Oleh: mukidi | Agustus 14, 2016

Potensi Itu Di Desa

poto diambil dari focebook fitriyati irawati

Begitu mendengar tentang desa, maka banyak fikiran yang timbul, mulai dari terpencilnya hingga sampai dana desanya. Dari keterpencilnya itu tersembunyi sebuah potensi luar biasa. Tentunya potensi itu juga macam-macam tinggal dari sisi mana melihatnya.

Awal munculnya sebuah potensi itu karena banyaknya bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang sehingga keluar sebuah gagasan. Gagasan kecil ketika direalisasikan itu akan mengeluarkan ide besar yang pasti akan menghasilkan kekuatan bagi desa hingga muncul nilai ekonomi.

Namun kekuatan menjalankan hingga keluar nilai ekonomi itu perlu perjalannya banyak. Jalan panjang berliku mungkin itu sebuah ungkapan yang sering keluar dari banyak orang. Konsistensi mengelola sebuah potensi kecil itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Contoh kecil cerita hasil pertanian biar mempunyai nilai yang lebih itu satu pekerjaan yang harus diselesaikan. Banyak yang cerita orang aneh, tidak punya kerjaan dan lainnya. Karena masih banyak yang melihat bukan dari konsep awal, tapi melihat dari sisi ekonomi. Lalu Bagaimana untuk membuktikannya itulah jalan panjang berliku.

Cerita potensi dan gagasan kecil itu bisa disosialisasikan dengan siapa yang ketemu. Kemampuan untuk bercerita itu butuh sebuah keberanian. Intinya ada potensi yang tersimpan dan keberanian menyampaikan kepada pihak lain. Mungkin ini dulu ah cerita nya bisa disambung lagi, ini lagi ada tamu ha ha ha ha

Oleh: mukidi | Juli 15, 2016

Lebaran dengan Secangkir Kopi Temanggung

jepretan Emi fa

Tepatnya di Dusun Jambon Gandurejo Rumah kopi mukidi sebuah rumah kecil jauh dari keramaian perkotaan. Masuk wilayah Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung Jawa tengah. Lebaran banyak yang mudik, bahkan sa’at mereka akan kembali bekerja kembali harus mencari oleh oleh dari daerah setempat.

Kopi Temanggung merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Temanggung. Tidak sebatas produk unggulan saja,namun Kopi Temanggung sudah mendapat nama dikontes perkopian baik nasional maupun internasional. Begitu juga banyak masyarakat Temanggung yang telah mengolah kopi jadi produk yang dikemas. Bahkan menyulap rumahnya jadi kedai kopi ataupun warung kopi seperti rumah kopi mukidi.

Rumah kopi mukidi sa’at lebaran banyak dikunjungi tamu mulai H+1 ada yang sekedar ingin icip kopi dari arabika lereng Gunung Sumbing yang barusan terbang ke Amerika. Silih berganti tamu bagi penulis merupakan berkah dan berbagi cerita tentang kopi. Tak lupa penulis juga berbagi cerita tentang kemandirian petani.

Cerita -cerita kemandirian dan secangkir kopi kepada tamunya penulis selalu tularkan, sesuai dengan filosofinya “secangkir kopi ada cerita banyak saudara dan penuh cinta”. Bahkan syawalan pun penulis masih kedatangan tamu untuk berbagi pengalaman olah kopi. Beberapa petani Glapansari dan anggota Himpunan Tani bagaimana petani biar bisa mandiri dan mampu bersaing. Penulis mencoba sudah sa’atnya membangun kekuatan dan kebersamaan.

Diskusi diskusi kecil itu sambil diselingi canda dan tawa, tak lupa secangkir Kopi Temanggung sebagai penghangat suana ha ha ha ha.

 

 

Oleh: mukidi | Juni 21, 2016

Membangun Jejaring dan Pasar Online

jempretan deden

Tepatnya minggu, 19 Juni 2016, jam 15.30 wib,rumah kopi mukidi menjadi tempat untuk bertemu dan berdiskusi tentang sebuah kemandirian pertanian. Menurut penulis yang sekaligus juga pengagas konsep petani mandiri, “bahwa petani itu bisa meningkat kesejahteraannya dengan lahan sempit, ketika menerapkan 4 tahap, “jelasnya.

