Oleh: mukidi | Februari 9, 2010

Guru dari pakar lapangan

Dimana ada kesempatan menimba ilmu selalu kucari, siapa pun orangnya tidak pernah aku hiraukan. Mau petani yang langsung praktek, mau dosen, atau hanya tukang bikin bibit tanaman atau tukang pengelola sampah semuanya mempunyai pengalaman yang menarik.

Bagiku ilmu tidak pandang bulu, kebaikan itu bisa datang dari siapa pun, anak kecil dewasa atau tukang macul. Ketika ilmu-ilmu yang perbaikan lingkungan yang pasti ke depan juga bisa mendatangkan nilai ekonomi harus kita pelajari semua.

Banyak ilmu aku belajari dari para pakar, baik itu pakar yang langsung praktek atau para ahli bahkan sering juga otodidak. Pembibitan aren aku belajar dari cerita petani, mulai dari kolang kaling yang tua, hingga siap disemai. Terus pembibitan jabon, dari petani langsung yang membibitan jabon, ilmu itu gratis semua.

Dari aren sudah aku kuasai, pembibitan jati juga sudah aku kuasai, bangga dan puas rasanya ketika bikin pembibitan dan mulai nampak tunas atau berkecambah walaupun agak lama. Satu tahun yang lalu belajar pembibitan kopi dari petani, kini juga sudah bisa dan bahkan kopi yang ditanam hasil pembibitan sendiri. Akhirnya ucapan terimakasih aku sampaikan kepada para pakar-pakar yang telah memberikan ilmu gratis kepadaku.

Oleh: mukidi | Januari 31, 2010

Dukungan Petani Tua

Seperti biasanya pada minggu pagi yang merupakan hari libur kerja di perusahaan, namun waktu libur tersebut selalu ku gunakan untuk ke ladang. Tidak seperti biasanya, kali ini lewat jalan yang lain sambil nonton pemandangan alam yang beda tampilannya. Namun sayang tidak bawa kamera sehingga tidak bisa jeprat-jepret pemandangan.

Tidak begitu jauh dari ladang saya dan merupakan jalur yang dilewati, terlihat petani tua yang sedang mencangkul, terlihat sehat sekali. “mbah sampun gasik,” begitu sapa saya kepada pak tani tersebut. “yooo arep nandur kopi,” Jawab pak tani tadi. “nggih,” jawab saya kembali.

Sambil melanjutkan perjalanan menuju lahan kethekan, yang ku rencanakan untuk tanaman kopi 1000 batang jenis arabica. Kelak kopi ini merupakan investasi dan sekaligus sebagai percontohan untuk petani yang dekat dengan lahan saya.

Sesampai dilahan tanpa istirahat langsung saja mulai menanam kopi, pada lahan yang telah dicangkul oleh paman saya. Ambil cangkul bikin lubang langsung tanam, karena cuma bawa kopi sedikit langsung selesai, dan lihat batas-batas lahan dipinggir sungai. usai itu langsung pulang, lewat jalan yang tadi.

Terlihat pak tani yang tua sedang mencangkul dengan semangat tak ajak pulang, tidak mau dan memberi semangat kepada saya. “wah nek tanduri kopi mesti metu,” katanya. (kalau ditanami kopi pasti akan panen), baru kali ini saya mendapat dukungan dari petani. mulai dari rencana mau tanam dan bawah kopi ke ladang selalu dikatakan aneh. e e ternyata masih ada yang dukung juga niiii dan akhirnya terimakasih pak tua kau telah mendukungku, dan semakin semangat serta harus semangat membangun lahan tanpa merusak lingkungan demi menata ekonomi.

Oleh: mukidi | Januari 18, 2010

Tanah subur kopi untuk konservasi

Ketika aku mau tanam kopi dilahan yang belum pernah ada kopinya selalu mendapat pengaruh dari orang- orang. Kebanyakan mereka menganggap tidak akan tumbuh, akan dimakan kera atau yang lainnya. Justru pengaruh itu membuat aku ingin selalu mencoba.

