Ditulis dalam poto
Kopi Arabika merupakan kopi yang hidup didataran tinggi, termasuk di dalam hutan lindung Sumbing Sindoro ( SuSi ). Kopi Susi penulis menyebutnya, ditanam sekitar tahun 2001, namun karena kebijakan di Perhutani dirubah, sehingga kopi tersebut tidak dirawat dengan baik.
Kebijakan gebrus jalur kerjasama perhutani dan Pemda, pembukaan lahan lindung untuk tanaman palawija pada tahun 1997, jadi tanaman musim tembakau, dan dilain sisi justru orang-orang yang punya duit untuk bisa mengerjakan lahan tersebut. Disisi lain secara ekologi kerusakan lahan semakin parah, air juga sulit waktu itu.
Tahun 2001 meluncur program PHBM didalam hutan lindung, masyarakat tidak boleh mengerjakan lahan dengan tanaman semusim. Namun diperbolehkan dengan tanaman keras, alternatif pilihan adalah kopi arabika. Karena masyarakat kurang begitu respon dengan kopi, sehingga asal tanam namun selalu berdampingan dengan tembakau.
melihat perkembangan seperti itu, perhutani juga mengambil kebijakan untuk menghentikan total tanaman semusim di hutan lindung. Tahun 2004 kebijakan itu diambil, dan masyarakat sekitar hutan lindung SuSI tidak masuk dan meninggalkan begitu saja kopi yang sudah ditanam.
Luasan ribuan hektar kopi arabika ditinggalkan begitu saja, belum lama penulis melihat ke lokasi ada sebagian yang dirawat, dan kebanyakan tidak dirawat. Namun ketika kopi mulai panen, jadilah rebutan hasil panen kerena tanaman kopi tidak berstatus.
Dari hasil diskusi dengan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, yaitu sebuah lembaga yang mengelola pangkuan desa hutan dan sudah berbadan hukum. “masyarakat ada yang mau merawat dan sebagian besar tidak mau merawat, seharusnya perlu pendampingan kontiyu dari semua pihak, agar masyarakat mau merawat kopi yang sudah ditanam,” jelasnya.
Ketika Asper perhutani diajak diskusi oleh penulis sangat respon untuk perawatan kopi yang didalam hutan lindung, asal jangan sampai menanam tanaman semusim, cuma merawat kopi saja. Artinya bisa disimpulkan bahwa perhutani membolehkan masyarakat untuk merawat kopi SUSI, tergantung masyarakat setempat.
Berbicara pasar sudah terbuka lebar, harga lumayan, bahkan pantau penulis harga kopi gelondong arabika merah sampai 5000 rupiah per kilo, kalau petani dilahan lindung memiliki tanaman 500 batang dengan per batang menghasilkan 4 kg, sudah berapa ton per panen. Apakah mereka tidak berfikir ketika menanam kopi, padahal sekarang tinggal panen dan merawat kok ditinggalkan yaaaa…. ayooooo dampingi petani untuk mengelola kopi dengan benar.
Ditulis dalam Artikel
Catatan tulisan ini sudah lama sebenarnya kisah perjalanannya, karena sudah hampir 2 bulan dari lokasi. Menjalankan tugas untuk berbagai pengalaman merupakan hal yang sangat saya senangi sejak mulai bergelut di organisasi kemasyarakat.
Bertugas ke Desa Sarimukti Pasir Wangi Garut, merupakan amanah dari Piranti Works, http://magno.design-com tempat aku bekerja, belajar dan menimba berbagai pengalaman. Kampung halaman jogyakarta yang meminta untuk berbagai dengan komunitas Sarimukti. o ya Kampung halaman http://www.kampunghalaman.org yang mengantarkan aku sampai kesana.
Sebuah komunitas sekolah remaja, yang dirintis oleh teman-teman Yapemas dan Serikat Petani Pasundan, hingga sekarang sudah sampai kelas 3 SMK Sarimukti. SMK Pertanian ini sangat fleksibel sekolahnya. Artinya fleksibel disini kadang anak ada yang masuk sekolah, namun karena pekerjaan orang tua diladang banyak anak-anak juga bantu orang tua dulu diladang. Bahkan ada juga yang harus bekerja ke kota terlebih dahulu ikut orang tuanya.