“olah lahan sesuai kaedah konservasi, aneka komoditas di lahan mulai dari komoditas harian, bulanan dan tahunan, membuat sebuah produk dari komoditas tersebut dan memasarkannya,”paparnya.

Penulis temukan bahwa petani baru pada tahap 1 dan 2 yaitu olah lahan dan komoditas. Langkah selanjutnya petani harus bergabung untuk membuat kekuatan yang mandiri, dan baru dibentuk belum lama oleh penulis selaku inisiator dengan nama himpunan tani.

Penulis mencoba menjelaskan tentang tahapan itu dihadapan peserta yang hadir dalam diskusi. Adapun peserta dari Desa Wonotirto ada perangkat desa dan pengurus kelompok tani, begitu juga dari Desa Gandurejo. Hadir juga ada salah satu perangkat desa dari Desa Tegallurung Kecamatan Bulu.

Diskusi santai itu sambil melihat film dokumenter tentang, penulis dan kopi serta mimpinya untuk mewujudkan wisata kopi dan budaya. Paparan mulai dari bagaimana nanti bisa melibatkan semua pihak, mulai dari rumah penduduk setempat jadi homestay. Bahkan mencoba menjelaskan tentang organisasi dan kaderisasi, intinya semua itu terletak bagaimana memasarkan, dan promosi.

Materi kedua diisi oleh dobelden yang mencoba menjelaskan tentang pasar online. “Pasar online itu bisa pakai facebook atau media lainnya, bahkan bisa pakai pelapak online yang sudah disediakan oleh pihak lain,”jelasnya.

“terkait dengan produk bisa dari olahan hasil pertanian, seperti yang dilakukan oleh @kopimukidi yang dipunyai mukidi itu menjual olahan hasil perkebunan,”tambahnya.

Hadir juga tamu dari Jogja sekaligus penulis meminta untuk mengisi diskusi Irman Ariadi bersama temannya. Kang irman begitu panggilannya mencoba menjelaskan dan bikin ketawa “bahwa sekarang ini orang lebih percaya dengan mesin ketimbang manusia, contohnya mereka lebih percaya dengan map buatan manusia,”paparnya.

Diskusi menjelang buka puasa itu semakin asyik ketika terjadi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan dari peserta. Mulai dari membuat kemasan yang baik,bikin blog, dan lainnya. Nampaknya masyarakat desa dan perlu diajak untuk mengembangkan potensi yang ada diwilayah setempat. Tak lain salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi itulah jargon petani mandiri.

 

 

jepretan klimin jazz

Kunjungan beberapa petani dari Sarongge Cianjur Jawa Barat pada bulan lalu tepatnya, 26 sampai 29 Mei 2016. Kunjungan yang rencana 4 orang untuk melihat dari dekat tentang omah kopi mukidi dan tentang kopi dari budidaya sampai pada sangrai kopi.

Kunjungan itu menginap di rumah Bapak Maryadi penduduk Dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Malam Pertama kunjungan diskusi dengan beberapa petani mulai dari semai kopi. Baik semai dari biji maupun anakan kopi atau cabutan. Diskusi itu terdiri dari tuan rumah dan anaknya, 3 petani dari Dusun Kwadungan dan 3 petani dari Sarongge, serta penulis sendiri.

Diskusi kecil ini berlangsung kurang lebih 2 jam, berlangsung dengan banyak pertanyaan. Mulai dari kelebihan dan kekurangannya dengan 2 macam antara dari cabutan dan biji. Tentunya diskusi saling mengisi sesama petani semakin asyik, namun karena waktu semakin malam, penulis minta pamit untuk pulang ke omah kopi mukidi di Jambon Gandurejo.

Pagi hari acara melanjutkan ke kebon milik pak Maryadi yang merupakan tanaman kopi robusta didataran tinggi dipadukan dengan tanaman semusim. Robusta dataran tinggi memang hasilnya tidak bisa maksimal, pasti akan mempunyai cita rasa yang beda dan mutu yang beda juga. Dilahan ini melihat bagaimana perawatan kopi, penyakit kopi dan hama yang sering ditemukan.

