghitung peningkatan pendapatan dari hasil jual kopi gelondong sampai siap seduh. Peningkatan pendapatan itu mencoba membangun mimpi kemandirian nilai ekonomi, kuncinya konsisten dan kuat diproses.

Semoga mimpi berbagi itu bisa memberikan motivasi bagi sedulur tani dari Kediri Jawa Timur. Serta ini bukan akhir untuk ketemu tapi awal untuk membangun kemandirian ekonomi, salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

 

Oleh: mukidi | Oktober 21, 2016

Perjalanan dan Berbagi

Beberapa minggu atau bulan yang lalu penulis berbagi cerita, di beberapa kota. Yogyakarta, Semarang dan di Wilayah Jawa Barat. Tentunya perjalanan berbagi pengalaman ini sebagai ajang untuk saling belajar.

poto diambil dari akmad irvan Riyadi

Memahami kekurangan diri itulah sebuah hal untuk mau belajar, sehingga akan menambah banyak pengalaman. Di Yogyakarta tepatnya di Kedai Kebun penulis datang ke sana atas undangan panitia yang di komando pak tri agus, diskusi terkait sebuah kemandirian petani.

Kemandirian atau penulis sebut Petani Mandiri, bagaimana petani dari hulu sampai ke hilir berperan. Penulis mencoba untuk mengimplementasi sebuah mimpi besar sekaligus memberi contoh. Mulai dari olah lahan hingga sampai produk dan pasar, Pola contoh ini tidak sekedar bicara.

Diskusi yang dihadiri dari berbagai kalangan mahasiswa dan pemilik cafe tersebut terjadi umban balik. Mulai bagaimana menyelamatkan tanah agar tidak tergerus erosi permukaan tanahnya hingga nikmatnya secangkir kopi.

Setelah dari Jogja meluncur ke Jawa barat tepatnya di Kuningan. Penulis sampai ke sana atas undangan dari Okky.

Acara di Jawa barat ini lebih banyak dihadiri petani dan barista. Diskusi menarik sampai pada icip kopi dari semua peserta yang bawa kopi.

 

Oleh: mukidi | Agustus 14, 2016

Potensi Itu Di Desa

poto diambil dari focebook fitriyati irawati

Begitu mendengar tentang desa, maka banyak fikiran yang timbul, mulai dari terpencilnya hingga sampai dana desanya. Dari keterpencilnya itu tersembunyi sebuah potensi luar biasa. Tentunya potensi itu juga macam-macam tinggal dari sisi mana melihatnya.

Awal munculnya sebuah potensi itu karena banyaknya bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang sehingga keluar sebuah gagasan. Gagasan kecil ketika direalisasikan itu akan mengeluarkan ide besar yang pasti akan menghasilkan kekuatan bagi desa hingga muncul nilai ekonomi.

Namun kekuatan menjalankan hingga keluar nilai ekonomi itu perlu perjalannya banyak. Jalan panjang berliku mungkin itu sebuah ungkapan yang sering keluar dari banyak orang. Konsistensi mengelola sebuah potensi kecil itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Contoh kecil cerita hasil pertanian biar mempunyai nilai yang lebih itu satu pekerjaan yang harus diselesaikan. Banyak yang cerita orang aneh, tidak punya kerjaan dan lainnya. Karena masih banyak yang melihat bukan dari konsep awal, tapi melihat dari sisi ekonomi. Lalu Bagaimana untuk membuktikannya itulah jalan panjang berliku.

Cerita potensi dan gagasan kecil itu bisa disosialisasikan dengan siapa yang ketemu. Kemampuan untuk bercerita itu butuh sebuah keberanian. Intinya ada potensi yang tersimpan dan keberanian menyampaikan kepada pihak lain. Mungkin ini dulu ah cerita nya bisa disambung lagi, ini lagi ada tamu ha ha ha ha

Older Posts »

Kategori