Kawasan pertanian Sarimukti, sangat subur, masyarakat disana bertanam kentang dan jenis sayuran yang dikembangkan kobis, dan cabai. Tanaman konservasi ditanam disana adalah eucalyptus, masyarakat disana menanamnya bibitnya cari dihutan. Dan mereka menanamnya dilahan milik sendiri, untuk apa nantinya juga belum tahu, paling untuk kayu pertukangan kata salah satu pengurus sekolah remaja Sarimukti.
Anak-anak Sekolah Remaja Sarimukti pengembira, mempunyai semangat tinggi untuk sekolah. Beberapa anak Sekolah Remaja Sarimukti ketika ditanya hanya segelintir orang yang ingin jadi petani, tapi ketika diskusi banyak tentang masalah pertanian dan peluangnya kedepan, ya tambah beberapa orang yang ingin menjadi petani.
Yang unik disekolah ini adalah anak-anak sekolah selalu berfikir bagaimana untuk bisa memandirikan sekolahnya. Sebuah tawaran yang didiskusikan mengelola bahan pertanian yang dibutuhkan masyarakat sekitar desa tersebut. Diskusi ini sengaja aku lemparkan, seandainya bapak-bapak anak didik Sekolah Remaja Sarimukti, bisa membeli bibit tanaman sayuran di sekolah tersebut maka sudah pasti sekolah akan bisa mandiri dan berjalan dengan baik. Tinggal kapan mau mulainya.
Diskusi berjalan juga diluar kelas, pada kebun praktek pertanian. Walau hanya beberapa bedeng namun anak mencoba menanam jenis sayur macam-macam. Mereka melakukan pengamatan, apa yang ditemukan dilapangan mulai dari awal pembersihan lahan hingga mau panen.
Luar biasa sekolah remaja ini, ayo jangan pernah menyerah untuk bisa mandiri. Dan jangan pernah menyerah bahwa petani itu juga bisa sejahtera, tergantung bagaimana mengelola lahan yang sempit tapi hasilnya bisa luar bisa. Selamat bekerja dan mewujudkan mimpi untuk mandiri sekolah remaja Sarimukti.
Ditulis dalam Artikel
Siapa yang tidak tahu dengan luwak, sang pemakan buah kopi merah. Kopi luwak itu orang menyebutnya. Pantas saja kalau petani kopi dan yang tidak mempunyai kopi pun sekarang berburu luwak untuk dipelihara. Tak ketinggalan petani di Desa Wonotirto, Bulu Temanggung.
Desa di lereng Gunung Sumbing ini, baru merintis menanam kopi arabika, jenis line es. Karena mendengar kalau luwak laku dijual, para petani berburu luwak dengan cara dibuatkan perangkap luwak. Mahalnya harga luwak per ekor ada yang mau membeli 300.000 rupiah, petani semangat menangkap dengan berbagai cara, namun luwak masih hidup.
Salah satu petani yang berhasil menangkap luwak adalah Rusdi, “saya hanya mencoba, dan tertarik ketika untuk memelihara, siapa tahu nanti bisa dikembangkan atau dikawinkan jadi tambah banyak luwaknya”, jelasnya.
Tidak hanya Rusdi yang telah berhasil menangkap luwak, petani lain juga ada. Kalau Rusdi menangkap luwaknya perangkap dipasang dekat pohon kopi sudah buah merah, didalamnya dikasih pisang. Harapan petani di Wonotirto akan bisa menghasilkan kopi luwak, semoga impian menjadi kenyataan.