Malam hari diskusi lagi tentang proses kopi usai panen. Penjelasan proses natural dan lainnya. Diskusi ini semakin banyak pesertanya, ada juga beberapa petani tua dan muda mengikutinya. Diskusi  seperti biasa berlangsung kurang lebih 2 jam.

Kunjungan pagi hari usai makan ke lahan penulis yang ketinggiannya 1457 dpl, ini seru karena diskusi ini semakin menarik. Pertanyaan yang aneh muncul kenapa pilih lahan yang curam dan curang seperti ini, pertanyaan itu muncul dari pak mustofa salah satu petani dari Sarongge. Penulis mencoba menjelaskan ingin bikin sejarah, dan konservasi lahan. Sejarah itu tidak bisa dinilai dengan uang dan akan dikenang selama-lamanya jelas saya.

Kunjungan berikutnya ke kebon kopi punya pak Paidi yang mempunyai 2000 batang, dan lahan mas Wahyu Widodo. Lelah berkunjung ke kebon kebon kopi sehingga malamnya tidak ada diskusi yang ditentukan, tapi ada materi diskusi dengan petani lainnya.

Pagi harinya sebelum pulang belajar tentang sangrai kopi di omah kopi mukidi. Mulai mengenal biji kopi yang akan disangrai, alat sangrai, suhu masuk biji dan ketika kopi matang. Mereka mencatat dengan cermat dan kata pak sofian dan kang dudung karena harus menularkan yang didapat di Temanggung untuk di Sarongge. Akhirnya penulis ucapkan terimakasih kunjungan dan selamat berkarya di Sarongge semoga membawa manfaat untuk semuanya.

Oleh: mukidi | Mei 29, 2016

Angkat Potensi Desa Wonotirto dan Kembangkan

Sore itu hujan gerimis tidak menyurutkan semangat untuk diskusi dengan teman-teman pengurus pemuda Dusun Kwadungan Desa Wonotirto Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Desa paling ujung berbatasan langsung dengan hutan lindung ini banyak potensi mulai dari arsitetur kuno masih ada.

Dari potensi pertanian juga merupakan penghasil tembakau mutu baik karena  masuk wilayah Lamsi. Dari sisi budaya tradisional sangat banyak mulai dari sandul, wulang sunu, kethoprak, kuda lumping dan lainnya. Tradisi nyadran juga masih kental di Desa Wonotirto.

Wonotirto dengan 4 dusun mulai dari Dusun Kwadungan, Wunut, Tritis, dan Grubug semuanya memiliki keunikan masing-masing. Di Dusun Grubug pernah ditemukan Harimau tutul, dan di Dusun Tritis ada peninggalan sumber mata air wali orang menyebutkan. Dusun Wunut juga ada monument meteorit, sedangkan untuk Dusun Kwadungan ada keunikan tersendiri mulai dari pepunden dan lainnya.

Tepatnya tanggal 24 Mei 2016, bertempat di ketua pemuda Dusun Kwadungan Wonotirto penulis mencoba mengajak diskusi dengan pengurus pemuda. Kurang lebih 50 pengurus pemuda datang untuk mengali potensi yang ada untuk dikembangkan.

Hadir dalam pertemuan itu ketua HiPMI Temanggung, Jabal coffee, dan Penulis selaku pemilik kopi mukidi dan kang Deden selaku admin kopi mukidi. Pembukaan oleh pengurus pemuda langsung dilanjut pemutaran film tentang profil kopi mukidi, usai pemutaran film dokumenter dilanjut paparan Ketua HIPMI tentang potensi Temanggung di android.

Terjadi proses diskusi menarik, dan banyak pekerjaan yang harus dikembangkan, mulai dari mengali potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Mengemas dalam sebuah wadah kepemudaan dan tentunya akan bisa menghasilkan untuk kesejahteraan bagi semuannya. Mungkin ini catatan awal dan membangun dan membangkitkan semangat pemuda untuk membangun desa, dengan kemandirian dan salam petani mandiri.

 

 

Judul bukunya kurang lebih begini”Jagongan Media Rakyat 2016 menganyam inisiatif komunitas. Kalau saya bisa menerjemahkan jagongan itu lah duduk bersama, dan rembugan atau ngobrol.