Satu tahun yang lalu cerita itu selalu menghantui diriku, aku harus mencoba itu tekadku. Mulailah aku memberi biji kopi yang sudah tua di petani, terus aku semai sendiri. Semua aku mulai dengan istriku sekalian belajar dan merubah dari keluargaku untuk senang dengan tanam menanam.

Kopi yang saya semai juga diminta petani untuk dipindah ke polibag, namun aneh yang dipetani banyak yang mati. Walaupun ditempatku juga ada yang mati tidak begitu banyak dibandingkan dengan tempat petani. Mungkin kurang perawatan kopi di petani, karena mereka belum terbiasa membuat pembibitan kopi.

Desember (gedhene sumber) begitu orang jawa menyebutnya, mulailah aku menanam kopi. Tepatnya tanggal 5 desember 2009, dengan dibantu kakak dan tetangga dekat saya. Belum begitu banyak kopi yang aku tanam, baru 250 batang. Target ku lahan yang akan aku tanami kopi harus 1000 batang, biar investasi lingkungan dan ekonomi bisa nampak 5 tahun kedepan.

Tepatnya 10 Januari 2010, aku kembali melihat perkembangan kopi dilahanku, sekalian membawa 30 batang kopi. Perkembangan kopi sangat mengembirakan, walaupun belum dipupuk kopi yang aku tanam nampak pertumbuhannya baik, ini bukti kalau tanah itu subur walaupun berbatuan.

Keyakinanku semakin bertambah bahwa tanah subur semakin baik kalau dikonservasi dengan kopi, secara tidak langsung dengan kopi akan dapat meningkatkan pendapatan keluarga saya. Sederhana berfikir kopi selamatkan lingkungan dan ekonomi keluarga, mari buktikan.

Oleh: mukidi | Januari 16, 2010

Lahan disiakan

Oleh: mukidi | Januari 1, 2010

Tahun Baru Semangat Bikin Hutan Baru

Tahun baru kebanyakan orang berhura-hura, melihat kembangapi, pergi wisata. Mereka tidak pernah berfikir tentang kerusakan lingkungan, kerusakan hutan, hingga bahayanya ketika hutan habis. Bahkan ketika tahun baru sering terlihat di alun-alun atau yang lainnya ketika usai pesta kembangapi apa yang terlihat, tak lain sampah.

maka sederhana bagiku tahun baru selamatkan lingkungan, dan tingkatkan untuk perbaikannya. Di tahun baru itu sekalian wisata alam tanpa beli tiket, bisa mendengarkan suara burung, dan angin di hutan damar. Timbul pikiran apakah hutan ini akan bertahan sampai tahun berikutnya.

Di hutan damar mencari benih damar di bawah pohonnya dengan petani yang dekat hutan. Sambil tanya,” ini sudah berapa tahun pak”? tanya saya. “sudah 30 tahun lebih,” jawab petani.

Dalam hatiku berkata, bikin hutan itu lama, tapi kok ya ada orang yang menebang tanpa menanam. Padahal menebang satu pohon itu untuk oksigen dua orang, berarti ketika menebang tanpa menanam kembali sama saja membunuh dua manusia ha ha ha.

Di tahun yang baru mari tumbuhkan semangat baru dan bikin hutan baru. Semakin banyak hutan akan semakin baik udara, air dan semua ekosistem. Kalau satu orang tanam pohon satu terlalu sedikit bagiku, satu orang tanam sepuluh gitu.

Kan tidak harus beli ketika kita mau tanam pohon, bisa bikin sendiri dari biji. Kalau kita beli rambutan atau mangga ya rawat bijinya, dan semailah biji tersebut, nanti akan tumbuh tunas masukkan ke polibag atau kaleng bekas yang sudah siap ada media tanamnya, yaitu campuran pupuk dan tanah. Rawat ketika besar dan anda tidak punya lahan, sumbangkan kepada petani atau yang mempunyai lahan untuk menanam, sederhanakan menciptakan hutan baru, bisa dengan tanaman buah kan.