Ditulis dalam Artikel
Kalau Anda pernah digigit semut ketika memanjat pohon mangga atau nangka, mungkin Anda akan kesal oleh serbuan semut-semut yang begitu gencar. Seringkali gigitannya membuat kita mengaduh-aduh. Serangga kuning & ramping ini membangun sarangnya di daun-daun. Jumlah mereka bisa mencapai ratusan, mempunyai teritori & terkenal agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Itulah semut Rangrang (Oecophylla smaragdina). Semut Rangrang bukan sembarang semut. Mereka unik dan berbeda dari jenis semut lainnya. Manusia telah menggunakan jasa mereka dalam perkebunan berabad-abad yang lalu. Tercatat, sekitar tahun 300 Masehi di Canton (China), semut ini digunakan untuk mengusir hama pada tanaman jeruk. Orang mengambil sarang-sarang semut ini dari hutan, memperjualbelikannya, lalu meletakkannya di pohon-pohon jeruk jenis unggul. Teknik yang sama tetap dilakukan sampai abad ke-12, dan masih diterapkan di selatan China sampai saat ini. Di perkebunan kopi di Lampung, kita dapat menemukan koloni semut ini bersarang di daun-daun kopi. Ternyata, pada tanaman kopi yang ditempati sarang ini lebih baik keadaannya daripada tanaman yang tidak ditempati semut Rangrang. Produksi kopi pun jadi lebih meningkat. Para pakar serangga di Ghana telah menggunakan jenis semut Rangrang Afrika (Oecophylla longinoda) untuk mengendalikan hama tanaman cokelat. Kehadiran semut ini ternyata mampu mengurangi dua macam penyakit serius yang disebabkan oleh virus dan jamur, yaitu dengan jalan menyerang dan membunuh kutu daun yang menjadi penyebar penyakit ini. Kutu daun sangat merugikan, karena menghisap cairan tanaman sekaligus memakan jaringannya. Cara pengendalian hama seperti ini kita kenal sebagai “biological control” dan ini merupakan contoh tertua dalam sejarah pertanian. Biokontrol dan Bioindikator Penggunaan semut Rangrang sebagai biokontrol ternyata sudah dilakukan pula oleh sebagian penduduk Indonesia, meskipun tidak besar-besaran. Misalnya jika pohon jambu atau pohon mangga di pekarangan terserang hama, mereka akan memindahkan semut-semut Rangrang ke pohon tersebut. Sebenarnya bukan itu saja manfaat yang diberikan semut Rangrang kepada manusia. Dengan sifatnya yang sangat peka terhadap perubahan udara, manusia dapat menggunakan semut ini sebagai indikator keadaan udara di suatu lingkungan. Semut Rangrang menyukai lingkungan yang berudara bersih. Jangankan asap pabrik atau asap kendaraan bermotor, asap yang berasal dari pembakaran sampah di kebun saja dapat membuat mereka menyingkir. Tak heran, jika di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya kita semakin sulit menemukan sarang mereka di pepohonan. Adakalanya jarang pula kita mendapati mereka di daerah perkebunan. Karena sekarang pemberantasan hama dengan pestisida lebih banyak digunakan, sehingga bukan saja hama yang mati tetapi banyak serangga lain yang berguna turut terbunuh. Belum lagi perburuan yang dilakukan manusia terhadap semut Rangrang. Banyak orang mengambil sarang-sarang mereka untuk mendapatkan anak-anak Rangrang (“kroto”) sebagai makanan burung peliharaan. Tentunya hal ini akan menjadikan kian menyusutnya populasi semut Rangrang. Padahal keberadaan semut ini penting sebagai musuh alami serangga hama, sekaligus sebagai indikator biologis (hayati) terhadap kualitas udara di suatu daerah. Ratu Dilindungi Mengenal kehidupan serangga yang berjasa ini memang cukup mengesankan. Serangga sosial ini membuat sarang di kanopi hutan-hutan tropis sampai kebun-kebun kopi maupun cokelat. Mereka membentuk koloni yang anggotanya bisa mencapai 500.000 ekor, terdiri atas ratu yang sangat besar, anak-anak, dan para pekerja merangkap prajurit. Semuanya betina, kecuali beberapa semut jantan yang berperan kecil dalam kehidupan koloni. Semut-semut jantan itu segera pergi jika telah dewasa untuk melangsungkan wedding fight yaitu terbang untuk mengawini sang ratu, lalu mereka tidak kembali lagi ke sarangnya. Di antara anggota koloni, yang paling giat adalah kelompok pekerja. Mereka rajin mencari makan, membangun sarang, dan gigih melindungi wilayah mereka siang