Dalam buku itu disebutkan bahwa kegiatan itu berlangsung setiap 2 tahun sekali dan diinisiasi oleh Combine resource institution. Kegiatan itu sudah dimulai sejak tahun 2010. JMR begitu mudah menyebutnya dan merupakan ruang pertemuan berbagai pihak untuk membahas isu isu sosial. Dalam buku itu juga disebutkan pembahasan isu tentunya harus memberikan kontribusi untuk perubahan sosial yang lebih baik.

Dari buku itu disebutkan #JMR2016 suguhkan 25 isu mulai dari Inovasi,advokasi dan literasi. Kegiatan itu terbuka untuk siapapun, dan bertempat di Jogja National Museum.

Tahun ini komunitas atau Himpunan Tani Kopi Temanggung ikut meriahkan stand yang disediakan panitia JMR2016. Stand kopi itu diisi dari kopi yang tergabung dengan himpunan tani kopi Temanggung. Stand himpunan kopi Temanggung ini menjadi tempat bertemunya banyak orang untuk ngumpul dan menjadi daya tarik tersendiri untuk mengenalkan kopi Temanggung, kata salah satu panitia #JMR2016.

Himpunan tani juga mendapat kehormatan untuk berbagi pengalaman dalam diskusi yang bertema ekonomi, konservasi dan kemandirian. Diskusi yang dimoderatore oleh Bagus Adi Wibowo, dan narasumber Mukidi dan Sarkoni semua dari pengurus dan anggota himpunan tani ini mengundang banyak hal yang manarik bagi peserta.

Pertanyaan yang mendasar kenapa harus bersama untuk sukses ketika sendiri saja bisa? jawabnya senderhana itulah panggilan hati, dan kaderisasi, jawab mukidi dan disambut senyum dan tawa kecil oleh peserta diskusi.

Lepas pameran dilanjut untuk evaluasi minggu kemarin. Hingga tawaran untuk melanjutkan pameran sekaligus diskusi diskusi ke daerah Jawa Barat. Tentunya tawaran itu menarik dan apalagi ketika evaluasi kemarin hadir dari salah satu pihak panitia #JMR2016. Selamat dan semoga membawa manfa’at bagi orang banyak. Tentunya tak lupa salam petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

 

 

 

Oleh: mukidi | Februari 29, 2016

Menuju Tunggilis Sarongge

tunggilisPerjalanan menuju ke Sarongge dan Tunggilis ada cerita, tentunya sampai kesana tak luput dari pak Tosca santoso Awal cerita ketemu beliau Dia pernah berkunjung ke #umahkopimukidi. Dia mendampingi petani Sarongge yang menanam sayuran organik dan sekarang membagikan bibit tanaman kopi dengan programnya adopsi pohon.

Membagikan pohon kopi bagi yang minat untuk menanam sebagai upaya untuk penyelamatan lahan dari tingkat erosi begitu jelasnya. Tak lama pak Tosca begitu orang memanggilnya memesan alat roasting dari Mukidi dan mengundangnya untuk berbagi cara roasting di rumahnya Serpong Tangerang Selatan.

Perjalannya menuju ke Serpong dengan mas Dobelden tepatnya tanggal 11 Pebruari 2016 tujuan pertama rumah beliau pak Tosca. Pagi 12 Pebruari2016 sampai juga ke wilayah Serpong e e e ternyata salah turun ha ha ha ha, untung beliau mas Dobelden yang tukang IT langsung mainkan GPS ketemu juga lokasi tujuan, walaupun sempat ganti angkut 3 kali ha ha ha.

Hampir dekat dengan rumah pak Tosca e e e beliau kontak, akhirnya di jemput jadilah diskusi menarik sekilas berputar putar diangkot ha ha ha. Istirahat di Pak Tosca sampai menjelang sholat Jum’at dan usai Sholat jum’at mulai diskusi kecil dan sangrai kopi.

Kelas roasting kecil itu ada beberapa orang teman pak Tosca hadir juga. Saya mencoba menjelaskan tentang kapasitas alat roasting dan sistim kerjanya. Melangkah selanjutnya teknik penggunaan alat dan fungsinya. Sangrai kopi Temanggung dimulai, namun begitu sudah ada bunyi kopi pecah sebagai pertanda mulai matang kopi e e e tempat untuk biji kopi sangrai belum ada. Pepatah tidak ada rotan akar pun jadi, terpakai juga. Nampan plastik dipakai untuk wadah kopi sangrai, karena tidak bisa dibolak balik ada kopi semakin tua warnanya.