Sistim hulu hilir harus dibangun biar terjadi keseimbangan alam. Selamat tahun baru, mari lestarikan hutan dan bikin hutan baru.

Oleh: mukidi | Desember 25, 2009

Belajar bertani, Petani Harus Belajar

Genap seminggu aku bermain ke Candiroto bertemu dengan Pak Suratman, memang dia bukan petani tulen. Dia PNS namun mendekati pesiun menggeluti dunia pertanian, “kalau saya perhatikan dari dulu sejak bertugas keliling di pedesaan saya perhatikan, sebenarnya pertanianlah yang bisa mencukupi kebutuhan hidup, makanya sekarang saya tekuni pertanian ketika pada hari libur,” jelas Suratman.

Apa yang dikatakan Ratman ternyata benar, di lahan pinggir sungai dan berkopi, nampak tempat pembuatan kompos. Komposter sederhana dengan buat lubang tanah ukuran panjang 3 meter, lebar 2 meter dengan kedalaman 1 meter, Dia isi dengan kotoran kamping, ayam dan hijauan daun. “hijauan daun itu aku minta masyarakat yang tidak dipergunakan,” tambahnya.

“Bagi saya yang penting belajar, dari siapa pun. Bagaimana kalau kita ingin maju, kelompok tidak jalan, selama ini kelompok hanya mencari pupuk saja. makanya saya harus memberi contoh, jangan ketergantungan dengan pupuk kimia, salah satunya saya bikin kompos,” papar Ratman.

Suratman yang tinggal di Winong Candiroto tidak hanya bertani kopi, namun juga bertani padi. Di sawahnya pinggir jalan puyang Candiroto terlihat baru menyiang padi, dibantu dengan tenaga kerjanya. “Tanah ini dulu saya beli, sekarang mau dibeli orang, tapi tidak mau dijual karena tanah harta yang tak ternilai harganya. Kuncinya petani itu sregep, jangan gampang tergiur oleh uang, terutama pembeli lahan dan mau belajar dari siapapun syukur kelompok punya perpustakaan” imbuhnya.

Itu obrolan dengan Pak Ratman, sungguh luar biasa kalau petani semuanya berfikir seperti Dia tentunya akan maju. Mau belajar apapun dari sumber manapun artinya tidak menunggu dari sumber dari dinas saja yang selama ini terkesan lambat dalam pelayanannya.

Terobosan baru memang perlu dikembangkan, sudah sa’atnya petani mempunyai media komunitasi sendiri. Bisa membangun jaringan dengan millist petani mungkin bagi petani yang sudah mampu berinternet, bahkan sampai menjual produknya langsung melalui internet.

Melihat kenyataan dilapangan petani masih menjual barang mentah saja, belum mengelolanya menjadi lebih mempunyai nilai jualnya. Kopi masih gelondongan, kayu juga belum ada yang berfikir diolah dengan kerajinan yang tentunya dengan sedikit kayu akan mempunyai nilai tambah yang lebih.

melihat semua itu siapa yang bertanggung jawab untuk memajukan petani kita. Tentunya kita semua yang mempunyai keperdulian kepada petani, dan petani pun juga jangan malas belajar, harus semangat memcari informasi seperti Pak Ratman. Semangat dan jangan putus asa petani, yakinlah kalau mau belajar dan mencoba lahan pertanian akan bisa meningkatkan kesejahteraan petani sendiri.