dan malam hari. Sekitar setiap satu menit, salah satu pekerja memuntahkan makanan cair ke dalam mulut ratu. Mereka menyuapi ratu dengan makanan yang telah dilunakkan sehingga memungkinkan sang ratu menghasilkan ratusan telur per hari. Jika ratu telah bertelur, para pekerja akan memindahkan telur-telur itu ke tempat yang terlindung, membersihkannya, dan memberi makan larva-larva halus jika telah menetas. Semut Rangrang dikenal pula sebagai senyum penganyam, karena cara mereka membuat sarang seperti orang membuat anyaman. Sarang mereka terbuat dari beberapa helai daun yang dilekukkan dan dikaitkan bersama-sama membentuk ruang-ruang yang rumit dan menyerupai kemah. Dedaunan itu mereka tarik ke suatu arah, lalu dihubungkan dengan benang-benang halus yang diambil dari larva mereka sendiri. Para pekerja bergerak bolak-balik dari satu daun ke daun lainnya membentuk anyaman. Makhluk asing yang mencoba menyusup ke daerah sarang, akan mereka halau dengan sengatan asam format yang keluar dari kelenjar racun mereka. Kalau semut jenis lain sengaja membiarkan bahkan memelihara kutu daun hidup dalam wilayah kekuasaan mereka, maka semut Rangrang justru sebaliknya. Mereka berusaha mati-matian menyingkirkan serangga lain yang hidup pada pohon tempat sarang mereka berada. Oleh karena itu, jika kita membedah sarang mereka seringkali kita menemukan bangkai kumbang atau serangga lain yang lebih besar dari semut ini. Itulah keistimewaan yang dimiliki semut Rangrang sehingga membuat mereka memegang arti penting dalam pengendalian hama secara alami. Cukup sederhana, namun tidak berisiko terhadap lingkungan seperti halnya jika kita menggunakan insektisida kimia. Pesan Kimiawi Semut ternyata mempunyai semacam kelenjar yang menghasilkan cairan khusus yang digunakan untuk menandai wilayah mereka. Kelenjar itu disebut kelenjar dubur. Cairan khusus yang dihasilkannya (disebut pheromone) mereka sapukan ke tanah dan hanya para anggota sarang saja yang dapat mengenali baunya. Jadi semut penganyam ini menggunakan pesan kimiawi untuk menuntut rekan satu sarang menuju daerah baru mereka. Tentu saja jejak bau itu tidak hanya mereka tinggalkan ketika mencari daerah baru dan ketika mempertahankannya, tetapi juga digunakan saat mereka mencari makan. Jika seekor semut menemukan seonggok makanan, dia akan mengerahkan teman-temannya untuk mengangkuti makanan itu ke sarang. Kelenjar duburnya akan meninggalkan jejak bau di sepanjang jalan antara sarang dan lokasi temuan itu. Ketika berpapasan dengan temannya, semut ini memberi rangsangan dengan memukulkan antenanya seraya memuntahkan sedikit makanan yang ditemukan tadi ke mulut rekannya itu.
sumber http://www.organicindonesia.org
sumber http://www.lestarimandiri.org
sumber : http://www.organicindonesia.org
sumber : http://www.organicindonesia.org
Ditulis dalam Artikel
Setiap petani sekarang lagi ngetren dengan kelompok taninya, namun Maju Mapan yang merupakan kelompok tani baru ini bisa dikatakan luar biasa. Kenapa luar biasa, Kelompok ini berani tidak ikut GAPOKTAN. Namun dia bisa menjalin kerjasama dengan pihak swasta.
Kerjasama dengan Piranti Works Temanggung dalam penanaman kopi arabika. Maju mapan tidak seperti kelompok tani lainnya. fungsi organisasi ini berjalan dengan betul, mulai dari pengontrolan penanaman kopi, hingga pertemuan rutin.
fungsi pengontrolan yang dilakukan oleh pengawas dibagi dalam seminggu 3 sampai 4 lahan milik petani yang tanam kopi. Dari temuan dilapangan dipaparkan pada acara pertemuan rutin setiap Jum’at legi.
Program yang dikerjakan oleh Maju Mapan ini, di dukung juga oleh Panasonic. Dengan program minimal 5 tahun baru akan nampak hasil kopinya. Maju Mapan beranggota 15 orang dengan jumlah kopi yang ditanam 8525 batang. Siapa lagi yang ingin seperti kelompok Maju Mapan
Ditulis dalam Artikel
Menamam itu menabung, dan ini menjadi slogan salah satu instansi Pemerintah. Namun dalam kenyataannya, apakah slogan itu berjalan? mudah-mudahan berjalan, tapi kalau tidak berjalan kenapa?. Ada yang beranggapan slogan tinggal slogan, seolah olah tidak mempunyai tanggungjawab moral.