Akhirnya pindah ke lantai dan dikasih alas kertas untuk menyelamatkannya. Begitu kopi sudah dingin dicoba untuk dicupping dan dianalisa hasilnya. Mulai dari kopi yang diambil sempel dari kopi bunyi pecah, trus mengambil sempel ke dua dan berikutnya ke tiga sampai pada kopi yang keluar semua. Aneka aroma dan test semua beda itulah saya sebut karakter kopi sesuai dengan profil sangrainya.

Obrolan itu sampai sore, bahkan sampai kami bertiga masih ngobrol seputar kopi sampai jelang makan malam. Bahkan pak Tosca bilang besuk kita harus meluncur pagi jam 5, karena perjalan ke Tunggilis dan mampir ke Lokasi untuk penanaman pohon dengan menteri lingkungan hidup.

Dilokasi untuk penanaman pohon yang akan dikerjakan pada minggu pagi itu saya bisa bertemu dengan teman-teman pak Tosca. Usai dari lokasi langsung menuju Tunggilis dan diskusi dengan beberapa petani disana, tepatnya 14.00 wib petani mulai berdatangan ke tempat pertemuan.

Pak RT setempat membuka pertemuan dan dilanjut ke pak Tosca memberikan pengantar seputar tentang kehadiran saya di Tunggilis. Saya memulai memperkenalkan diri, dan bercerita awal tentang konsep petani mandiri sampai pada produk kopi.

Usai paparan konsep itu terjadilah cerita yang menarik, bahkan diskusi tentang iklim yang beda antara Temanggung dan Tunggilis. Saya mencoba menjelaskan bahwa petani dikita ini sudah pintar dan paham dengan peta wilayah. Dengan kepahaman wilayah maka dia lebih bisa akan berinovasi cara mengatasi tentang perubahan iklim.

Diskusi ditemani secangkir kopimukidi, jadi tambah asyik apalagi hujan menguyur Tunggilis waktu itu. Usai diskusi namun hujan tetap masih turun, kami harus melanjutkan perjalanan ke Sarongge. Sampailah di Sawung Sarongge, saya pernah mendengar cerita Sarongge dan melihat di TV e e e ternyata sekarang sampai disini begitu kesan pertama.

Tak sempat diskusi karena lelah kami langsung istirahat. Pagi hari kami bagi tugas Pak Tosca bersama tim ke lokasi untuk acara dengan menteri lingkungan hidup dan saya bersama tim menuju taman nasional Sarongge. Diskusi menarik sambil berjalan tak lain adalah tentang strowbery, karena itul pemandangan yang terlihat.

Sambil Sawung di taman nasional kami duduk sejenak dan diskusi tak lama takut hujan turun. Kami bersama rombongan pulang menuju Sawung Sarongge, e e e belum lama hujan turun sambil menikmati bakso Cianjur. Begitulah cerita tentang Sarongge…….

uns 1Bagi warga Kwadungan Desa Wonotirto Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, 27 November 2015 merupakan sejarah tersendiri. Hari itu warga kedatangan tamu dari 17 Negara, mereka semua mahasiswa yang baru belajar di UNS. Dengan Programnya UNS goes to village, UNS mengajak mahasiswa untuk mengenal budaya desa, sekaligus mahasiswa dari luar untuk belajar bahasa Indonesia.

Mereka datang tidak lama, hanya 3 hari tapi kegiatannya luar biasa padatnya. Datang usai jum’atan agak terlambat dari rencana karena ada kemacetan lalulintas begitu info yang diterima. Namun tidak menjadikan persoalan yang mendasar keterlambatan kedatangannya. Mereka datang langsung menuju tempat sekretariat, penyambutan selamat datang oleh perangkat desa.

uns2Pembagian tanda pengenal untuk panitia lokal dan tamu, dengan iket motif Parang Gondosuli. Pembagian pemodokan untuk tidur dirumah warga juga merata karena setiap RT ada. Mereka tidur dirumah warga dengan kondisi seadanya. Panitia lokal yang terdiri dari pemuda dusun ada yang bertugas memandu dan memastikan ketepatan waktu untuk berkegiatan.