Oleh: mukidi | Desember 18, 2009

Pengolahan limbah plastik dengan metode daur ulang

http://onlinebuku.com/2009/01/20/pengolahan-limbah-plastik-dengan-metode-daur-ulang-recycle/

Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula buangan/limbah yang dihasilkan. Limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat sering disebut limbah domestik atau sampah. Limbah tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Selain itu aktifitas industri yang kian meningkat tidak terlepas dari isu lingkungan. Industri selain menghasilkan produk juga menghasilkan limbah. Dan bila limbah industri ini dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.Jenis limbah pada dasarnya memiliki dua bentuk yang umum yaitu; padat dan cair, dengan tiga prinsip pengolahan dasar teknologi pengolahan limbah;

Limbah dihasilkan pada umumnya akibat dari sebuah proses produksi yang keluar dalam bentuk %scrapt atau bahan baku yang memang sudah bisa terpakai. Dalam sebuah hukum ekologi menyatakan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis. Artinya alam sendiri mengeluarkan limbah akan tetapi limbah tersebut selalu dan akan dimanfaatkan oleh makhluk yang lain. Prinsip ini dikenal dengan prinsip Ekosistem (ekologi sistem) dimana makhluk hidup yang ada di dalam sebuah rantai pasok makanan akan menerima limbah sebagai bahan baku yang baru.

Limbah Plastik

Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).

Plastik juga merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berahaya bagi lingkungan. Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Sedangkan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kita yang berada di Indonesia,penggunaan bahan plastik bisa kita temukan di hampir seluruh aktivitas hidup kita. Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle). Bayangkan saja jika kita berbelanja makanan di warung tiga kali sehari berarti dalam satu bulan satu orang dapat menggunakan 90 kantung plastik yang seringkali dibuang begitu saja. Jika setengah penduduk Indonesia melakukan hal itu maka akan terkumpul 90×125 juta=11250 juta kantung plastik yang mencemari lingkungan. Berbeda jika kondisi berjalan sebaliknya yaitu dengan penghematan kita dapat menekan hingga nyaris 90% dari total sampah yang terbuang percuma. Namun fenomena yang terjadi adalah penduduk Indonesia yang masih malu jika membawa kantung plastik kemana-mana. Untuk informasi saja bahwa di supermarket negara China, setiap pengunjung diwajibkan membawa kantung plastik sendiri dan apabila tidak membawa maka akan dikenakan biaya tambahan atas plastik yang dikeluarkan pihak supermarket.

Pengelolaan Limbah Plastik Dengan Metode Recycle (Daur Ulang)

Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya (Sasse et al.,1995).

Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas (Syafitrie, 2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena (PP), dan asoi.

Plastik Daur Ulang Sebagai Matriks

Di Indonesia, plastik daur ulang sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di Inggris dan Italia plastik daur ulang telah digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).

Pemanfaatan plastik daur ulang dalam bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pembuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian mengenai pemanfaatan plastik polipropilena daur ulang sebagai substitusi perekat termoset dalam pembuatan papan partikel telah dilakukan oleh Febrianto dkk (2001). Produk papan partikel yang dihasilkan memiliki stabilitas dimensi dan kekuatan mekanis yang tinggi dibandingkan dengan papan partikel konvensional. Penelitian plastik daur ulang sebagai matriks komposit kayu plastik dilakukan Setyawati (2003) dan Sulaeman (2003) dengan menggunakan plastik polipropilena daur ulang. Dalam pembuatan komposit kayu plastik daur ulang, beberapa polimer termoplastik dapat digunakan sebagai matriks, tetapi dibatasi oleh rendahnya temperatur permulaan dan pemanasan dekomposisi kayu (lebih kurang 200°C).

Oleh: mukidi | Desember 6, 2009

Kopi di Kethekan

Kethekan begitu orang menyebut lahan tegalan, karena tempat itu banyak muncul keranya. Daerah yang berketinggian sekitar 1500 dari permukaan laut, dan letaknya dilereng sumbing, dengan banyak batuan alami.

Mengapa aku memilih lahan yang jarang masyarakat sekitar tanam kopi, aku pilih kopi. Itulah yang aku pilih ketika harus merubah orang, pola contoh itu yang diterapkan. Lahan sekitar kethekan kebanyakan ditanami tembakau, namun aku tetap kopi.