Slogan harus dimulai dengan tekad, dan itu melekat pada manusia dalam instansi apapun. Slogan menanam itu menabung, bahkan ada lagi kecil menanam dewasa memanen, harusnya program tersebut bisa masuk ke sekolah. Ketika program itu sudah masuk ke sekolah, salah satu untuk merubah prilaku siswa, jadi senang dengan dunia tanam menanam adalah pola contoh guru.
Digugu lan ditiru, hendaknya selalu mengingatkan kepada semua guru dalam kegiatan sekolah. Artinya kegiatan sekecil apapun dalam sekolah, apalagi kegiatan yang bertema lingkungan, berhasil atau tidaknya program guru sangat berpengaruh.
Lalu bagaimana kita sebagai orang tua dalam menyiasati slogan-slogan yang hanya kadang hanya gincu bibir saja. Apakah membiarkan saja seolah tak tahu, atau menerjemahkan dengan bahasa kita yang mudah dipahami oleh semua pihak.
Menanam itu menabung terlihatnya sepele, tak ada beban ketika kita mengucapkannya. Begitu melihat lahan kritis yang ada, bahkan isu lingkungan yang marak terjadi. banjir, erosi bahkan tak kalah menarik pemanasan global. Siapakah yang menyebabkan itu, tak lain saudara-saudara kita, menebang pohon tak beraturan.
Apakah kita mau dikatakan tidak bermoral, seperti saudara yang menebang tidak beraturan. Ataukah seperti perusahaan yang tiap hari membutuhkan kayu 40 truk, tapi kalau diajak menanam nanti dulu. Tentunya kita akan bilang tidak.
Ketika kita mau beraktivitas menanam, hal yang akan kita dapatkan adalah udara, air, tentunya tak kalah penting mengurangi pemanasan global. Lalu bagaimana hubungannya dengan judul tulisan diatas, sederhana bagaimana kita bisa merancang dengan menanam tapi untuk kegiatan sekolah bagi anak-anak kita.
Bahkan bagi generasi muda pun sebenarnya sangat bisa, merancang menanam itu kegiatan dihari tua. Atau bagi orang tua menata tanaman untuk kegiatan sekolah anaknya, menanam dirancang pas panen ketika anak masuk sekolah. Menanam sengon misalnya, jenis pohon ini bisa dipanen pada umur 5 – 6 tahun, ketika anak masih berumur 1 tahun bisa menanam 10 pohon untuk persedian anak masuk Taman kanak- kanak. Begitu juga ketika anak mau masuk sekolah dasar, bisa dirancang dengan menanam pohon.
Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai lahan, pola bagi hasil atau kerjasama dengan petani yang mempunyai lahan. Atau usaha bersama untuk perbaikan lahan kritis sekaligus menjadi tabungan pendidikan. Kerjasama lingkungan yang saling menguntungkan ini jarang orang berfikir kesana.
Mungkin pola kerjasama ini akan bisa meningkatkan kesejahteraan petani, dan pada akhirnya juga pendidikan anak petani. Tentunya bila petani dan anak petani berpendidikan akan berfikir dalam mengelola lahan menjadi lebih baik. Lahan akan menjadi lebih hijau dengan hamparan pohon yang mempunyai nilai ekonomi, konservasi sekaligus tabungan pendidikan dari lingkungan.
Mahalnya kebutuhan sekolah mulai dari buku, uang jajan hingga transportasi. Semuanya perlu penataan terutama bagi petani – petani tegalan maupun petani daerah penghasil kopi. Pengalaman yang terlihat dilapangan bahwa ketika panen hasil pertanian, kadang dalam seketika itu semua dihabiskan tanpa berfikir panjang untuk kebutuhan jangka panjang.