Menuju ke rumah pemodokan diantar oleh pemandu dari panitia lokal, mereka bersapa. Bagi yang bisa berbahasa inggris mereka coba prakteknya, bagi yang belum bisa tetap menggunakan bahasa indonesia, bahkan ada yang menggunakan bahasa jawa.

Tentunya sapa dan canda akan mereka dapatkan, karena ada yang kadang tidak paham,tapi itu tidak mengurangi keakraban dalam silaturahmi. Mengenali lokasi pemodokan tidak begitu lama, karena mereka harus bertemu dan mengajar kepada anak-anak taman pendidikan Al Qur’an. Sesi pembelajaran di TPQ Al-barokah Kwadungan Wonotirto juga macam macam mulai mengenalkan asal Negaranya, dan lainnya.

Hari pertama kegiatan juga hadir dari pejabat Pemerintah Kabupaten Temanggung, Babinsa Bulu, Polsek Bulu, Camat Bulu, bahkan Kesbanglinmas serta dari Polres Temanggung ada yang datang ikut memantau jalannya kegiatan. Mereka berdiskusi banyak tentang program dari UNS dengan pimpinan program UNS goes to village.

uns5Usai dari TPQ mereka kepemodokan untuk istirahat karena malam harinya harus berkegiatan kembali bertemu dengan warga Kwadungan Wonotirto. Pertemuan sarasehan malam itu ditempat bapak siswadi, mulai dari sambutan kepala desa hingga potensi desa mereka paparkan. tak lupa dari pihak UNS juga menjelaskan maksud dan tujuan datang ke desa. Ramah tamah ini berjalan dengan sedau garau apalagi pas pada perkenalan masing-masing mahasiswa. Hampir 2 jam pertemuan berlangsung mereka menuju ke pemodokan istirahat, karena esuk harinya harus berkegiatan lagi.

Hari ke-2 pagi tepatnya jam 07.00 mereka menuju lokasi kebun kopi, untuk belajar tentang budidaya,proses sampai pada penyajian. Perjalannya menuju lokasi kebun juga menjadi pengalaman tersendiri, mereka bercerita tentang pemodokan dan dingin udara pengunungan. Di kebun penulis mencoba menjelaskan tentang konsep kemandirian petani, budidaya kopi hingga penyajian. Diskusi seputar penyajian kopi menarik, mulai penggunaan alat hingga cita rasa kopi. Usai diskusi dilakukan pembagian souvenir kopi bubuk karya penulis.

Berlanjut acara berikutnya berjalan kaki menuju SMP N 3 Bulu, wooo perjalanan ini seru sekali. Sampai di SMP mereka disambut dengan ramah oleh pihak sekolah mulai dari kepala sekolah dan staf lainnya. Terlihat dari aura wajahnya para guru begitu antusias menyambut tamu-tamunya.

Ruang pemyambutan tersedia kacang dan jagung rebus, sebagai teman untuk cemilan sebelum acara dimulai. Selamat datang ke SMP N 3 Bulu dilakukan oleh bagian kesiswaan, mewakili pihak sekolah. Mereka masuk kelas didampingi guru kelas masing-masing, semua mahasiswa mengajar sesuai gaya masing masing. Diruang kelas mengenalkan negara mereka, bahkan yang diluar kelas mengajar menarik dan game. Pemandangan menarik dan pengalaman tersendiri bagi siswa dan guru SMP N 3 Bulu.

Usai berkegiatan di SMP pulang menuju ke sekretariat untuk makan bersama dan istirahat. Istirahat berlangsung selama 1,5 jam kembali berkegiatan mengenal tembakau. Bapak Sukadi petani dari kwadungan Wonotirto menjelaskan tentang budidaya tembakau, mulai dari penyemaian hingga sampai jadi lintingan. Nampak semangat mempelajari tentang pertanian ini terlihat dari wajah-wajah mahasiswa, begitu tekun mendengarkan hingga ada yang mencoba untuk nganjang tembakau.