Kenapa kopi? sederhana alasanku baik juga untuk konservasi, itu secara ekonomi juga mendukung kok. Ketika aku membawa kopi, hasil dari pembibitan sendiri, banyak petani yang mau beli. Aku jawab mau tanam sendiri. Ini terbukti sebenarnya petani juga tertarik lho untuk tanam kopi.

Dalam hati aku berkata, wah kalau program kopi dari pemerintah itu diberikan kepada yang memang membutuhkan dan mau tanam akan berhasil. Ah sudah lah kembali lagi ke perkopian, aku tanam kopi 250 batang, namun belum selesai masih kurang banyak kopinya.

Jabon pemberian dari Cv.Piranti Works yang produksi radio kayu juga aku coba tanam dilahan kethekan. Dengan niat memperbaiki lingkungan, dan diskusi dengan tenaga yang masih muda membantu menanam aku ngomong kalau bertani sekarang harus berfikir dan berani mencari terobosan. Artinya harus berani menanam tanaman yang beda dengan yang lain, walaupun kadang sering digunjing.

ya sekalian sosialisasi tentang kopi, mulai dari perawatan hingga sampai panennya. Ketika sampai pada panennya, dan hasilnya e  tenaga yang membantu menanam kopi bilang, ” la ternyata banyak juga ya, tanam sekali tiap tahun bisa panen”.

Bagiku dari sedikit menanam dan aku yakin 4 hingga 5 tahun akan menghasilkan. Memikirkan ekonomi yang tidak mempunyai dampak kerusakan lingkungan terlalu banyak, petani juga harus berfikir ke lingkungan juga.

Oleh: mukidi | Desember 4, 2009

Singkong Berubah Gula

GULA SINGKONG MUDAH BERCAMPUR DENGAN BAHAN LAIN, HARGANYA LEBIH MURAH , DAN LEBIH MUDAH DISERAP TUBUH KARENA BERUPA GLUKOSA. DENGAN KELEBIHAN ITU DUNIA INDUSTRI MEMERLUKAN GULA SINGKONG DALAM JUMLAH BESAR.

Saat ini harga gula pasir Rp8.000 per kg. Gula asal tebu Sacharum officinarum merupakan sumber pemanis utama. Kebutuhan gula nasional mencapai 4,3-juta ton per tahun. Padahal, produksi dalam negeri hanya 2,72-juta ton per tahun, sehingga untuk mencukupi kebutuhan Indonesia harus mengimpor.

Pantas bila harga gula cenderung melonjak karena hampir 50% kebutuhan nasional bergantung pada impor. Bila harga gula di pasar dunia naik, maka harga di dalam negeri pun ikut melonjak. Oleh karena itu konsumen-terutama dunia industri-melirik sumber pemanis alternatif. Menurut Dr Nur Richana, periset di Balai Besar Pascapanen Pertanian, pemanis alternatif yang berpotensi adalah gula cair. ‘Gula cair dapat mudah dibuat dari hidrolisis pati. Sumber pati pun melimpah seperti singkong,’ kata Richana.

Enzimatis

Mengapa singkong? Singkong sebagai sumber pati ketersediaannya memadai. Luas penanaman singkong cenderung meningkat. Pada 2008, luas tanam kerabat jarak itu 1.204.933 ha meningkat dari setahun sebelumnya yang 1.201.481 ha. Harganya pun lebih murah ketimbang sumber pati lain seperti jagung. Selain itu rendemen juga sangat tinggi, mencapai 80-95%. Artinya dari sekilo tapioka menghasilkan 800-950 g gula cair. Untuk memproduksi gula cair, produsen dapat memanfaatkan tapioka alias tepung singkong. Dari sekilo singkong menghasilkan 250-300 g pati. Menurut Richana gula cair dari tapioka dibuat dengan teknologi enzimatis. Prosesnya terdiri atas dua tahap: likuifikasi dan sakarifikasi yang melibatkan enzim. Likuifikasi merupakan pemecahan pati menjadi dekstrin dengan bantuan enzim alfa-amilase. Sedangkan sakarifikasi berupa penguraian dekstrin menjadi glukosa dengan enzim amiloglukosidase.