Menata dan merubah pola fikir, menanam untuk tabungan pendidikan perlu kerja keras bagi semua pihak. Mulai dari instansi yang bergerak dalam dunia perkebunan, kehutanan dan pertanian, hingga tak kalah pentingnya instansi pendidikan atau sekolah. Bagaimana sekolah mengarahkan anak didiknya untuk menabung dari 100 rupiah sehari, dalam waktu satu bulan sudah bisa untuk membeli bibit sengon atau jabon yang siap tanam.
Artinya dalam waktu satu tahun anak sudah bisa menanam 10 hingga 12 batang pohon yang dalam 5 tahun kedepan bagi anak kelas satu SD, sudah bisa persiapan untuk masuk SLTP. Kalau tidak dimulai sekarang, atau kalau tidak dibiasakan sejak usia dini untuk memperkenalkan dengan menanam kapan lagi bisa menabung pohon, dan akhirnya akan jadi tabungan pendidikan. Tak lain selamatkan lingkungan dengan menanam pohon sekaligus merupakan alternatif tabungan pendidikan.
artikel ini dimuat di tabloid lontar Bulan November 2010
Lontar Tabloid Pendidikan dan umum
Ditulis dalam Artikel
Padepokan tani itulah namanya, sebuah lembaga yang terletak di jalan Yasnaya Polyana No.1 Dusun Peninis Windujaya Kedungbateng Purwokerto Jawa Tengah. Padepokan yang diprakarsai oleh Ashoka Siahan bergerak dalam bidang pertanian, ditanah seluas 7 ha, dengan aneka tanaman keras dan buah.
Padepokan yang terletak di lereng Gunung Slamet, dari pinggir jalan nampak bagaikan hutan belantara. Begitu kita lebih mendekat ternyata terlihat bangun-bangun rumah utama dari kayu, terlihat rumah tua tapi nampak bersih. Begitu memasuki bangun tua tersebut nampak ada kesibukan sang pemakarsa padepokan Ashoka Siahan, Bayu Kurniawan, Dewi baru sibuk untuk persiapan kegiatan halal bi halal dengan petani setempat.
Menjelang malam Edi yang selalu setia mendampingi petani datang, dan dia berumah juga dikawasan padepokan tani paling depan. Edi anaknya kreatif sugadang ilmu masalah budidaya tanaman keras hingga perawatannya sampai pasca panen dia kuasai. Orang yang kecil, rambut lurus dan tinggi rata rata orang Indonesia layak dijuluki petani muda kreatif, petani pelopor. Dia selalu mempelopori kegiatan pertanian di sekitaran padepokan tani.
Padepokan tani juga mendampingi petani sayur yang menanam tanpa musim. Tidak ada ketergantungan dengan cuaca, bahkan petani dampingannya dengan hasil panennya sudah bisa menembus pasar swalayan wilayah Purwokerto dan Wonosobo, dengan sayur merk fresh.
Pagi hari melihat pemandangan memang menarik, aneka jenis tanaman terlihat disana. Nampak sekali pohon kelapa begitu banyak populasinya. Masyarakat sekitar Padepokan juga banyak yang mengembangkan kelapa, dan disadap. Salah satu petani yang sempat ditanya oleh penulis menceritakan kalau tiap hari kegiatannya menyadap terus, Dia mempunyai 17 pohon kelapa, tiap hari bisa menghasilkan gula 7 kg, dengan harga gula Rp 7.000 wah ternyata lumayan.
Beda dengan padepokan tani, kelapa tidak disadap, menurut penjelasan Dewi kalau disadap nanti hasil buah kelapanya berkurang. Kelapa yang ada di kawasan Padepokan tani dibuat VCO, yang dibawa tanggungjawab oleh mas Bayu.
Hari juga mulai siang, Edi yang bagian pertanian mengajak untuk keliling padepokan tani. Memperlihatkan jenis tanaman yang dibudidayakan mulai dari pisang dia kembangkan, dengan jaringan. Sistim jaringan adalah kalau ada pisang telah dipotong, lalu bonggolnya dicuci, dicacah yang ada mata tunasnya dikeringkan, usai itu masukkan ke polibag. Lumayan bisa laku sampai Rp 3000 per polibag.
Dari pisang menuju pembibitan Jabon dan trembesi, dengan teliti Edi menjelaskan proses penyemaian kedua jenis tanaman tersebut. Dari lokasi penyemaian jabon dan trembesi tidak begitu jauh menuju sentra nanas, konon menurut cerita bahwa nanas merupakan tanaman peninggal belanda di sana. Nanas ditanam dibawah tegakan dengan jarak tanam sekitar 1 m X 1 m, tanaman pagar untuk nanas ada pohon kantil.