Hampir 2 jam paparan tentang tembakau dan diskusinya, dilanjut kembali kepomodokan untuk istirahat karena malam harinya masih ada kegiatan. acara malam hari mereka nonton latihan kethoprak, dari aura wajahnya terlihat mereka sangat respon dengan kesenian tradisional ini. usai jejeran kethoprak ada beberapa mahasiswa yang ikut memainkan alat musik gamelan dengan lagu dolanan gundul pacul dan cubek cubek suweng. Ini jadi tontonan menarik juga bagi warga desa dan akhirnya juga sama-sama gumun ha ha ha ha.

sebelas malam mereka balik kemondokan karena esuknya harus melanjutkan ke kampus UNS. Pagi hari banyak yang tidak boleh pulang oleh tuan rumah pemodokan masih ingin lama berjumpa. Banyak yang berjanji ingin kembali lagi. selamat berpisah hanya dilahir saja dihati tetap satu, pasti kau akan kembali lagi, ada sebuah cerita menarik di kwadungan Wonotirto.

Oleh: mukidi | November 17, 2015

UNS Goes to Village Wonotirto

Belum lama saya dikontak sama mas Roiz Irsyad kurang lebih begini, “Pak mukidi dulu pernah bilang bahwa desa Bapak bisa dijadikan proses untuk saling belajar dengan mahasiswa. Kebetulan ini saya ada teman dari UNS dengan mahasiswa asingnya untuk berkegiatan di desa,”bagaimana pak apakah berkenan? begitu kontak mas Roiz Irsyad melalui HP.

Saya jawab begini mas Roiz mbok kita ketemu barang saja, dengan teman dari UNS biar lebih jelas dan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan di desa. Oke pak mukidi kita sampai keteman UNS. Akhirnya pada hari yang telah disepakati datang mas Roiz dan teman teman dari UNS.

Mas Roiz membuka pembicaraan dan dilanjut oleh teman UNS. Mereka menjelaskan tentang program UNS Goes to Village. Program ini merupakan kegiatan rutin tahunan, bagi mahasiswa dari luar negeri yang belajar di UNS. Mereka harus belajar bahasa indonesia, dan sekaligus bertemu dengan masyarakat desa biar mereka kenal potensi desa dan belajar dengan masyarakat desa.

Pada penjelas terakhir tapi ini nanti dilibatkan panitia lokal terutama pemuda. Begitu ada persyaratan keterlibatan dengan pemuda saya langsung ingin tempat kelahiran saya Kwadungan Wonotirto. Mereka sepakat untuk menuju Kwadungan Wonotirto, tujuan ke rumah saya menemui kakak saya dan selanjutnya dengan ketua pemuda dan Kepala Dusun Kwadungan Wonotirto.

Dari hasil diskusi terjadi kesepakatan dan Wonotirto jadi pilihan, “dan saya bersama tim akan datang lagi hari selasa untuk mematangkan kegiatan ini,”jelas salah satu tim dari UNS.

Tepatnya selasa 17 November 2015, tim UNS datang dan ketemu di #umahkopimukidi. Di umahkopimukidi sudah banyak tapi ada yang dari Pringsurat dan Candiroto sehingga diskusi jadi lebih seru dan lama. Setelah tamu dari Candiroto pulang,dan Pringsurat pulang,saya bersama tim UNS langsung menuju Kwadungan Wonotirto.

Ketemu dengan Tuyadi, Sukir dan Romidi, menyusun kegiatan yang akan dilakukan beserta biaya yang timbul.Kegiatan yang disusun mulai dari ketika mahasiswa datang hingga pada akhirnya. Kegiatan yang akan dilakukan mulai dari pertanian Budidaya tembakau, karena ini sudah diluar musim nanti diperlihatkan ladang tembakau dan penjelasan proses menjadi tembakau yang sudah kering dan siap linting.

Pembuatan bedeng cabai dan penanaman juga menjadi pilihan kegiatan. Kegiatan selanjutnya mengenali kopi dan seduh kopi di kebun. Kunjungan ke SMP dan tempat pengajian anak-anak menjadi target bagi, karena mahasiswa dari luar negeri itu untuk mengenalkan negaranya masing masing di anak SMP maupun TPQ. Sambil cerita banyak tentang potensi desa saya bilang wah dari wonotirto bisa sembilan gunung ketika baru langit cerah, dan tentunya sunrisenya tak kalah baik. Saya yakin kegiatan pasti seru bisa pas tanggal mainnya tunggu cerita selanjutnya tentang UNS Goes to village.

Older Posts »

Kategori