Pada tahap likuifikasi, produsen mencampur tapioka dengan air. Tiga liter air untuk melarutkan sekilo tapioka dan diaduk rata. Campuran itu lalu dipanaskan pada suhu 95-105oC. Selama pemanasan, produsen menambahkan 0,8 ml enzim alfa-amilase per kg pati tapioka. Tingkat keasaman larutan juga dipertahankan pada pH 6,2-6,4. Caranya dengan menambahkan natrium hidroksida atau kalsium klorida.

Setelah 60 menit, tepung tapioka itu terdegradasi menjadi dekstrin (baca: Olah Tapioka Jadi Dekstrin, Trubus Agustus 2009). Setelah didinginkan hingga suhu 60oC, produsen menambahkan 0,8 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Proses itu disebut sakarifikasi yang berlangsung selama 76 jam. Selama sakarifikasi pH diatur pada kisaran 4-4,6 dengan menambahkan asam klorida ke dalam larutan pati. Proses sakarifikasi dihentikan dengan memberikan 0,5-1% arang aktif per kilogram pati. Arang aktif mampu mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam gula cair. Selain itu arang aktif berfungsi menghentikan aktivitas enzim. Tahap itu disebut pemucatan. Setelah itu lakukan penyaringan untuk memisahkan gula cair dengan karbon aktif dan endapan kotoran. Penyaringan bertujuan menghasilkan gula cair dengan tingkat kejernihan 93%. Bila belum tercapai, ulangi kembali pemucatan dan penyaringan.

Gula cair kemudian dilewatkan ke dalam tabung berisi penukar ion. Tabung penukar ion terdiri atas 3 tabung masingmasing berisi resin kation, anion, dan campuran anion serta kation. Tujuannya untuk mengikat dan memisahkan ion-ion logam dan kotoran yang larut dalam gula cair.

Tahap terakhir adalah evaporasi. Produsen memasukkan gula cair yang telah melewati tabung penukar ion itu ke dalam evaporator untuk meningkatkan kemurnian gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC. Indikasi evaporasi selesai ketika gula cair berhenti menetes dari pipa evaporator. Dengan pemurnian itu kadar kemanisan gula cair meningkat, semula 30-36o briks menjadi 60-80o briks.

Skala rumahan

Selama ini gula cair banyak digunakan oleh industri pangan dan farmasi. Gula cair sebagai substitusi sukrosa dalam pembuatan es krim, sirup, pemanis makanan dan minuman, serta obatobatan. Menurut Richana penggunaan gula cair asal singkong pati lebih sehat ketimbang pemanis sintetis. Beberapa produsen gula cair adalah PT Sumber Manis, PT Sugarindo Inti, dan PT Indo Fructose Abadi. Richana mengatakan dengan teknologi enzimatis, produsen skala rumahan memungkinkan untuk memproduksi gula cair.

‘Pada musim hujan perajin tapioka sulit mengeringkan tepung sehingga mutu pati jelek dan harga jual rendah. Bila dimanfaatkan untuk gula cair, maka pati basah dapat langsung diolah dan memiliki nilai tambah lebih tinggi,’ kata doktor Teknologi Bioproses alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Harga gula cair dengan kemanisan 80o briks, misalnya, Rp5.000. Sedangkan biaya produksi Rp3.000 per kg. Menurut Ade Iskandar, produsen olahan singkong di Bogor, Jawa Barat, prospek gula cair sangat bagus. Sebab, kebutuhan industri sangat tinggi dan selama ini masih harus mengimpor. (Ari Chaidir)

Gula Asal Singkong

  1. Larutkan tepung tapioka dalam air dengan perbandingan 1 : 3.

Panaskan pada suhu 95-105oC dan tambahkan 0,8 ml enzim alfa-amilase per kg pati sembari diaduk rata.