Edi juga memperlihatkan kopi yang sudah disambung, dia membawa bibit dari Ambarawa sewaktu dia pulang. Kopi luar biasa besar buahnya, untuk menyiasati kopi yang ditanam biar cepat buah edi memberi bonggol kopi dari petani yang masih ada akarnya dan ditanam kembali dengan jenis kopi jawa. Sudah kopi sudah muncul tunas baru di sambung pakai kopi yang dari Ambarawa.
Setelah dilokasi kopi Edi memotong hasil cangkokan dari pohon kantil yang besar, dia menceritakan juga tentang peluang budidaya kantil serta hasil bunganya untuk apa serta kayunya. Tidak hanya itu dia juga memperlihatkan hasil ujicoba semai biji pala, dan pohon pala yang sudah berbuah.
Lalu apakah ditanah seluas 7 ha, padepokan tani dikelola sendiri? pengelola tanah dan perawatan dibuat bagi hasil dengan petani. kalau dari tanam bagi hasil 50% untuk petani, 50% untuk padepokan. Kalau petani tinggal merawat ada hitungannya sendiri.
Kalau pembaca blog ini mau kesana boleh kok sekalian belajar pertanian, seperti penulis blog ini. selamat bertani, dan jadilah petani yang maju dan mandiri, serta petani yang berjejaring.
Ditulis dalam Artikel
Belum usai suana lebaran, namun bagi lembaga masyarakat desa hutan Desa Kebondalem Bejen tetap semangat untuk belajar pertanian. Kalau ngomong masalah tanam menanam mungkin kebondalem sudah penuh dengan tanaman keras. Kopi, dengan tanaman tegakan sengon, mahoni, suren masih ada juga tanaman empon empon.
lembaga masyarakat desa hutan Desa Kebondalem 2 tahun yang lalu menerima tanaman keras dari CV. Piranti Works Kandangan Temanggung. Tanaman keras dari Piranti sebagai bentuk keperdulian perbaikan lingkungan, tanaman keras yang dibagikan waktu itu Jati dan Suren.
Tak hanya itu kegiatan yang selama ini masih berjalan dengan baik yaitu pendampingan. Kegiatan pendampingan yang dilakukan adalah melalui diskusi kelompok, yang dilakukan rutin tiap bulan. Peningkatan kapasitas petani salah satunya dengan pelatihan. Kali ini pelatihan yang dilakukan tak lain pembuatan pupuk organik cair.
Microorganisme lokal bagi petani jarang sekali tahu padahal banyak didapat disekeliling lingkungan tempat tinggal petani. Bakteri rumen sapi dibuat kali ini, namun bukan indukan yaitu mengembangkan atau pembiakan. BRS begitu orang menyebutkan berfungsi untuk menghijaukan tanaman, untuk mempercepat pembuatan pupuk organik.
Tidak hanya BRS yang dibuat, namun juga membuat bubur klorin. Bubur klorin untuk mencegah terjadikan jamur pada tanaman. ” wah kalau kita mau buat sendiri dan pakai sendiri, biaya pertanian kita akan semakin berkurang, tidak tergantung pada obat pabrik,” papar Sobirin bendahara LMDH.
Apa yang dikatakan Sobirin tentunya tidak isapan jempol.” Ini bisa kita jual nanti kalau sudah kita coba hasilnya baik dilahan. kita ajukan ke lab untuk tahu kandungan pupuk tersebut kita bisa jual. Kita harus bisa maju, dan memasarkannya, memang ini mimpi,” jelas Nurjanah ketua LMDH.
Mimpi-mimpi petani harus kita dukung, biar petani kita maju. Biar petani tidak selalu direndahkan, biar petani bisa bersaing dengan para pekerja pabrik, PNS dan lainnya. Biar anak muda juga tertarik jadi petani, dan yang jelas biar semua orang mau menghargai petani. Tanpa petani mungkin kita juga sulit makan, karena petani lah yang menanam padi
Ditulis dalam Artikel
Komentar Terakhir