  1. Setelah 60 menit pemanasan, dinginkan larutan hingga bersuhu 60oC. Untuk memastikan pati telah terdegradasi menjadi dekstrin dilakukan uji iod dengan meneteskan iodium pada sampel bahan. Bila iod berwarna cokelat berarti semua pati sudah terdegradasi menjadi dekstrin. Kemudian tambahkan 0,8 ml enzim amiloglukosidase per kg pati. Diamkan larutan selama 76 jam hingga menjadi cairan gula.
  2. Tambahkan 0,5-1% arang aktif per kg pati ke dalam gula cair untuk mengikat, menggumpalkan, dan mengendapkan pati, serta menghentikan aktivitas enzim. Saring larutan untuk memisahkan gula cair dari karbon aktif dan kotoran sehingga tingkat kejernihan gula 93%. Bila belum tercapai, ulangi kembali pemucatan dan penyaringan.
  3. Alirkan gula cair melalui tabung berisi penukar ion untuk mengikat dan memisahkan ion-ion logam dan kotoran dalam gula cair. Tabung penukar ion terdiri atas 3 tabung masing-masing berisi resin kation, kation, dan campuran anion dan kation.
  4. Evaporasikan gula ke dalam evaporator untuk meningkatkan kadar kemurnian gula. Proses evaporasi berlangsung pada suhu 50-60oC. Sekarang pemanis asal singkong itu pun siap pakai.***    sumber:  http://www.trubus-online.co.id/mod.php?
Oleh: mukidi | November 27, 2009

Jabon di kebun Ku

Orang tempatku selalu menyebut tegalan, yaitu sebutkan bagi ladang.  Ladang atau kebun yang sudah aku tanami sengon, dan tepatnya sekarang sudah 2 tahun. Pertumbuhan sengon ada yang baik, dan tentunya juga ada yang pertumbuhannya kurang.

Sengon yang mati ataupun jarak tanamnya masih agak longgar aku sulam dengan jabon. Tepatnya hari minggu, 15 November 2009 aku, anak dan istriku menanam jabon sejumlah 40 batang di lahan sekrincing nama blok ladang tersebut.

Sejak tanggal tersebut aku belum kembali ke ladang, baru sempat pada tanggal 27 November 2009, sempat ke ladang. Pergi ke ladang dengan teman, sekalian membawa pohon duku 2 batang dan 2 batang pisang. Semua pohon Jabon, duku dan pisang pemberian dari CV. Piranti Works yang produksi radio kayu.

Usai tanam duku dan pisang aku sempatkan melihat jabon yang pertama aku tanam. Wah pertumbuhannya baik sekali, kalau di daerah Margolelo Kandangan dalam waktu 15 hari, jabon ketingginya hampir 7 cm, itu pun membuat aku terkejut. Namun di kebunku aku lihat pertumbuhan jabon ketinggiannya sekitar 3 cm, lha aku lupa bawa penggaris ha ha.

Waktu aku tanam jabon, calon daun baru akan muncul. Dalam waktu kurang lebih 12 hari sejak tanam bakalan daun sudah jadi daun lebar dan ruasnya batangnya kurang lebih tambah 3 cm. Boleh kok lihat dan bedakan ya dalam poto yang ketika aku tanam dan poto yang sudah tumbuh, coba bayangkan kalau itu benar dalam waktu 5 tahun sudah berapa ya tinggi dan diameternya. Wah ini bisa jadi tabungan pendidikan anak

Jabon yang aku tanam dengan anak ku dalam poto adalah awal aku tanam, sedangkan poto jabon sendiri adalah jabon sudah tambah tinggi 3 cm. silakan amati perbedaannya e lha kok malah perintah

Tulisan Sebelumnya »

Kategori